Posted in Cerpen

Bhayangkara : Part 4

“Kenapa kamu mengintai?” tanya Bagus.
“Memangnya tidak boleh?” tanya perempuan itu kembali.
Bagus mendekati perempuan itu, “Maaf, maksud saya tadi kenapa gak masuk saja?” tanya Bagus lagi.
“Ya kali pemulung masuk situ, ya diusirlah.” kata Wati.
“Jadi kamu pemulung?” tanya Bagus.
“Emang gue pake pakaian ginian lu kira apa’an? Model? Artis?” tanya Wati kembali.
“Saya kira bidadari,” jawab Bagus.
Wajah Wati seketika merah merona, “Habisnya kamu terlalu cantik untuk hanya sekedar menjadi pemulung.” kata Bagus.

Kali ini Wati salah tingkah, ia yang biasanya mahir mengelak kini hanya dapat diam mendengar kata-kata Bagus.

Ia kemudian berbalik lalu berlari, “Tunggu!” teriak Bagus.
“Nama kamu siapa?” tanya Bagus.
“Nama gue Wati!” teriak Wati tanpa menoleh.
“Nama saya Bagus, semoga kita bisa ketemu lagi ya!” teriak Bagus seraya melambaikan tangan.
“Kamu ngapain sih, Gus? Kok teriak-teriak?” tanya kakek seraya menepuk pundak Bagus.
Bagus terkesiap, “Eh, kakek. Itu tadi ada perempuan mengintai di sini.” jawab Bagus.
“Perempuan? Mana sih?” tanya kakek lagi.
“Itu lho…” jawab Bagus seraya menunjuk ke depan.

Namun di depan sana sudah tidak ada siapa-siapa, Wati telah raib ditelah ujung jalan.

“Mana? Gak ada siapa-siapa,”
“Ya sudah, kita pulang.” kata kakek.

Pertemuan Bagus dengan Wati membuat kegiatan mengunjungi asrama kepolisian hari ini menjadi tidak terlalu buruk. Bagus biasanya tak peduli dengan perenpuan manapun, di sekolah juga banyak menyukainya namun tak sekalipun yang ia pedulikan.
Namun kali ini agaknya seorang pemulung bernama Wati telah berhasil memikat hati Bagus. Bahkan diperjalanan pulang Bagus terus memikirkan Wati. Bagimana ketika ia berbicara, ketika pipinya merah merona dan ketika ia berlari.

“Kamu kenapa senyam-senyum sendiri kaya gitu?” tanya kakek seraya mencubit tangan Bagus.
“Sakit tahu, kek!” protes Bagus seraya menoleh ke arah kakeknya.
“Ya, habisnya kamu itu kenapa? Kok asyik sendiri kakek gak diajak?” tanya kakek lagi.
“Itu lho kek…”
“Kamu pasti senang diajak ke asrama polisi kan?” tanya kakek.
Bagus menoleh, “Ya sudah, besok kalau kamu libur lagi, kita kesana lagi.” kata kakek.

Bagus menelan ludah, lalu mengangguk. Tak dapat ia membayangkan bila harus kembali ke tempat membosankan itu lagi, namun ia menjadi bersemangat begitu mengingat perihal Wati.

“Ya, kek. Saya mau kesana lagi,” kata Bagus antusias.
“Nah, gitu dong. Itu baru cucu kakek,” kata kakek seraya tersenyum puas.

Sementara itu…

“Haduh, gimana ya itu si Bagus? Pasti bosan sekali di asrama,” kata nenek dalam hati.
“Kasihan juga kalau terus kaya begini.” katanya lagi.

Meski dia tengah sibuk dengan aktifitasnya membersihkan rumah, namun pikirannya menuju ke Bagus yang tengah bersama suaminya.

Beberapa saat kemudian, deru mobil terdengar. Nenek menolah, itulah si Aman yang membawa pulang suami serta cucu tercinta nenek. Kakek turun wajah riang, sedangkan Bagus malah lebih riang lagi. Hal itu tentu saja membuat nenek terheran-heran, agaknya tebakannya kali akan salah.

“Ada apa ini, kok kalian kelihatan senang begitu?” tanya nenek.
“Iya senang dong, nek. Ini, cucu kita juga senang diajak ke asrama soalnya.” jawab kakek.
“Ya sudah, kakek mau masuk dulu.” kata kakek.
“Minumannya ada di meja makan ya, kek,” kata nenek.
“Iya,” sahut kakek.

Setelah kakek masuk, kini giliran Bagus yang hendak masuk pula. Namun nenek menghadangya dengan merentangkan kedua tangannya.

“Kamu kenapa, Gus? Kok kelihatannya seneng gitu?” tanya nenek.
“Nanti Bagus ceritakan nek,” jawab Bagus seraya berlenggang pergi meninggalkan nenek di teras sendirian dengan pelbagai pertanyaan yang bergelayut di pikirannya.
“Ada apa sih dengan anak itu?” tanya nenek.
“Aku kira dia akan menderita dibawa ke asrama itu, ternyata malah begitu bahagia. Tapi syukurlah kalau begitu,” kata nenek.

Di tempat lain,

Wati berjalan menyusuri jalan setapak di lingkungan yang kumuh, bila sudah melewati jalan ini itu berarti ia telah memasuki daerah perkampungan tempatnya tinggal.
Wati tinggal di sebuah daerah yang kumuh, di antara tumpukan sampah yang menggunung.

“Sudah pulang kamu, nak?” tanya seseorang dari arah belakang.
Wati menoleh, “Eh, bapak. Iya, pak.” jawab Wati.
“Bagaimana hari ini?” tanya bapak lagi.
“Ya, sama seperti kemarin pak. Malah lebih sedikit,” jawab Wati.
“Tidak apa-apa, lebih baik dari pada hanya berdiam diri di rumah.” kata bapak.

Beberapa kali dalam satu minggu Wati harus berbohong seperti itu, sebenarnya uang hasil memulung itu bisa saja jumlahnya seperti biasa atau bahkan lebih banyak lagi. Tapi karena Wati mengunjungi asrama, jadilah hasilnya sedikit.
Berbeda dengan Bagus yang sangat tidak suka dengan segala keberkaitan perihal polisi, Wati malah menjadikan hal itu sebagai mimpi, sebagai cita-cita bahkan obsesi. Pernah suatu hari ia latihan menembak menggunakan pistol mainan yang terbuat dari bambu dengan sebuah kaleng sebagai targetnya. Sejak saat itu ia selalu melakukannya setiap kali ayahnya tidak ada di rumah.
Itulah alasan mengapa ia selalu mengunjungi asrama kepolisian lalu mengintai.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s