Diposkan pada Cerpen

#6 “Akhir Sebuah Pengorbanan”

Ruangan yang megah, hidangan yang menggugah, juga alunan musik yang indah. Namun hati Desi tak di tempat itu, melainkan kini bebas menjelajah di luaran sana. Tak hanya itu, entah mengapa air mukanya terisi oleh amarah yang membuatnya terlupa akan hal-hal mewah yang tengah ia jelangi.

“Kamu kenapa,? Kok tumben diem aja,” tanya Deva.
“Aku mau kita putus.” gumam Desi.
“Apa!” kata Deva dengan nada yang meninggi lantaran terkejut.
“AKU, MAU, KITA, PUTUS.” kata Desi.
Kedua tangan Deva yang sedari tadi asyik mencincang daging, kini memegang kedua tangan Desi, “Kamu bercanda kan?” tanya Deva.
“Gak. Aku serius kok, aku sudah tahu siapa kamu sebenarnya.” jawab Desi tegas.
“Maksud kamu?” tanya Deva lagi.
“Kamu tahu sendiri maksud aku itu apa.” kata Desi seraya bangkit dan meninggalkan Deva.

Deva mengejar Desi hingga ke parkiran, beruntung lantaran Desi masih ada di sana.

Kembali Deva memegang tangan Desi, “Maksud kamu apa, Des?” tanya Deva.
“Lepaskan!” teriak Desi memberontak.
“Kamu itu penipu, semua yang ada di hidup kamu palsu,” kata Desi sembari terisak.
“Kamu bukan anak pengusaha, melainkan anak seorang pemulung. Kamu hidup di lingkungan kumuh, bukan di komplek perumahan mewah seperti yang sering kamu ceritakan. Itulah alasan mengapa aku selalu tidak bisa datang ke rumah kamu, karena kamu tak pernah punya rumah mewah itu.” celoteh Desi.
“Dan soal mobil itu,” kata Desi sembari menujuk ke mobil mewah di pojok ruangan.
“Kamu pinjem dari temen kamu, Caca adikku pernah gak sengaja melihat mobil itu di pakai orang lain. Dan ternyata orang itulah pemilik asli dari mobil yang katanya milik kamu itu. Tentang cinta, aku tak yakin rasa itu benar ada, semua ini pura-pura, kamu yang merencanakannya kamu sungguh tega.” kata Desi seraya menghapus air mata yang berlinangan.
“Soal itu semua, aku mengaku aku salah. Semua memang hanyalah sebuah sandiwara. Tapi soal rasa cintaku, itu nyata adanya, terlahir dari jantung hati meski kini kamu sudah tahu siapa aku ini.” kata Deva seraya menunduk malu.
“Sudahlah, aku capek dengan semua ini. Sekali lagi aku tegaskan, aku mau kita putus.” kata Desi sebelum akhirnya masuk ke taksi yang sedari tadi menunggunya.

Kali ini Deva tak bisa lagi mencegah Desi, dan ia tetap di sana terdiam terpaku setelah hatinya merasakan sakit yang begitu hebatnya lantaran diputuskan sepihak oleh sang kekasih pujaan.

Sesampainya di depan rumah pun, air mata Desi masih tetap berlinangan, dan ia menghapusnya meski air mata itu mengalir lagi dan lagi seolah tak pernah dapat berhenti.

Sementara seorang perempuan yang duduk di teras depan rumah Desi bangkit setelah melihat kepulangan Desi, terlebih ketika ia melihat Desi menangis, “Kamu kenapa?” tanya perempuan itu setelah Desi tepat berada di depannya.
“Kamu siapa?” bukannya menjawab, Desi malah justru balik bertanya.
“Oh, perkenalkan, nama saya Arini,” kata perempuan itu memperkenalkan seraya menyodorkan tangan.
Desi menjabat tangannya, “Saya Desi,” kata Desi.

Mereka berdua akhirnya duduk di teras itu dan saling bercengkerama. Desi menceritakan kepada Arini tentang peristiwa yang baru saja ia alami meski bagu Desi Arini adalah orang yang asing, namun ia tak peduli lantaran sakit hatinya terlalu sakit untuk disimpan sendirian saja.
Sementara setelah itu Arini juga bercerita, tentang siapa dirinya yang sebenarnya dan ternyata ia adalah sahabat Deva.

“Baru kali ini saya melihat Deva begitu bahagianya seperti itu, meski kepalanya pasti pusing memikirkan hutang-hutangnya demi memanjakan kamu. Sayang, hari ini semuanya harus berakhir.” kata Arini dengan air muka yang terisi kesedihan.

Hati Desi kembali merasakan sakit yang teramat sakit, kali ini sebab ia menyesali perbuatannya sendiri. Ia menyesal sebab telah menyia-nyiakan pengorbanan Deva.

“Kamu tahu rumah Deva?” tanya Desi.
“Tentu,” jawab Arini.
“Tolong antarkan saya kesana,” kata Desi.
“Baik, dengan senang hati.” kata Arini.

Mobil Arini ikut berperan dalam kemacetan kota sebelum akhirnya terbebas dan menyusuri jalanan kecil menuju ke tempat perkampungan kumuh.

“Sudah sampai,” kata Arini.

Arini hendak mengetuk pintu rumah Deva, namun pintu itu terbuka dengan sendirinya.

Pak Ujang di sana, “Eh, Arini,” kata pak Ujang.
“Assalamualaikum?” kata Arini seraya tersenyum.
“Waalaikumsalam,” jawab pak Ujang.
“Itu siapa?” tanya pak Ujang seraya menunjuk ke arah Desi yang tengah memeluk lengannya yang berdiri di dekat mobil Arini.
“Namanya Desi, pak. Nanti saya ceritakan, sekarang yang terpenting Deva ada di mana?” tanya Arini.
“Deva, katanya sih mau ke danau,” jawab pak Ujamg.
“Oh, ya sudah saya permisi dulu.” kata Arini sebelum pergi pamit pergi.

Arini tahu betul danau yang dimaksud oleh ayahnya Deva itu pasti adalah danau di ujung kampung ini, maka ia membawa Desi menuju kesana dengan berjalan kaki lantaran jaraknya tak terlalu jauh.

Sesampainya di danau itu mereka langsung mencari keberadaan Deva, dan mereka dapati Deva tengah duduk di sebuah bangku di dekat bangku tersebut.

“Dev!” panggil Arini dari kejauhan.
“Dev!!!” teriak Arini akhirnya karena Deva tak menoleh atau menjawab.

Barulah saat sudah dekat mereka lihat dengan jelas bahwa Deva tengah duduk dengan kepala menunduk ke bawah seberti orang yang tengah tertidur.

“Dev, coba tebak gue bawa siapa?” kata Arini seraya menepuk pundak Deva.

Namun Deva justru ambruk tersungkur ke tanah, sontak Arini dan Desi pun terkekut dan berlari ke arahnya.

“Dev, loe kanapa?” tanya Arini.
“Aaaaa!!!” teriak Arini setelah melihat pergelangan tangan Deva terdapat luka sayatan benda tajam.
Sesaat kemudian Arini memeluk tubuh Deva, “Dev, kenapa kamu lakuin ini? Bangun, Dev. Aku mohon.” kata Arini.

Sementara itu air mata Desi kembali berlinangan membasahi pipinya, ia tak menyangka bila hubungannya dengan kekasihnya akan menjumpai sekat yang tak bisa dihancurkan bernama kematian.

Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “#6 “Akhir Sebuah Pengorbanan”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s