Posted in Cerbung, Cerpen

Bhayangkara : Part 6

“Tuh, kan. Diam lagi,” kata Wibowo.
“Maaf, pak.” ucap Wati.
“Sebenarnya, Wati juga gak kenal sama orang ini. Cuma pernah ketemu sekali saat Wati main ke asrama.” kata Wati.
“Kamu ke asrama? Asrama kepolisian itu? Untuk apa?” tanya Wibowo.
“Aduh, mati aku. Malah keceplosan segala,” batin Wati.
“Itu pak, di sana banyak sampah yang bisa dijual. Jadi Wati sering kesana,” jawab Wati.
“Oh, kirain bapak kamu ngapain,”kata Wibowo.

✳✳✳

Sembari memunguti sampah, Wati melihat pada kerumunan para polisi yang berbaris di lapangan itu. Betapa bahagianya bila cita-citanya dapat tercapai, menjadi seperti orang-orang itu.

“Hoi!!!” teriak Bagus seraya menghentakkan kakinya ke tanah.
Wati terlonjak, ia kemudian menoleh, “Bagus,” kata Wati seraya memoyongkan bibir.
“Lagi apa sih?” tanya Bagus seraya terkekeh.
“Gue lagi lihat mereka,” jawab Wati seraya menujuk ke kerumunan orang-orang berseragam itu.

Hati Bagus bagai terdera suatu luka tak bernama tetapi mampu menimbulkan sembilu, ia pun berpikir kenapa ia yang bisa menjadi seorang polisi malah tidak bergairah. Sedang orang yang ada di depannya kini, matanya berbinar-binar ketika ada di tempat ini.

“Cita-cita kamu mau jadi seorang polisi, ya?” tanya Bagus.
Wati mengangguk, “Tapi itu suatu hal yang mustakhil, karena gue ini seorang miskin.” jawab Wati.
“Oh iya, loe juga pasti mau jadi seorang polisi ya? Buktinya selalu datang ke sini,” tanya Wati.
“Iya.”
“Tidak. Itu bukan cita-cita saya, itu cita-cita kakek.” jawab Bagus air mukanya terisi kesedihan.
“Lagi pula, saya ke sini bukan untuk hal itu,” kata Bagus.
“Lalu untuk apa?” tanya Wati.
“Untuk menemui kamu,” jawab Bagus seraya tersenyum.
“Gue?” tanya Wati seraya menujuk ke dirinya sendiri.
“Kenapa? Ada apa dengan gue emangnya?” tanya Wati lagi.
“Kamu cantik, dan saya menyukai kamu.” jawab Bagus.

Jantung Wati berdetak tak menentu, nafasnya juga tak beraturan. Sebenarnya ia kesal karena Bagus berbicara seperti itu, akan tetapi entah kenapa sebuah senyuman justru terbit di wajahnya meski hanya sekejab.

“Ngaco loe!!!” teriak Wati sambil masih menahan senyum agar tak lagi mengembang.
“Udahlah, gue pergi dulu.” kata Wati.
“Ta-pi… Saya serius ini,” kata Bagus.

Wati tak mengindahkan, ia berlenggang pergi meski keranjang yang digendongnya masih kosong.

“Bagus!” teriak Wati dari kejauhan.
Bagus menoleh, “Terima kasih untuk gambarnya, gambar kamu bagus.” teriak Wati lagi.
“Iya!!!” Bagus ikut berteriak.
“Bagaimana tentang rasa cintaku ini,” gumam Bagus.

Wati kembali melangkahkan kaki, ia tak dapat lagi menahan senyumannya agar tak mengembang. Maka berhiaslah senyum di wajahnya yang membuatnya terlihat semakin cantik.
Kemudian ketika ia telah benar-benar jauh dari keberadaan Bagus, ia melompat kegirangan karena Bagus menyatakan cinta kepadanya. Sesungguhnya memang sudah ada sesuatu yang aneh ketika ia pertama kali melihat Bagus. Getaran-getaran yang selalu sama yang belum pernah ada, ternyata adalah sebuah cinta.

“Kira-kira Wati nerima atau nolak ya? Gak jelas gitu,” kata Bagus pada dirinya sendiri.

Sementara itu tanpa sepengetahuan Bagus, diam-diam kakek mengamati Bagus dari kejauhan.

“Oh, rupanya hal itu yang membuat kamu bersemangat datang ke sini? Jika memang begitu, aku harus melakukan sesuatu,” kata kakek.

“Dia siapa, Gus?!” teriak kakek sembari berjalan ke arah Bagus.
“Eh, kakek. Jadi kakek melihatnya?” Bagus justru balik bertanya.
“Iya. Kelihatannya kamu dan dia akrab sekali ya…” kata kakek.
“Gak kok, dia cuma temen saya. Namanya, Wati.” kata Bagus memperkenalkan seraya tersenyum.

Namun mata yang berbinar itu tak dapat menyembunyikan perasaan hati yang mencinta dengan tulus adanya. Secerca harapan mulai terbit di benak kakek, mimpinya menjadikan Bagus seorang polisi sepertinya akan segera terwujudkan.

Kakek pun tersenyum karena hal yang ada di benaknya itu, “Kakek kenapa tersenyum begitu?” tanya Bagus.
“Ah, gak kok. Ayo kita pulang!” ajak sang kakek seraya merangkul Bagus.

Dalam hati, Bagus merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kakeknya. Meski begitu ia menghiraukannya karena masih memikirkan perihal pertemuannya dengan Wati tadi. Hatinya merasa lega meski tak sepenuhnya lantaran Wati belum memberikan jawaban yang pasti apakah menolak atau menerima cinta Wati.

✳✳✳

Suatu hari, kakek menyempatkan diri untuk mencari alamat Wati seorang diri. Untuk suatu misi yang hanya ia yang tahu akan hal itu.
Kakek melewati jalan setapak yang di kiri dan kananya terdapat rerimbunan sampah. Sejak tadi, sepanjang perjalanan belum ia temui satupun orang untuk ditanyainya.
Akhirnya di suatu pinggiran sungai yang berdiri rumah-rumah kumuh ia bertemu dengan seseorang, orang itu tengah memilah sampah.

“Permisi, apakah anda tahu rumah seorang pemulung bernama Wati?” tanya kakek.

Orang itu menoleh, sesaat ia pun berdiri.

“Wati, tahu pak. Itu rumahnya di pojokan.” jawab orang itu seraya menujuk ke arah rumah yang ada di pojok deretan rumah kumuh ini.
“Terima kasih,” kata kakek seraya tersenyum.

Orang tersebut menanggapinya dengan sebuah senyuman pula, sementara kini kakek berjalan menuju ke rumah Wati.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s