Posted in Best Friend, Cerbung, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Bhayangkara : Part 1

Mentari berpendar menyinari pepohonan rindang di jalan di sekitar rumah itu, gemercik air sungai dan suara burung berpadu menjadi satu keindahan tersendiri. Sedang anak kecil berumur sepuluh tahun itu mondar-mandir kesana kemari lantaran telah jemu menunggu sang ayah yang tak kunjung datang.

“Ayah, cepetan! Nanti Bagus telat!!!” teriak anak kecil bernama Bagus itu.

Bagus memakai seragam merah putih lengkap dengan dasi juga topi. Sedangkan lelaki berperawakan tinggi dan sedikit besar itu tampak semakin gagah memakai baju polisi. Di atas saku sebelah kanan terdapat sebuah tulisan nama, “Andre B. Nugraha”.

Lelaki bernama Andre itu kemudian membuka gerbang sembari menuntun motor tuanya, “Kamu yang sabar kenapa, Gus. Hari ini kan si mbak nggak ada, jadi semuanya ayah yang beresin.” kata Andre.
“Tapi nanti Bagus bisa telat, yah…” gerutu si Bagus.
“Harusnya kamu bantuin ayah biar pekerjaan ayah cepat selesai dan kamu tidak telat.” kata Andre.
“Ya sudah. Pakai helm kamu, nanti beneran telat lagi.” katanya lagi.

Motor tua itu dinyalakan, Bagus pun mengenakan helmnya lalu bersiap hendak naik. Namun seorang pengendara sepeda motor berhenti tepat di depan motor tua Andre yang hal itu membuatnya mematikan mesin motor tuanya.

“Permisi,” ucap pemotor itu sopan seraya menunduk dan tersenyum.

Andre membalas senyuman itu, sejurus kemudian ia turun dari motornya lalu menghampiri orang yang menghadangnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Andre.
“Begini pak, saya mau bertanya. Apakah benar ini rumah bapak Andre?” tanya orang tersebut.
“Saya, Andre. Ada keperluan apa ya?” tanya Andre lagi.
“Oh, jadi bapak ini bapak Andre. Jadi begini…” orang tersebut nampak melangkah mendekati Andre.

Dan dengan cepat dia mengeluarkan sebilah pisau lalu memeluk Andre namun juga menancapkannya tepat di perut Andre. Tusukan itu semakin dalam, mata Andre membelalak, darah mengotori sragam kesayangannya dan kini tungkainya mulai lemah. Sesaat kemudian orang tersebut mencabut pisau itu lalu memacu kendaraannya.
Sedangkan Bagus yang sedari tadi melihat ke sungai menoleh ke arah ayahnya begitu mendengar deru motor.

“Yah, ayo berangkat!” ajak Bagus.
Andre tak menjawab, “Yah, ayo!” kata Bagus lagi.

Andre tetap tak menjawab, kini Bagus berjalan mendekati Andre lalu menggandeng tangannya. Namun saat itu pula Andre terjatuh sedangkan Bagus begitu terkesiap. Ia menjadi semakin terkesiap lagi ketika melihat wajah ayahnya memucat, mulutnya berdarah, pun perutnya.

“Ayah kenapa?” tanya Bagus.
Dalam rasa sakit yang teramat sakit itu Andre masih mencoba tersenyum, “Ayah tidak apa-apa.” jawabnya.
“Tapi ayah berdarah,” kata Bagus.

Mata Andre berkaca-kaca, bukan lantaran sakit yang dirasa. Melainkan karena ia memikirkan Bagus. Ibunya telah meninggal dunia sewaktu melahirkan Bagus, dan kini jika ia harus meninggalkan Bagus pula rasanya akan semakin lengkaplah penderitaan anak semata wayangnya itu.
Maka sebisanya ia berusaha agar air mata yang kini terbendung tak tumpah dan mungkin membuat Bagus sedih pula.
Akan tetapi ia tak bisa, satu air mata akhirnya mengalir melewati pipinya.
Setelahnya yang ia rasa ialah dingin, seluruh tubuh tak terasa, bahkan mendengarpun tak lagi bisa. Ia hanya dapat melihat, bagaimana Bagus anaknya pun ikut menangis, panik dan berteriak. Hingga perlahan semua menjadi gelap, dan pekat.

“Tolong!!!” teriak Bagus.
“Siapapun, tolong!!!” teriaknya lagi.

Entah apa yang berlaku hari itu, mengapa jalanan begitu lengang tanpa seorangpun datang atau pulang. Maka yang dapat Bagus lakukan adalah menangis, menangis dan menangis. Juga memeluk tubuh ayahnya yang lemah hingga membuat seragam putihnya pun ternoda oleh darah.

Sejak hari itulah Bagus membenci profesi seorang polisi, meski suatu hari nanti ia pun mungkin akan menjadi seorang polisi. Seperti ayahnya yang dipaksa kakeknya untuk melupakan mimpi dan tinggal di asrama kepolisian, ia pun mungkin akan begitu pula.
Sepeninggal ayahnya, Bagus tinggal dengan kakek dan neneknya di kota yang berbeda.
Tentu saja hal itu menjemukan bagi Bagus, ia harus tinggal dengan orang yang mengutuk semua mimpi ayahnya dan juga ia untuk ambisinya menjadi seorang polisi yang tak pernah dicapai olehnya.

Pernah suatu ketika sang kakek memergoki Bagus tengah membaca komik, yang saat itu pula langsung di rebut olehnya dan komik Bagus diganti dengan buku-buku tentang kepolisian.

“Tapi saya masih anak-anak, kek. Apa pantas saya membaca buku-buku ini?” protes Bagus seraya menunjuk ke arah buku yang diberi kakeknya.
“Justru karena kamu masih kecil, jadi harus membaca yang seperti ini agar tahu sejak dini tentang kepolisian.” kata sang kakek.
“Mana buku komik kamu yang lain?’ tanya sang kakek.

Bagus hanya terdiam dan menunduk, tentu saja ia tak mau memberitahukan sarang buku-buku kesayangannya.

“Ya sudah, kalau kamu tidak mau memberitahu, biar kakek cari sendiri.” kata kakek.

Kakek kemudian membuka lemari, memeriksa laci bahkan kolong tempat tidur. Namun tak satupun komik ia temukan.
Kakek melihat pada ransel yang terletak di atas lemari, sesaat ia berjalan menuju ke arahnya. Degub jantung Bagus memburu, memang di sanalah tempat persembunyian komik-komik kesayangannya.
Tamatlah riwayatnya kini, sebab sebentar lagi kakeknya akan menyita semua komik miliknya.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

7 thoughts on “Bhayangkara : Part 1

  1. Bagus, mas. Ada beberapa masukan dari saya. Mau dipertimbangkan, silahkan, tidak juga silahkan.

    Ada beberapa kalimat yang kurang efektif. Coba mas baca ulang lagi.

    Tanda baca yang masih luput. Mungkin, ini salah satu penyebab kurang efektifnya. Tapi, bukan hanya tanda bacanya saja.

    Btw, mantap mas buat ceritanya๐Ÿ‘

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s