Diposkan pada Cerpen

#10 “Seperti Dalam Film”

PhotoGrid_1535971004824

Namanya Galih, aku mengenalnya sejak kelas dua sma. Aku dan dia bahkan duduk bersebelahan, karena hal itu kami menjadi bersahabat dan semakin dekat.

Galih seorang pria yang tampan, wajar bila banyak yang suka. Wajar pula bila aku dibenci semua wanita lantaran Galih lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersamaku dibandingkan menerima ajakan mereka.

Padahal tak sedikit dari mereka yang parasnya lebih cantik dari diriku. Mereka juga memiliki banyak harta lantaran seorang anak pengusaha.

 

Kami berdua sering menghabiskan waktu untuk sekedar jalan-jalan di taman, lari pagi atau menonton film yang disukai.

Suatu malam aku melihat Galih bukan seperti Galih yang biasanya. Ia terlihat sangat berbeda yang entah mengapa aku sangat suka.

Aku memandangi wajahnya tanpa berkedip, matanya yang indah, senyumnya yang merekah sesaat ketika angin berhembus menerpa wajah.

Aku pun tersenyum sendiri dibuatnya.

 

“Kamu memang tampan, pantas saja bila banyak yang suka.” kataku dalam hati.

“Kamu ngapain liatin aku kaya gitu?” tanya Galih seraya menepuk pundakku.

Aku segera tersadar dari lamunan, “Kamu tampan,” gumamku spontan.

“Apa?” tanya Galih lagi.

“Gak, lupakan saja.” kataku.

Aku memegangi perutku, “Aku lapar, nih. Cari makan yuk!” kataku beralibi.

 

Aku membawa Galih ke tempat makanan favorit kami, di sana aku harus menyiksa diriku sendiri dengan menyumpalkan makanan ke mulutku meski aku tak lapar lantaran tak ingin membuat Galih curiga.

 

“Kamu kenapa, tumben kaya gak nafsu gitu? Mau tukeran makanan kaya biasanya?” Galih menawarkan.

“Gak kok. Ini aja udah enak.” kataku sembari tersenyum meski hatiku menangis.

 

Kembali aku memasukan sesendok demi sesendok meski rasanya perutku sudah penuh bahkan ingin muntah.

 

Hari berikutnya…

 

Aku dan galih menonton sebuah film drama, aku bahkan sampai menangis tersedu lantaran cerita di film itu sangatlah sedih. Sementara Galih terlihat biasa saja.

Diceritakan dalam film tersebut ada seorang wanita yang mencintai seseorang namun akhirnya patah hati lantaran orang itu telah termiliki bahkan sebelum sang wanita mengungkapkan perasaannya.

Maka saat itu juga aku terpikir dan memutuskan untuk mengungkapkan rasa yang selama ini ada setelah keluar dari theatre ini.

 

Aku, Galih dan semua orang dalam theatre pun berhamburan keluar lantaran film telah selesai. Tak sedikit dari mereka yang masih meneteskan air mata, bahkan terisak terutama para perempuan.

 

“Ehm, kamu haus gak?” tanyaku.

Galih menoleh, “Lumayan sih,” jawabnya.

“Kalau gitu, kamu tunggu di sini. Aku beli minuman dulu,” kataku seraya pergi meninggalkan Galih.

 

Di perjalanan aku terus memikirkan tentang wanita yang ada di dalam film itu, aku tahu hatinya pasti hancur lebur.

Aku pun membayangkan bagaimana rasanya. Sesaat keberanianku terkumpul, dan aku ingin mengungkapkan perasaanku sekarang juga. Meski nanti ditolak, yang terpenting sudah diungkapkan dan tidak terlampau buruk seperti cerita wanita di dalam film.

 

Dua jus jeruk telah aku beli, kini aku berjalan menuju ke arah Galih. Jalan yang aku lalui terasa menjadi panjang dan lama ketika aku menjelanginya.

 

Galih terlihat tengah duduk di bangku di dekat lift, “Aku pasti bisa,” kataku dalam hati.

 

Tapi apa yang terjadi berikutnya sungguh di luar dugaanku, seorang perempuan mendekati Galih, ia kemudian mencium pipi Galih dan Galih tak nampak sama sekali menolak.

 

“Halo sayang,” sapa Galih.

“Sayang?” tanyaku dalam hati.

 

Nyaris aku menjatuhkan jus jeruk yang aku pegang, air mataku pun dengan tetiba terjatuh dan aku bersembunyi di balik pilar yang besar di dekatku.

 

“Sayang? Apa dia kekasih Galih?” tanyaku lagi pada diriku.

“Tapi Galih belum pernah bercerita tentang kekasih, jadi mungkin aku salah dengar,” kataku yang coba menenangkan hatiku sendiri.

 

Aku pun menghapus air mataku, lalu setelah itu melanjutkan langkah yang sempat terhenti dengan menyunggingkan senyuman guna menutupi hancurnya hati saat ini.

 

“Hai!” sapaku.

Mereka pun menoleh, “Halo!” sahut perempuan di sebelah Galih itu.

“Dia siapa?” tanyaku pada Galih.

“Oh, perkenalkan, namanya Audy, dia pacar aku.” jawab Galih.

“Salam kenal.” perempuan itu melempar senyum.

Aku pun tersenyum kepadanya, “Pacar? Sejak kapan?” tanyaku lagi.

“Baru kemarin sih, belum lama hehe…” jawab Galih.

“Syukur deh, akhirnya sahabatku yang satu ini punya pacar.” kataku.

 

Kami kemudian erbincang-bincang, setelah itu kami bertiga pun melanjutkan dengan berjalan-jalan di mall ini. Dan selama itu aku selalu menyunggingkan senyum, pura-pura bahagia atas semua yang ada di depan mata walau hati merasakan sakit lebih sakit dari yang pernah aku rasa. Mirip sekali dengan cerita di film yang tadi aku dan Galih tonton.

 

Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

6 tanggapan untuk “#10 “Seperti Dalam Film”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s