Posted in Cerbung

Bhayangkara : Part 3

Mobil itu melaju menyusuri jalanan berkelok-kelok yang di kiri dan kanannya terdapat kebun teh, kakek masih saja lincah mengemudikan kendaraannya.
Bagus lebih memilih untuk melihat kepada pemandangan di sekitarnya meski rasanya telah jengah lantaran pemandangan itu setiap hari ia saksikan apabila pergi ke sekolah. Mungkin lebih baik dibandingkan berusaha bertanya lagi kepada kakeknya perihal akan dibawa kemanakah dirinya itu yang Bagus sendiri pun tahu itu akan sia-sia karena kakeknya tak akan memberitahunya.

“Bukankah lebih baik melihat pemandangan alam dari pada di kamar terus belajar dan belajar?” tanya sang kakek.

Bagus tak menjawab, hanya sesekali menggumam pertanda menyetujui apa yang dikata kakeknya.

“Ya, meskipun belajar itu penting.” kata kakek.

Kakek hanya tak tahu saja apa yang dilakukan Bagus di kamarnya di waktu libur sekolah, yang ia tahu cucunya itu hanya belajar. Padahal yang dilakukannya ialah membaca komik, kadang juga menggambar. Lalu ia akan pura-pura belajar bila terdengar derap langkah mendekati kamarnya.

Setelah perjalanan hingga terjebak kemacetan pula akhirnya mereka sampai di sebuah tempat.

“Asrama…” Bagus seketika menoleh begitu melihat tulisan itu.

“Sudah aku tebak,” kata Bagus dalam hati.
“Nah, inilah tempat tujuan kita,” kata kakek.

Lapangan hijau yang luas di depan sebuah gedung terdapat ratusan orang. Tempat yang mereka kunjungi kali ini tetap ramai meski hari minggu. Semua orang memakai pakaian serba putih, kecuali beberapa orang yang agaknya pelatih dan mereka memakai pakaian warna hitam. Minggu pagi ini mereka latihan bela diri. Sementara Bagus dan kakeknya berjalan di sekitaran mereka.

“Ali!!!’ teriak kakek seraya melambaikan tangan.

Seseorang dengan pakaian berwarna hitam menoleh lalu tersenyum, sesaat kemudian ia berlari ke arah Bagus dan kakeknya.

Orang berdada bidang itu kini sampai di depan Bagus dan kakek, “Pak Kusein,” sapa Ali seraya tersenyum lalu menjabat tangan kakek.
Ia kemudian menjabat tangan Bagus pula, “Ini…” katanya sembari menunjuk Bagus.
“Ini putranya Andre, namanya Bagus.” kata kakek.
“Bagus ya? Sebagus bentuk tubuh dan tinggi badan kamu,” kata Ali.
“Masih sekolah kan? Kelas berapa sekarang?” tanya Ali.
“Saya kelas 3 om,” jawab Bagus.
“Sebentar lagi tinggal di sini,” kata Ali seraya tersenyum.

Bagus berusaha menyunggingkan senyum meski pun sulit hal itu untuk dilakukan olehnya.

“Bagaimana perkembangan para patriot kita, Li?” tanya kakek.
“Setiap tahun jumlahnya bertambah, pak. Dan saya sebagai senior sangat antusias mengetahui hal itu.” jawab Ali.
“Kek?” panggil Bagus.
Ali dan kakek menoleh, “Saya ke kamar kecil dulu ya,” kata Bagus.

Kakek mengangguk lalu mengibaskan tangannya.

Bagus berjalan setengah berlari sebab rasanya sudah tak dapat ditahan lagi. Namun di perjalanan ia melihat seseorang berbaju putih terduduk seolah lemah di tangga sembari menyaksikan teman-temannya yang tengah latihan. Bagus pun mendekatinya.

“Permisi,” kata Bagus.
Orang itu menoleh, “Iya, ada apa ya?” tanya orang tersebut.
Bagus duduk di sebelah orang tersebut, “Perkenalkan, nama saya Bagus,” kata Bagus seraya menjulurkan tangan.
“Nama saya Gio,” orang tersebut menjabat tangan Bagus.
“Masnya kenapa, kok di sini?” tanya Bagus.
Gio tersenyum, “Saya tidak enak badan, ditambah lagi terkena pukulan rekan saya tadi. Jadi tambah gak enak lagi,” jawab Gio seraya memegangi perutnya.
“Kalau gak enak badan, kenapa gak istirahat di kamar saja?” tanya Bagus.
“Gak bisa, nanti saya ketinggalan materi. Setiap waktu di tempat ini begitu berharga, sayang untuk dilewatkan. Biarlah saya terduduk di sini dari pada harus istirahat di kamar meski hanya melihatnya saja.” jawab Gio.
“Sampai segitunya,” kata Bagus dalam hati.
“Ya sudah, saya pamit dulu. Semangat selalu buat masnya!” kata Bagus.
“Siap!” sahut Gio dengan lantang.

Bagus pun melambaikan tangan yang dibalas senyuman oleh Gio, ia melanjutkan langkahnya menuju ke kamar kecil yang tertunda.

Dari balik gerbang seorang perempuan tengah mengintai, Bagus yang melihat hal itu lalu mendekatinya.

“Sedang apa kamu di situ?” tanya Bagus.

Perempuan itu terkesiap hingga terlonjak, ia kemudian hendak pergi namun Bagus mengejarnya.

“Tunggu!” teriak Bagus.

Perempuan itu menoleh, wajahnya lusuh selusuh pakaian yang ia kenakan, dan ia menggendong sebuah keranjang berisi botol minuman. Namun di balik wajah lusuh itu tersimpan kecantikan luar biasa bila saja ada yang menyadarinya, dan mungkin Bagus menjadi orang yang kesekian yang mengetahui hal itu.
Meskipun begitu, ia tetap terlihat biasa-biasa saja meski sesungguhnya ia begitu antusias.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

8 thoughts on “Bhayangkara : Part 3

      1. Baca semua ya mas, ada prolognya juga

        Saya atusias menunggu tanggapan dan krisarnya, karena ini cerita dari bunga tidur

        Nanti KunBal deh😂

        Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s