Diposkan pada Cerpen

#7 “Kali Ini Beda”

Tidak ada yang berbeda pagi itu, Mira, Indra dan Bima duduk saling berhadapan di meja makan dengan bermacam hidangan yang selalu bisa menggugah selera.
Hanya saja, Bima, terlihat sangat menikmati apapun yang ada di depannya yang bahkan biasanya dilirik pun tidak dan pada akhirnya Mira dan Indra harus memesan masakan cepat saji.

“Tumben kamu lahap banget makannya,” kata Mira.
“Iya nih, anak papa tumben banget,” tambah Indra.
“Ya iya dong, kita itu harus mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan.” kata Bima.

Indra dan Mira pun seketika saling berpadangan, mereka merasa ada yang berubah dengan Bima, meski begitu mereka bersyukur lantaran perubahan pada anak semata wayangnya itu adalah sesuatu yang baik.

“Oh iya, pah, mah, Bima boleh gak minta sisa makanan untuk diberikan pada teman Bima yang kekurangan?” tanya Bima.

Baik Mira maupun Indra sama-sama terkesiap saat mendengarnya, mereka pun kembali bertatapan. Melihat Bima menyantap makanannya dengan lahap saja sudah sangat bahagia, apalagi kini mereka tahui bahwa Bima berhati baik lantaran peduli dengan orang yang kurang mampu.

“Kok pada diem, gak boleh ya?” tanya Bima lagi.
“Boleh kok.” tukas Indra seraya tersenyum.
“Iya, bener kata papah kamu, boleh-boleh aja kok.” tambah Mira.

Seusai sarapan, Bima dengan dibantu asisten rumah tangganya memasukkan makanan di meja itu ke dalam sebuah kotak bekal. Setelah itu ia mengantarkannya ke rumah Amir, orang yang kini menjadi sahabatnya.
Rumah Amir sendiri terletak disebuah perkampungan kumuh di kota Jakarta. Yang bahkan bisa digusur kapan saja lantaran tak memiliki ijin.

“Masih jauh gak nih, mas?” tanya seorang supir.
“Gak kok, bentar lagi juga sampai.” jawab Bima.
“Amir itu temen kamu?” tanya Indra yang ada di sebelah Bima.
“Bukan, jadi Amir itu adalah…”

Pikiran Bima kembali ke hari di mana ia dan Amir saling bertemu beberapa hari yang lalu, saat itu Bima duduk di bangku taman tengah memakan bekal yang telah disiapkan oleh asisten rumah tangganya.

“Makanan apa sih ini? Gak enak banget,” kata Bima seraya menggerutu.

Karena kesal, Bima pun melempar makanan beserta wadahnya ke arah tempat sampah. Namun tak mendarat dengan mulus lantaran ada seseorang yang menangkapnya.

“Kamu kenapa buang makanan ini?” tanya orang tersebut yang sepertinya sebaya dengannya.
“Habisnya gak enah sih,” jawab Bima.
Orang itu berjalan mendekati Bima dan duduk di sebelahnya, “Masih ada banyak orang di luar sana yang kekurangan makanan, dan kamu malah mau buang makanan ini,”
“Buat aku sajalah,” kata orang itu.

Bima yang awalnya tal peduli pun akhirnya merasa iba melihat makanan yang tadi dibuangnya dimakan dengan lahapnya oleh seorang di sebelahnya.

“Nama kamu siapa?” tanya Bima.
“Aku Amir, nama kamu siapa?” tanya Amir balik.
“Aku Bima, salam kenal,” Bima menyodorkan tangannya.

Amir membalasnya dengan tersenyum, dan sejak pertemuan hari itu mereka menjadi bersahabat.

***

“Berhenti di lapangan di depan itu pak!” perintah Bima.
“Baik, mas,” kata sopir tersebut.

Setelah memarkirkan mobilnya, mereka bertiga pun berjalan menuju ke rumah Amir yang terletak di pinggir lapangan. Terlihat Amir dudul di dipan yang letaknya ada depan rumah dan ia tengah bersiap-siap dengan dagangannya.

“Assalamu’alaikum?” ucap Bima.
“Waalaikumsalam,” jawab Amir seraya menoleh ke sumber suara.

Bima kemudian memperkenalkan ayah dan supirnya sebelum akhirnya pamit lantaran sudah hampir jam tujuh.

Satu hari kemudian…

Hari ini adalah hari pertama di bulan juli, dan hari pertama itu adalah hari ulang tahunnya Bima.
Biasanya ayah dan ibunya akan memberikan apapun yang Bima minta di hari yang spesial ini. Dari mulai laptop, tas baru, sepatu baru yang harganya mahal, apapun yang diminta buah hatinya pasti akan mereka turuti, pasti akan mereka berikan.

Di depan pintu kamar kedua orang tuanya, Bima berdiri tegap menunggu kedua orang tuanya keluar dari balik pintu itu.

Hingga mereka pun keluar, “Bima, kamu ngapain di sini?” tanya Mira.
“Oh, papa tahu. Kamu pasti mau minta hadiah ulang tahun ya?”
“Iya, tapi kali ini beda.” jawab Bima seraya menatap sayu pada Mira dan Indra.
“Memangnya kamu minta apa?” tanya Indra.
“Bima mau minta Amir buat sekolah lagi, boleh?” kata Bima.

Sekejab Mira memeluk erat tubuh Bima hingga membuat Bima terkesiap, setelah itu Indra pun memeluk Bima.

“Jadi boleh apa tidak?” tanya Bima seraya mencoba melepaskan pelukan erat kedua orang tuanya.
“Boleh sayang,” kata Mira seraya mencium kening Bima beberapa kali.

Selesai

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s