Posted in Cerbung

Bhayangkara : Part 5

Namun semua tak pernah mudah bagi Wati. Selain permasalahan ekonomi, bapaknya juga tak menyetujui jika Wati mendalami hal itu. Sekalipun bila ada sekolah gratis menuju kesana.

Pintu kamar Bagus diketuk, “Masuk, nek!” kata Bagus.

Nenek pun masuk, ia masuk dengan sejuta pertanyaan dalam pikiran yang siap dilontarkan.

“Kamu lagi apa, Gus?” tanya nenek.
Bagus mengehentikan sejenak aktifitasnya bergelut dengan pensil dan buku sketch lalu menoleh, “Lagi gambar, nek.” jawab Bagus.
Nenek berjalan mendekati Bagus lalu melihat hasil gambarnya, “Ini siapa?” tanya nenek lagi.
Bagus tersenyum, “Itulah yang membuat saya senang hari ini,” jawabnya.
“Tapi… Ini kok seperti pemulung?” tanya nenek lagi.
“Memang, tapi dia sangat cantik.” jawab Bagus.
Nenek mengangguk, “Siapa namanya?” tanya nenek lagi.
“Namanya, Wati,” jawab Bagus.
“Nenek jadi penasaran sama orang ini,” kata nenek seraya menunjuk ke gambar Wati.
“Ya sudah, nanti kalau saya ke asrama lagi, ikut saja.” kata Bagus antusias.
“Lalu siapa yang mambuatkan kamu dan kakekmu makan?” tanya nenek.
“Hehe…”
“Iya juga ya,” kata Bagus.

Hari berikutnya,

Sepulang sekolah, Bagus tidak langsung pulang. Ia menelusuri sebuah perkampungan kumuh di kota ini dengan membawa hasil sketchnya kemarin. Gambar Wati.

“Permisi, apakah anda tahu orang ini?” tanya Bagus.
Orang yang ditanyai Bagus tersebut nampak menelaah, “Sepertinya saya pernah lihat,” katan dia.
“Berarti anda tahu?” tanya Bagus lagi.
“Tahu, tapi gak kenal.” jawabnya.

Hal itulah yang dilakukan Bagus sedari tadi, menanyakan perihal Wati kepada setiap orang yang dijumpainya di kampung kumuh ini.
Rupanya Wati telah membuat Bagus begitu penasaran hingga ia sampai mencari rumah gadis tersebut.

“Permisi, apakah bapak tahu orang ini?” tanya Bagus.

Seorang bapak yang tengah ditanyai Bagus itu nampak tercengang melihat gambar yang di tunjukan Bagus. Meski begitu ia tak menujukannya di depan Bagus.

“Kenal,” jawab bapak itu.
“Kalau saya boleh tahu, di mana rumahnya?” tanya Bagus lagi.
“Memangnya kamu siapa?” bapak itu malah balik bertanya.
Bagus menjulurkan tangan, “Perkenalkan, nama saya Bagus. Saya teman gadis ini,” kata Bagus memperkenalkan.

Bapak itu acuh tak acuh pada Bagus, sesaat kemudian ia kembali bergelut dengan sampah-sampah yang ada di depannya.

“Tapi teman gadis itu hanyalah orang-orang kotor seperti saya ini,” kata bapak itu.
“Tidak mungkinlah dia berteman dengan orang kaya seperti kamu.” kata bapak itu lagi, matanya nampak melirik seragam nan bersih yang dipakai Bagus.
“Tapi, pak. Saya…”
“Saya Wibowo, bapaknya Wati.” tukas bapak bernama Wibowo itu.

Mata Bagus membelalak, senyum di wajahnya pun mengembang. Sebuah asa akan jumpa dengan orang yang dicarinya kini ada, meski ia belum tahu apakah bapaknya Wati yang di depannya kini sudi mengantar dirinya ke rumah. Menemui Wati.

“Kalau begitu, apakah saya boleh ke rumah bapak?” tanya Bagus.
“Ada sesuatu yang hendak saya bicarakan yang kemarin belum sempat saya katakan,”
“Wati tidak ada. Dia sedang bekerja,” jawab Wibowo.
“Tapi, pak…”
“Sudah, sudah. Kamu pulang saja sana! Orang kaya seperti kamu tidak pantas berada di tempat kumuh begini.” hardik Wibowo seraya mengibaskan tangan kanannya.
“Baik, pak. Saya permisi…”
“Assalamualaikum?” ucap Bagus akhirnya.

Bagus meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewa dalam hati, padahal hampir saja ia akan bertemu dengan gadis yang sedari tadi dicari-cari.

Wibowo menoleh, “Waalaikumsalam,” gumamnya.

Tanpa tersadar gambar sketch Bagus masih ada terpegang oleh tangan kirinya. Wibowo mengamati gambar itu sekali lagi, gambar itu memanglah gambar putri semata wayangnya, Wati.

“Gambar ini sangat sempurna,” ucap Wibowo.

Sementara itu,

Bagus melewati jalan setapak di antara tumpukan sampah itu dengan menunduk, begitu kecewanya ia karena diusir oleh ayahnya Wati.

Wati menoleh ketika di dekatnya lewat seseorang berseragam sma yang berjalan seraya menunduk, entah mengapa ia tak asing dengan orang tersebut.
Butuh waktu beberapa saat lamanya untuk Wati mengingat siapa orang itu.

“Oh, dia… Anak yang di asrama itu,” kata Wati dengan mata yang berbinar.
“Bagus,” kata dia lagi.
“Bagus!” teriak Wati.

Secara spontan Wati berlari mengejar Bagus. Namun terlambat, Bagus terlihat telah memasuki sebuah bis yang kemudian bis itupun berjalan.
Wati berusaha mengejar bis tersebut, ia berlari seraya melambaikan tangan. Namun baik supir bis ataupun Bagus tak sadar akan keberadaan Wati. Akhirnya Wati menyerah, ia pun berserah. Merelakan Bagus pergi.

“Bodoh. Kenapa juga aku mengejarnya sampai sejauh ini?” tanya Wati pada dirinya sendiri.
“Tapi untuk apa dia datang kemari?” tanyanya lagi.

✳✳✳

“Assalamualaikum?” ucap Wati seraya membuka pintu.
“Waalaikumsalam,” jawab Wibowo.
“Sudah pulang kamu?” tanya Wibowo.
“Iya, pak.” jawab Wati seraya meletakkan keranjang yang digendongnya sedari tadi.
“Duduk sini,” perintah Wibowo.
“Ada apa memangnya?” tanya Wati antusias.
Wati pun duduk di depan bapaknya, “Siapa orang kaya itu?” tanya Wibowo.
“Orang kaya, maksud bapak?” tanya Wati.
“Anak lelaki yang pakai baju sma itu,” jawab Wibowo.
“Baju sma, jangan-jangan dia…” kata Wati dalam hati.
“Kok diam?” tanya Wibowo lagi.
“Itu pak, itu…”

Wibowo menepuk meja hingga membuat Wati terkesiap. Sesaat kemudian ia mengeluarkan gambar sketch yang dikantonginya.

“Anak itu datang ke tempat sampah sambil membawa gambar ini,” kata Wibowo.

Wati mengambil gambar itu, ia terkejut karena ternyata objek gambar tersebut adalah dirinya. Ia pun hanya diam tak bergeming masih menatap terus gambar tersebut.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

4 thoughts on “Bhayangkara : Part 5

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s