Posted in Cerbung

Bhayangkara : Part 7

“Permisi,” ucap kakek seraya mengetuk pintu rumah itu.
“Permisi,” ucapnya lagi dengan ketukan yang lebih keras.

Beberapa saat lamanya kakek menunggu, namun tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia menyerah dan hendak pergi dari rumah itu.

Mungkin memang tidak ada, besok sajalah. Kata kakek dalam hati.

Tetapi langkah kakek terhenti ketika seseorang juga berhenti di depan rumah itu, “Permisi, apakah kamu Wati?” tanya kakek.
“Iya, benar. Kakek ini siapa ya?” tanya Wati.
“Perkenalkan, saya kakeknya Bagus,” kata kakek seraya menjulurkan tangan.

Wati menjabat tangan kakek seraya tersenyum, setelah itu ia mempersilakan kakek untuk masuk ke rumahnya.

“Jadi, kakek ke sini itu ada perlu sama kamu,” kata kakek.
“Apa itu, kek?” tanya Wati penasaran.
“Saya mau membiyayai kamu sekolah di akademi kepolisian,” kata kakek.
Mata Wati membelalak, ia masih tak percaya akan apa yang diucapkan sang kakek. “tapi dengan satu syarat,” kata kakek.
“Kakek serius ini? Syarat apa?” tanya Wati lagi.
“Oh, tentu. Saya selalu bersungguh-sungguh,”
“Kamu ajaklah cucuku untuk bersekolah di sana juga,” kata kakek.
“Mudah bukan?” tanya kakek.
“Seperti apa caranya, itu terserah kamu. Yang terpenting dia harus ikut kamu. Kamu bisa berpura-pura memacari dia, karena kelihatannya dia tertarik dengan kamu.” kata kakek.

Gue memang mencintai dia, itu tak butuh suatu kepura-puraan. Kata Wati dalam hati.

Wati mengangguk, sedang sang kakek tersenyum. Tetapi dalam hati Wati ia merasa takut perihal hati Bagus bila mengetahui semua ini.

Beberapa hari kemudian…

Wati mengajak Bagus untuk mengunjungi sebuah taman kota, hari ini ia akan menjawab cinta Bagus.
Wati terlihat cantik meski gaun yang dipakainya ialah sebuah gaun usang, satu-satunya yang ia punya. Sementara Bagus nampak necis dengan kemeja berwarna biru muda yang ia kenakan.

Wati memegang kedua tangan Bagus, “Gue mau ngomong sesuatu sama loe,” kata Wati.

Sedang Bagus termangu karena wanita yang dipuja memegang kedua tangannya. Kalau saja Wati tak meremas tangan Bagus yang tengah dipegangnya itu, mungkin Bagus tetap akan termangu seperti itu.

“Kamu mau ngomong apa?” tanya Bagus masih nyengir kesakitan.
“Gue mau terima cinta loe,” jawab Wati.
“Serius?” tanya Bagus.

Wati mengangguk seraya tersenyum, sedang Bagus yang kegirangan lalu merentangkan tangan hendak memeluk Wati. Namun Wati dengan sigap menghindar, bahkan setelahnya ia melayangkan pukulan tepat di perut Bagus hingga Bagus berteriak kesakitan.

“Bukan berarti loe bisa bebas ngapa-ngapain gua ya!!!” hardik Wati seraya menujukan kepalan tangan terhadap Bagus.
“Ampun, gak lagi deh.” kata Bagus memelas.

Maafin gue, Gus. Gue terpaksa melakukan semua ini. Loe pasti kecewa kalau tahu yang sebenarnya, tapi gue bener-bener cinta sama loe. Kata Wati dalam hati.

“Kita duduk di bangku itu, yuk!” ajak Wati.

Wati menggandeng tangan Bagus, sedang Bagus masih merintih kesakitan karena pukulan keras oleh kekasih hatinya itu.

“Gue juga ada kabar gembira,” kata Wati.
“Apa itu?” tanya Bagus.
“Jadi gini, gue bertemu dengan seseorang, dia baik banget. Dan loe tahu? Dia nawarin gue buat sekolah di sekolah kepolisian, sama kaya loe,” kata Wati dengan mata yang berbinar-benar, kali ini ia memang mengungkapkan kebahagiaannya.
Bagus menoleh, “Oh iya!” seru Bagus.
Wati mengangguk mantap, “Siapa orang itu?” tanya Bagus.
“Loe gak perlu tahu tentang hal itu, yang penting loe mau kan sekolah bareng gue?” tanya Wati.
“Gue udah bilang sama orang baik itu buat nunggu loe lulus sekolah dulu soalnya,” tambah Wati.

Bagus masih memikirkan hal yang diucapkan kekasihnya itu, tak mudah mengorbankan cita-citanya demi cita-cita kakeknya. Tetapi kini apapun yang ada di depan matanya seolah bisa dilaluinya, semua karena cinta. Dan pada akhirnya Bagus mengangguk, membuat senyum di wajah Wati kembali mengembang.

Saat itu juga Wati memeluk Bagus seraya berkata, “Terima kasih,” ucap Wati lirih.

Dan… Maaf, kata Wati dalam hati.

Satu dua air mata mulai terasa hangat membasahi pipinya, Wati segera menyekanya.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s