Diposkan pada Cerpen

#4 “Tentang Aku Dan Dia”

Aku berada di depannya, dan aku sungguh tak dapat percaya. Apakah ini sebuah mimpi? Apakah ini adalah ilusiku? Aku tak tahu, yang pasti saat ini aku teramat sangat bahagia.
Sudah lama aku nanti saat-saat ini, akhinya pun terjadi.
Akan aku katakan apa yang selama ini aku pendam, akan ku ungkapkan semuanya. Agar perasaan hati ini menjadi lega, tanpa pernah lagi menyimpan sebuah rasa yang hingga membuat hidupku tersiksa.

Dia mengenakan gaun yang indah berwarna biru muda, warna kesukaannya. Aku tak melihat sosok sahabatku yang biasanya, ia terlihat seperti bidadari yang jatuh dari surga dan mendarat di bumi. Sangat cantik, teramat sangat cantik sampai-sampai membuatku diam termangu tak bergerak.
Sedang aku, aku memakai pakaian formal, kemeja biru muda di balut dengan jas berwarna nila. Sungguh bukan diriku yang sebenarnya. Kupikir, itulah cinta, mampu membuat seseorang melakukan apapun. Termasuk mengubah orang itu menjadi orang lain yang kadang sangat jauh berbalik dari dirinya yang sebenarnya.

Aku telah memilih sebuah tempat yang indah, restoran yang jauh dari kebisingan ibu kota. Terletak di dekat sebuah danau yang pastinya akan membuat suasana menjadi romantis.
Tak hanya itu, namun restoran di tempat ini juga terkenal akan makanan-makanannya yang enak. Tak heran bila menjadi tempat favorit orang-orang kelas atas seperti di kiri dan kananku.

Dengan kesempurnaan yang ada ini, aku akan mulai mengatakannya. Sesaat setelah aku dan dia selesai makan malam, rasa itu takkan lagi tersimpan.
Aku tak tahu apakah ia akan menerimaku ataukah menolakku, karena yang ku tahu ia hanya menganggapku sebagai seorang sahabat.
Aku juga tak tahu seperti apa bahagianya atau menderitanya di terima atau ditolak seseorang yang kita cinta, sebab aku belum pernah merasakannya, belum pernah mengalaminya.

Jantungku mulai berdebar-debar tanpa ada aturan, peluhku pun bercucuran. Wajahku panas seolah tengah terbakar, wajahku pasti memerah dan pasti akan sangat ketara. Sesungguhnya aku sangat malu jika ia menyadari tingkah anehku.

Tanganku bergetar setelah meraih bunga mawar merah yang aku sembunyikan, dan sesaat aku berikan kepadanya seraya berlutut dan berkata, “Aku mencintaimu, maukah engkau menikah denganku?” kataku seraya mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin.
Dan ia terkesiap, lalu menjatuhkan mawar yang baru saja aku berikan. Wajar saja, aku langsung melamarnya bukan menyatakan cinta untuk menjadi pacar seperti kebanyakan pria lain.
Itu karena aku ingin memiliki seutuhnya, bukan ikut hanyut dalam permainan cinta yang tidak ku tahui akhirnya.

Air matanya berkaca-kaca, ia menangis. Apa yang harus aku lakukan? Aku bertanya pada diriku sendiri. Bodohnya aku malah tetap dengan posisi berlutut seperti itu menunggu sepatah kata darinya.

“WOI!!!” teriak seseorang yang tak asing lagi di telingaku sembari ia menepuk pundakku.
Aku terkesiap sampai terlonjak, “Astaga! Apaan sih, Man. Ngagetin saya aja,” kataku.
Aku pun tersadar, “Aku sampai melamun,” kataku dalam hati.
Rupanya orang yang menepuk pundakku ialah Rahman, salah seorang pramusaji di restoran mewah ini, “Jadi ngalamar neng itu gak? Ntar keburu dilamar orang lho, mas.” kata Rahman seraya menujuk ke arah sahabatku itu.
“Ja… Jadi kok.” kataku terbata.
“Ya udah, sok atuh!” kata Rahman antusias.

Aku memberanikan diri, melangkahkan kaki meski ragu. Barang kali Rahman benar, siapa tahu ada orang lain yang suka padanya, mengincarnya dan segera menikahinya.
Atau dia yang suka pada seseorang, orang itu lebih tampan dariku, lebih kaya dan sempurna. Dan bayangan-bayangan tentang kekasih sahabatku itu terus ada dalam benakku dan aku benci itu.

“Buruan!!!” teriak Rahman seraya mendorongku.

Aku menoleh ke arah Rahman dengan menyeringai, sebelum kemudian berjalan ke arah sahabatku yang sudah sejak sedari tadi menungguku.
Aku menyunggingkan bibir, melukis senyuman terindah yang lebih indah dari yang pernah aku lakukan.

Lalu aku melambaikan tangan seraya menyapa, “Hi!” kataku.
Ia melihat ke arahku dan melambaikan tangan pula, “Halo!” kata dia.

Aku duduk di depannya, aku mencubit perutku sendiri dan kali ini terasa sakit. Berarti ini nyata, bukan mimpi, ilusi atau lamunan seperti yang ku alami tadi.

Beberapa saat kemudian, Rahman dan seorang pramusaji lainnya pun datang menghampiri.
Mereka mengantarkan makanan dan minuman yang tadi aku pesan. Aku melihat ke arah Rahman, dia mengedipkan sebelah matanya berkali-kali seolah memberiku semangat.
Sesaat kemudian kedua pramusaji itu pergi dan kini hanya ada aku dan dia.
Ingin sekali aku segera menghabiskan semua makanan ini dan segera mengungkapkan perasaanku. Lagi pula semua makanan ini enak, aku pasti akan cepat menghabiskannya.

Semoga dewi fortuna melihat ini dan memberikan aku keberuntungan, lalu aku dan dia akan bersama bukan lagi sebagai dua orang sahabat, namun sepasang kekasih.

Selesai

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s