Diposkan pada Cerpen

Berawal Dari Nastar

Namaku Dio, aku kelas tiga sma. Saat ini sedang naksir dengan seorang gadis yang cantik, pintar akan tetapi sangat galak. Aku dan dia bersekolah di sekolah yang sama, kami bahkan satu kelas.
Hari ini aku akan ke rumahnya dengan modus memintanya mengajariku sebuah pelajaran. Padahal yang sesungguhnya aku ingin untuk bersama-sama dengannya.

Jantungku berdebar ketika tepat berada di depan pintu rumahnya, akupun tak tahu apa aku akan melanjutkan niatku atau tidak. Entah kekuatan macam apa yang sanggup membawaku sampai kesini, aku pun tak mengerti.
Telah ku bawakan sepucuk bunga mawar merah yang indah yang aku sembunyikan di balik punggungku, tapi aku tak tahu apakah ia akan suka atau tidak.
Beberapa temanku yang mencoba mendekatinya pernah membawakannya bunga mawar putih, ada juga warna merah muda. Dan hal itu justru malah membuat mereka diusir lengkap dengan wajah memerah bekas tamparan.

Aku bersiap mengetuk pintu rumahnya, namun tiba-tiba saja pintu itu terbuka.

Nampaklah ia dengan air muka yang terselubung makna menatap ke arahku, “Hi, Sasa!” sapaku.
Ia tersenyum namun senyumnya seolah dipaksakan, “Hi juga, Dio!” balasnya.
“Aku kesini buat belajar sama kamu,” kataku.
“Oh iya, aku bawain kamu…”

Belum sempat aku berkata, Sasa secara sigap merebut kantong plastik berisi setoples kue yang isinya nastar pesanan ibuku.

“Kamu bawa apa?” tanya Sasa sembari melihat kantong plastik itu.
“Wah, nastar. Ini buat aku? Makasih ya, kamu baik banget.” ucap Sasa.
Aku garuk-garuk kepala walaupun kepalaku tak gatal, “Sebenarnya sih…”
“Buat aku kan!” tukas Sasa.

Aku mengangguk, terpaksa.

“Untung kamu gak bawa mawar, kalau kamu bawa bakalan aku usir kamu dari sini.” kata Sasa sembari membuka toples nastar itu.
“Memangnya kenapa?” tanyaku penasaran.
“Aku gak suka.” jawabnya.
Aku menelan ludah, “Aku gak bawa kok.” kataku sembari tersenyum.
“Ya udah, masuk yuk!” kata Sasa mempersilakan.

Aku menunggu Sasa masuk duluan sebelum akhirnya ku buang mawar merah yang ku bawa. Untung Sasa tak menyadarinya.

Aku masuk ke dalam, ku lihat Sasa duduk di sofa dan kini nastar itu tinggal separuh.

“Rakus,” gumamku.
“Apa?” tanya Sasa.
Aku berdalih, “Ah, nggak kok.” jawabku.
“Duduklah!” perintah Sasa.
“Baik.” kataku.

Akupun duduk, lalu mengeluarkan sebuah buku dari balik tasku. Aku selalu mencuri waktu untuk memandangi wajah Sasa yang cantik ketika ia sibuk dengan nastarnya.

“Jadi, mana yang kamu gak bisa?” tanya Sasa.
“Yang ini nih…” kataku sambil menunjuk buku yang ku pegang.

Sejenak, ia meletakkan toples nastarnya yang kini isinya dapat ku hitung.

“Ini kan bahasa Indonesia, masa kamu gak bisa sih,” kata Sasa.
Bodoh, aku salah mengeluarkan buku, “Aku beneran gak bisa, ini sulit sekali.” kataku berdalih lagi.

Sasa geleng-geleng kepala sebelum akhirnya membuka bukuku, lalu ia menjelaskan kepadaku tentang pelajaran yang sebenarnya sudah aku tahui.
Sesekali Sasa juga melanjutkan memakan nastar yang tinggal sedikit itu.
Aku sebenarnya masih bingung, dengan apa aku akan menggantinya. Karena ibuku pasti akan marah besar bila aku menceritakan yang sebenarnya kepadanya.
Tapi di sisi lain aku juga bersyukur sebab aku bisa bersama dalam satu ruang seperti ini, hanya berdua dengan Sasa.

Sasa mengantar aku sampai di depan rumahnya, ia bahkan menunggu sampai aku benar-benar dapat angkot.
Sedang aku tak langsung pulang, aku kembali ke toko kue untuk membeli nastar lagi. Bukan membeli, tapi hutang. Beruntung aku mengenal salah satu karyawan toko kue itu, jadilah aku bisa berhutang di sana. Meskipun aku sangat malu untuk melakukan itu.
Itupun aku harus merengek memohon kepadanya bak anak kecil yang minta dibelikan balon oleh orang tuanya. Sampai seperti sudah tidak ada harga diri diriku ini.
Cinta itu memang aneh, ia bisa membuat seseorang melakukan segala bentuk hal.

Sejak saat itu aku dan Sasa selalu berduaan, untuk sekedar belajar bersama atau makan di kantin sekolahan. Tentu saja banyak yang iri terhadapku.
Karena hal itu pula aku dijauhi tak sedikit teman lelaki di kelasku. Mereka tersenyum menyeringai setiap kali melihatku.
Sedih memang bila harus kehilangan teman dengan cara seperti ini, hanya karena masalah wanita. Tapi hal itu pula yang ikut andil dalam nilai-nilaiku yang kini mulai membaik seiring berjalannya waktu.
Maka aku syukuri saja semuanya, terlebih kini ada Sasa yang selalu menemani.

Selesai

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

9 tanggapan untuk “Berawal Dari Nastar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s