Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Dongeng

#8 “Johny”

Johny tebang tinggi meninggalkan sarang peri dan berhenti di portal perbatasan dunia luar dan juga peri.
Dua orang peri lainnnya menyusul Johny, mereka terbang melesat lantaran mereka ialah seorang peri dewasa. Mereka ialah Jessica dan Ryan, kedua orang tua Johny.

“Jangan pergi, sayang. Kali ini saja, ikuti kata kami.” kata Jessica.

Sementara Johny malah justru menatap pada ayahnya yang menyeringai kepadanya. Hal itu memantapkan langkahnya untuk pergi melihat dunia luar dan pergi meninggalkan dunia peri yang baginya membosankan ini.

“Maaf, aku harus pergi.” kata Johny.
“Jika kali ini kau pergi, sekalian saja tidak usah kembali.” gertak Ryan.
“Kau pikir aku tak berani?” tanya Johny dalam hati.

Johny melihat kepada portal yang memancarkan cahaya itu, seluruh keberanian yang ia punya ia kumpulkan dan sesaat kemudian ia menembusnya dan hilanglah ia ditelan portal bersinar itu.

“Johny!!!” teriak Jessica.

Jessica kemudian jatuh tersungkur setelah melihat anak satu-satunya kini hilang di balik portal perbatasan.
Dibawalah ia oleh ryan ke rumah, tak lupa Ryan memanggil peri penyembuh untuk menyembuhkannya.
Tapi Jessica tak sembuh, ia tetap menutup mata dan terus memanggil nama Johny, anaknya.

Sementara itu…

Portal bersinar itu membawa Johny ke sebuah lahan hijau yang luas dan sejuk. Di sana ada beberapa macam hewan; singa, kuda, gajah bahkan jerapah.

“Inikah dunia luar?” tanya Johny pada dirinya sendiri.
“Indah sekali.” tambahnya.

Johny kemudian terbang tinggi, melaju ke atas dan ia melihat sebuah rumah yang terletak tak jauh dari lahan hijau ini.
Johny yang penasaran pun akhirnya terbang kesana, dan selama di perjalanan ia juga bertemu burung-burung yang terbang beriringan menuju senja yang terbenam.

Sampailah Johny di rumah yang besar itu, “Rumah apa ini? Kenapa besar sekali?” tanya Johny pada dirinya sendiri.

Masuklah ia melalui jendela yang terbuka, di sana tak ada sesiapa kecuali seekor anjing yang tiada henti menatap lekat ke arah Johny.

Karena penasaran, akhirnya Johny mendekati hewan manis nan lucu itu, “Nama kamu siapa manis?” tanya Johny.

Namun anjing itu justru menggonggong ketika Johny tepat ada di depannya. Johny yang terkesiap akhirnya terlonjak hingga terjatuh, tapi ia lebih terkesiap lagi tatkala melihat pintu ruangan ini terbuka dan ada sesuatu dari sana.
Maka terbanglah ia tak tentu arah, menuju ke jendela itu. Namun jendela itu ditutup saat itu juga oleh seseorang. Johny pun hanya bisa pasrah, berdiri sembari gemetaran di dekat jendela itu.

“Kamu jangan takut makhluk kecil,” kata orang tersebut, matanya bersinar ketika melihat Johny.
“Kamu siapa? Kenapa aura kamu berbeda dengan hewan itu?” tanya Johny.
“Aku?” tanya orang itu seraya menujuk ke arah dirinya.
“Aku Brown, aku adalah manusia,” jawab Brown, akhirnya.
“Manu-sia…” kata Johny terbata.
“Iya,” kata Brown seraya mengangguk.

Brown sesaat pergi keluar untuk mengambil sesuatu, diambilah olehnya sebuah sangkar burung dengan ukuran yang tak terlampau besar. Setidaknya masih bisa untuk membuat Johny terbang.

“Masuklah,” perintah Brown.
“Kenapa kau mau kurung aku?” tanya Johny.
“Kamu lihat dia,” kata Brown seraya menujuk ke arah anjing yang lucu di lantai itu.
“Dia itu rakus, dia akan memakan apa saja. Termasuk kamu…” kata Brown.
“Kalau begitu, aku mau keluar saja,” kata Johny.
“Tidak boleh, kamu tidak boleh keluar. Di luar sana lebih banyak lagi bahaya yang mengancam.” tukas Brown.

Akhirnya Johny menuruti peruntah Brown, dan ia mulai menyesal telah memasuki rumah ini.

Sementara itu…

“Johny… Johny…” panggil Jessica lirih dengan kedua mata yang masih tertutup.
Melihat istrinya yang terbaring lemah, Ryan pun tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi dibendung olehnya, “Aku janji, aku pasti membawa pulang Johny.” kata Ryan.

Maka berangkatlah ia saat itu pula menuju portal perbatasan ditemani oleh beberapa rekannya.
Dan dengan mengandalkan salah satu peri pencari jekak, akhinya Ryan menemukan keberadaan Johny.

Dari jendela itu ia melihat anaknya terkurung di dalam sebuah sangkar, air mukanya terisi kesedihan, ”Itu dia, Johny,” seru Ryan.

Ryan dengan dibantu teman-temannya lalu berusaha membuka jendela itu, tak.sia-sia lantaran jendela itu akhirnya dapat terbuka.
Namun lagi-lagi si anjing menggonggong, apalagi ketika beberapa peri mendekatinya untuk mencoba menenangkannya.
Dan dengan terpaksa, mereka menggunakan kekuatannya untuk membuat anjing itu diam.
Namun terlambat, Brown telah mendengarnya dan kini ia tengah berlari meniti anak tangga menuju ke ruangan ini.

“Ada apa, Snow?” tanya Brown seraya membuka pintu.

Terkejutlah ia ketika melihat beberapa peri ada di ruangan ini. Ada yang sedang memegangi Snow, ada juga yang berusaha membebaskan Johny. Saking terkejutnya sampai membuat mulutnya melongo.

“Halo teman-teman kecil,” sapa Brown.
Brown pun berjalan menuju sangkar Johny, mencoba menyentuh peri yang ada di dekat sarang yang tak lain ialah Ryan, “Halo, namamu siapa?” tanya Brown seraya menjulurkan tangan.

Namun Ryan memberi hadiah Brown dengan kejut lustrik, membuat Brown terlonjak hingga berteriak kesakitan.

“Berani kamu ya!” teriak Brown yang kini kesal.

Brown pun secepat kilat manampel Ryan, membuat Ryan terjatuh ke lantai dan tak pernah lagi bergerak.

“Ayah!!!” teriak Johny.
“Keterlakuan kamu, manusia,” kata salah satu peri.

Sejurus kemudian peri itu merubah wujudnya menjadi seukuran Brown, bahkan lebih besar lagi. Brown yang melihat hal itu pun mulai gementar dan berlari menuju pintu keluar.
Namun terlambat, peri itu telah memegangi Brown dan saat itu juga melayangkan pukulan di wajah Brown berkali-kali hingga membuat Brown terkulai lemas.
Setelah puas menghajar si manusia kejam, peri itu mengubah kembali wujudnya menjadi semula. Lalu ia terbang menuju Johny dan membebaskannya. Sementara peri yang lain berusaha mengobati Ryan.

“Bagaimana keadaan ayah?” tanya Johny.

Yang ditanyai malah menggelangkan kepala dengan air muka tanpa asa yang Johny sendiri tak tahu apa maksudnya.

“Tolong selamatkan ayah,” kata Johny seraya terisak.
“Kami akan berusaha semampu kami. Sekarang lebih baik kita pergi dari sini,” kata salah satu peri yang lain.

Johny dan beberapa peri terbang di depan, sementara beberapa peri yang lain terbang di belakang seraya memapah tubuh lemah Ryan.
Tiada henti Johny menitiskan air mata, air mata penyesalan karena telah menembus portal perbatasan. Bahkan kini ia ketahui bahwa di sarang ibunya juga tengah sakit, bertambahlah puka penyesalannya.

Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s