Diposkan pada Cerpen, Dongeng, Sahabat, Teman

Lala

Pada suatu hari, hiduplah seekor kupu-kupu. Namanya Lala, ia adalah kupu yang baik hati.
Dia pun suka menolong, meski kadang yang ditolong malah pergi begitu saja dan tidak tahu berterima kasih. Yah, begitulah hewan, kadang memang bersikap aneh.
Namun dia mempunyai sayap yang berbeda dengan kupu yang lainnya, sayapnya berbeda satu dengan lainnya, itulah yang membuatnya tak cantik. Dan hal itulah yang membuat Lala dijauhi oleh teman-temannya, karena rupa tidak cantik dari kedua sayapnya itu.

Lala mendekati kerumunan kupu yang sedang bermain, “Mau apa kamu kesini?” tanya seekor kupu kepada Lala.
“Aku mau ikut main,” Jawab Lala.
“Gak boleh, pergi sana!” bentak kupu tersebut sampai membuat Lala terkejut bahkan meneteskan air mata karena sakit hatinya.
“Kenapa memangnya?” tanya Lala lagi.
“Karena kamu adalah kupu-kupu yang tidak cantik,” jawab kupu tersebut.
“Pergi sana!” perintah kupu itu.
Lala pun pergi dengan rasa kecewa yang timbul di hati, “Tuhan, kenapa aku gak boleh main? Kenapa aku gak boleh bersama mereka?” tanya Lala pada Tuhan sambil melihat ke arah kerumunan itu.

Lala pun terbang tinggi, tak tahu tempat mana yang ia tuju kali ini. Yang pasti ia ingin menyendiri, tak mau lagi dibuat sakit hati.
Mendaratlah ia di sebuah bunga di dekat sebuah danau, ia duduk di bunga itu dan melihat ke arah danau.
Air matanya menetes mengingat kejadian tadi, tak ia sangka bila semua akan membencinya seperti saat ini.

“Kanapa kamu menangis?” tanya seekor kura-kura yang tiba-tiba saja ada di dekat tumbuhan bunga yang di pijaki Lala.
Lala menegok ke bawah, ia pun turun, “Karena aku jelek,” jawab Lala.
“Namaku Joni,” kura-kura itu memperkenalkan.
“Aku Lala,” kata Lala.
Beberapa saat kemudian, “Tolong!” suara teriakan itu terdengar, membuat Lala dan Joni seketika menoleh.
“Apa kau dengar suara itu?” tanya Joni.
Lala menyeka air matanya, “Ya, aku dengar.” jawab Lala sambil menengok ke segala arah.

Setelah berkali-kali mencari, akhirnya Lala menemukan hewan yang berteriak itu. Ia adalah seekor capung yang jatuh ke danau dan bahaya tengah mengintainya. Karena bisa saja ikan-ikan melihat gerakan kepakan sayapnya yang berusaha keluar dari permukaan dan mendekatinya bahkan memakannya.

“Apakah kamu bisa menolong dia?” tanya Joni.
Lala mengangguk, “Ya,” jawab Lala.
“Permisi, saya pergi dulu,” pamit Lala kepada Joni.

Belum sempat Joni berkata-kata, Lala sudah pergi meninggalkannya sendiri di tepian danau.
Joni pun hanya dapat melihat Lala, dari mulai Lala terbang menuju ke capung yang hampir tenggelam sampai saat Lala mencoba menyelamatkannya.

“Rupa kamu memang tidak cantik, akan tetapi hati kamu sangatlah cantik melebihi siapapun. Kamu bahkan lebih memikirkan orang lain dibandingkan dirimu.” kata Joni dalam hati sambil tersenyum.
Lala kini sudah ada di dekat capung itu, “Ulurkan tanganmu,” kata Lala.

Capung itu pun mengulurkan tangannya, sementara Lala dengan hati-hati mendekati tangan capung itu karena bisa saja ia ikut tercebur ke danau bila salah perhitungan.
Akhirnya setelah Lala berusaha keras, ia pun bisa mengangkat capung itu keluar dari air.
Lala kemudian membawanya terbang hingga ke tepian danau di mana Joni tengah menantinya.

“Apakah kamu tidak apa-apa?” tanya Lala pada capung.
Dengan masih menggigil kedinginan dan masih ketakutan ia menjawab, “Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah menolongku.” jawab capung tersebut.
“Namamu siapa?” tanya capung.
Lala tersenyum, “Namaku Lala,” jawab Lala.
“Aku Dio, salam kenal,” mereka pun saling berjabat tangan.

Dio menjemur sayapnya hingga mengering selama beberapa saat lamanya, dan ketika sudah kering ia langsung pamit pada Lala dan juga Joni untuk pulang ke rumahnya.

“Rumahku ada di dekat kebun bunga mawar, tepat arah matahari terbenam. Kamu boleh main kesana kalau mau.” kata Dio.
Mata Lala berkaca-kaca, “Jadi, aku boleh ke rumah kamu?” tanya Lala.
Dio mengangguk, “Jadi teman kamu?” tanya Lala lagi.

Dio kembali mengangguk, kali ini disertai senyuman.

“Datanglah kapanpun kamu mau,” kata Dio sembari mulai terbang dan melambaikan tangannya.

Dio kini sudah tak terlihat, langit hanya menyisakan semburat cahaya jingga yang begitu indahnya.

Lala dan Joni masih ada di sana menyaksikan keindahan, “Tuh, kamu sudah punya teman sekarang,” kata Joni sambil menunjuk ke arah matahari terbenam.
“Aku juga mau jadi teman kamu, datanglah kesini untuk bermain denganku.” tambah Joni.
Lala menoleh, “Terima kasih,” kata Lala sambil tersenyum.

Sejak pertemuan Lala dengan Joni dan Dio, kehidupan yang Lala lalui pun berubah. Meski tak ada kupu-kupu yang mau berteman dengan dirinya, tapi kini ia mempunyai teman seekor capung dan juga kura-kura. Lala sangat merasa bersyukur.

Selesai

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Lala

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s