Diposkan pada Cerpen

Ayah Untuk Ulang Tahunku

Sebuah ruangan luas berhias ornamen, balon beraneka macam warna serta pita selayaknya design pesta ulang tahun pada umumnya. Di atas panggung terdapat sebuah papan bertuliskan, “Sweet 17 Grace” yang indah meski hanyalah tulisan tangan.
Musik klasik yang diputar memenuhi ruangan meski tak terlalu keras, Grace memang sangat menyukai musik klasik meski usianya hari ini baru 17 tahun.
Dia menyukai musik klasik sejak dulu, berkat ayahnya yang memutar musik itu di ruang kerjanya yang diam-diam Grace menguping dan mulai suka pada musik tersebut. Dia pernah bercerita seperti itu kepadaku.

“Fellyn!” panggil seseorang dari arah belakang yang suaranya sudah tak asing lagi.

Aku menoleh, itulah si tuan putri untuk malam ini. Grace tampak cantik memakai gaun berwarna merah yang terlihat sangat indah itu, langkahnya pelan berkat high-heels yang dipakai olehnya.

Grace tersenyum, “Kamu datang sendirian?” tanya Grace.
“Ya iyalah, temen aku kan cuma kamu.” jawabku.

Senyum di wajah Grace seketika memudar, aku tahu dia tengah baper, maka dari itu aku langsung memeluknya.

“Selamat ya… Sudah tujuh belas tahun,” kataku.
“Sudah tua,” kataku lagi sambil tertawa kecil.
Grace mencubit tanganku, “Ah, sakit tau,” kataku protes sembari melepaskan pelukan Grace.
“Sukurin, habisnya kamu ngatain aku tua sih,” kata Grace dengan muka cemberut, terdapat penekanan pada kata ‘tua’.
Aku mengeluarkan kado dari balik saku yang telah aku persiapkan semalam, “Jangan cemberut, jelek tau. Ini buat kamu,” kataku sembari memberikan kado pada Grace.
“Maaf, aku cuma punya puisi itu,” kataku lagi.
Grace menoleh ke arahku, “Tidak apa-apa, selama ini belum ada yang memberikanku kado sebuah puisi. Ini termasuk anti mainstream juga lho, dan kamu tahu aku memang suka yang anti mainstream.” kata Grace sambil tersenyum.
“Lagi pula puisi kamu juga bagus-bagus kok,” kata Grace lagi.

Percakapan kami diakhiri dengan kembali saling berpelukan sebelum akhirnya mc mengumumkam bahwa pesta akan segera dimulai. Grace naik ke panggung setelah dipanggil oleh mc tersebut, terlihat Grace didampingi oleh ayahnya. Ayah Grace memakai kemeja putih dibalut dengan jas berwarna merah yang serupa warnanya dengan gaun yang dipakai oleh Grace.
Nampaknya mereka akan terlebih dahulu melakulan tradisi wajib setiap kali seorang gadis berulang tahun yang ke 17, itu adalah sebuah tradisi di mana gadis tersebut akan berdansa dengan ayahnya.
Aku langsung teringat kepada ayahku yang telah meninggal dunia, saat musik romantis itu diputar, Grace dan ayahnya mulai berdansa. Sedangkan aku malah pergi dari sana, tak tahu tujuan namun aku tak ingin menyaksikan. Taman bunga di samping rumah Grace adalah pilihan, jauh dari kerumunan meski aku kesepian.

Air mataku menetes tiada henti, sakit di hati pun terulang kembali. Ah, susah payah aku mengubur dalam-dalam kenangan, tapi malah sekarang kembali aku diingatkan.

“Kamu kenapa di sini, pestanya kan di dalam,” kata seseorang di belakangku.
Aku segera menyeka air mataku begitu tersadar bahwa yang berkata ialah Grace, “Kamu lagi ngapain sih?” tanya Grace yang kini duduk di sampingku.

Aku menoleh, bukan ke arah Grace melainkan ke arah sebaliknya. Namun air mataku malah kembali menetes, bahkan aku terisak.

“Kamu kok nangis, Llyn?” tanya Grace.
Kembali aku menyeka air mata, “Ah, nggak kok,” kataku.

Entah bagaimana caranya, tapi kini Grace ada di depan mataku. Bodohnya, saat itu air mataku malah kembali menetes.

“Tuh kan, nangis. Kamu kenapa?” tanya Grace.
“Aku teringat dengan ayahku, Grace.” jawabku akhirnya.
“Kamu tahu kan, bahwa ulang tahunku hanya berjarak seminggu setelah ulang tahun kamu? Aku pun mau berdansa dengan ayahku seperti yang kamu lakukan tadi, tapi ayahku sudah tidak ada, sudah meninggal. Ya, aku tahu memang mungkin hanya kamu, ibu dan adik-adikku yang akan hadir di pestaku nanti, tapi aku sungguh ingin ada seorang ayah di sana.” kataku sembari menundukan kepalaku, tak mau lagi rasanya Grace melihat kesedihanku.
Tapi sesaat kemudian Grace memegangi wajahku, lalu menatap mataku, “Kamu yang sabar ya,” kata Grace yang kemudian memeluk erat tubuhku.

✳✳✳

Waktu, jika ia ditunggu maka seolah akan berjalan dengan lembat. Tapi jika ia tak ingin kita jelangi, malah berlalu dengan cepat dan segera kita akan sampai. Itulah yang kini aku alami, waktu yang berjalan dengan cepat hingga tibalah ulang tahunku.

Ibu yang dibantu oleh kedua adikku telah menyulap beranda menjadi sebuah panggung, aku terharu karena hal itu. Bagaimana tidak, sedang untuk makan sehari-hari saja ibu harus bekerja terlampau keras, sekarang malah uangnya digunakan untuk membuat panggung, membeli ornamen dan makanan yang tersaji.
Mereka juga kini berpakaian dengan beda, meski masih sederhana, namun tetap terlihat bagus.
Sementara itu, Grace datang bersama ayah dan ibunya. Masing-masing dari mereka membawa sebuah kotak kado yang entah apa isinya.

“Kak, ini buat kakak,” kata salah satu adikku seraya menyodorkan kotak kado.
Aku terkesiap dan segera tersadar dari lamunan yang menghayutkan ketika aku mengamati keindahan malam ini, “Terima kasih, dek.” kataku seraya tersenyum dan menerima kado itu.

Mereka berdua menggapai tanganku, lalu membawa aku ke atas panggung. Musik dinyalakan, dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Lagi, aku teringat ayah. Andai ayah ada di sini, andai ayah belum pergi dari dunia ini, pastilah aku dan dia akan menari di sini, di panggung ini.
Aku menoleh ke arah ibu, kedua adikku, Grace serta kedua orang tuanya. Mereka semua sama, tersenyum dan bertepuk tangan untukku.
Tapi aku masih diam tak bergerak, masih dengan ketidaktahuan perihal apa yang hendak aku lakukan. Menari sendiri di panggung ini, pastilah akan membuat aku menangis lagi.
Sesaat kemudian ku lihat ayah Grace berjalan ke arah panggung, menaiki tangga lalu berjalan mendekatiku.

Ia kemudian memegang kedua tanganku, “Maukah kamu berdansa denganku?” tanya dia.

Aku menoleh ke arah Grace, dia mengangguk beberapa kali seraya tersenyum dan terlihat menyeka air matana yang jatuh membasahi pipi.
Melihat Grace yang mengangguk, aku pun ikut mengangguk. Ayah Grace kemudian tersenyum, setelah itu aku dan dia menari benar-benar selayaknya ayah dan anaknya yang tengah merayakan hari jadi yang ke tujuh belas tahun.

Selesai

*Cerita ini terinspirasi dari sebuah video viral beberapa hari yang lalu, di mana seorang gadis yang tengah merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas menari dengan sebuah boneka yang ditempeli gambar ayahnya di bagian wajah boneka seraya menangis dan beberapa kali memeluk boneka tersebut. Belakangan diketahui bahwa ayah gadis tersebut telah meninggal dunia dan keluarga berinisiatif untuk mengganti ayah sang gadis dengan boneka yang ditempeli wajah sang ayah.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

6 tanggapan untuk “Ayah Untuk Ulang Tahunku

  1. Wah, bbrp wktu ini sy mlah gak update ya ttg brta viral itu,🙈😂 sehingga kamu jadikan Cerpen bgni. Keren juga, dan sy jd tahu klau di ultah 17 thn bg anak gdis ad tradisi bgtu. Jd kpikiran klau anak prempuanku nnti pas berusia 17 thn, hehe …

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s