Diposkan pada Cerpen

#5 “The Mirror Of Gemini”

Mengunjungi tempat-tempat bersejarah memang sudah menjadi agenda bulanan kelas, yang kali ini adalah mengunjungi sebuah museum di sebuah kota tua.
Awalnya segala sesuatunya berjalan biasa saja, hingga pada saat akan pulang, salah satu murid tak menyahut ketika nomor absennya disebut dan ia dinyatakan tidak ada di sana atau bisa dikatakan hilang, murid tersebut ialah Adri.

Pak Bayu adalah wali kelas di kelas dengan salah satu muridnya Adri ini, dan ia menjadi orang yang paling khawatir atas hilangnya salah satu murid itu, “Bagaimana ini, pak?” tanya pak Bayu kepada penjaga museum.
“Sabar, pak. Tim kami tengah melakukan pencarian,” jawab penjaga museum tersebut.
Sesaat, beberapa orang menghampiri pak Bayu dan penjaga museum itu, “Lapor, pak! Kami sudah mencari ke semua ruangan, namun anak itu tidak kami temukan.” kata orang tersebut.
“Bagaimana kalian ini? Cari dengan benar, gak mungkin gak ketemu. Ayo cari lagi!” kata sang penjanga museum.

Tim pencari itupun kembali menelusur tempat demi tempat, ruangan demi ruangan meski mereka teramat sangat yakin bahwa mereka memang tak menemukan apa-apa saat tadi mencari.

“Permisi, saya juga akan ikut mencari,” pamit penjaga museum pada pak Bayu.

Sementara itu di dalam bis…

“Ini sudah terlalu malam,” kata salah satu murid.
“Iya, benar.” murid lainnya menambahkan.

Dan para murid itu saling bergumam, ada juga yang bercengkerama dengan rekannya seolah tak terjadi apa-apa, namun kebanyakan dari mereka menggerutu.

“Adri itu kemana sih?”
“Apa kita akan menunggunya sampai ketemu?”
“Aku sudah ngantuk,”
“Aku lapar,”
“Aku ingin pulang,” kata salah satu murid sembari terisak.

Beberapa saat sebelumnya…

Adri tetap masuk ruangan berlogo gemini itu meski di depan pintu tertulis “Dilarang Masuk Bagi Yang Berzodiak Gemini,” namun Adri justru menjadi sangat penasaran pada ruangan itu, maka masuklah ia ke dalam ketika tidak ada seseorang pun yang memperhatikan.
Di dalam ruangan seluas 10×10 meter itu tak ia temukan apapun, selain dinding bercat putih polos dan sebuah cermin yang terletak di pojok ruangan.

Adri pun mendekat, “Apa itu?” tanya Adri pada dirinya sendiri.

Ia kemudian berjalan ke arah cermin itu, di awal memang tak terjadi apa-apa, namun ia mulai menyadari bahwasanya ada keanehan pada cermin tersebut. Misal ketika bayangan dirinya tiba-tiba saja tersenyum sedang dirinya tidak, hingga Adri dibuat ketakutan ketika bayangan di cermin melepas kaca mata sedang Adri masih diam berdiri tanpa bergerak.
Jantung Adri berdebar kencang, peluhnya bercucuran, nafas tak beraturan dan kini tungkainya lemas namun tak segera membuatnya jatuh. Ingin sekali ia lari, namun entah kenapa kakinya tak dapat digerakkan.

“Ada apa ini? Kenapa aku tak dapat bergerak?” gumam Adri.

Suasana semakin mencekam ketika bayangan dirinya keluar dari cermin dan berjalan mendekat padanya. Bayangan itu sangat mirip dengan Adri, hanya saja ia tak memakai kaca mata, dasi kupu-kupu juga tak berpenampilan cupu seperti Adri.

“Sekarang adalah giliranku,” kata bayangan itu.

Tubuh Adri sudah tak kaku lagi, dan ia bisa mengerakannya. Namun ruangan yang tadinya luas berubah mengecil, ia juga melihat bayangannya sudah ada jauh hampir mendekati pintu.

“Tunggu!” teriak Adri.
Bayangan itu menoleh, “Siapa kamu?” tanya Adri.
“Aku adalah dirimu yang baru,” jawab bayangan itu.

Sesaat Adri tersadar pada keanehan ini, ruangan mengecil dan bayangan dirinya malah dapat berjalan jauh. Ia akhirnya sadar bahwa ia ada di dalam cermin, beberapa kali Adri mencoba menembus cermin itu, namun tak bisa.

“Kau tinggalah di cermin itu, karena dirimu yang baru telah lahir.” kata bayangan.

Sesaat kemudian bayangan itu mengarahkan tangannya ke arah cermin lalu mengatupkannya, sesaat kemudian Adri mulai memudar.

“Tidak!!!” teriak Adri.

Di tempat lain…

“Aduh, pak! Pulang aja yuk, sudah malam dan sudah pada capek juga ini murid-murid anda,” ajak sang supir bis.
“Ya, sudah. Mau bagaimana lagi, kita pulang saja, pencarian kita lanjutkan besok.” kata pak Bayu.
Hanya sesaat setelah supir dan pak Bayu masuk, tiba-tiba seseorang murid berteriak, “Itu Adri!!!” teriak murid tersebut.

Semua orang pun langsung menoleh ke sumber suara yang murid tersebut tengah melihat ke samping mobil, Adri berjalan menuju ke bis.

Sejurus kemudian pak Bayu langsung menghampiri Adri, “Kamu kemana aja, Dri? Ya Allah…” tanya pak Bayu.

Namun pandangan mata Adri dingin dan kosong, ia melewati pak Bayu dan duduk di kursi. Sepanjang Adri berjalan, mata manapun tertuju kepadanya yang biasanya bahkan akan acuh tak peduli.
Itu lantaran kini Adri sangat jauh berbeda, ia tak memakai kaca mata lagi namun dapat berjalan menuju kursinya tanpa menabrak yang ditemuainya, gaya rambutnya juga menjuntai ke atas tak seperti yang biasa hanya di belah tengah, juga tentang pakaian yang dikenakannya, ia sungguh tak terlihat bila pernah menjadi cupu.
Adri telah berubah 180 derajat.

Selesai

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s