Posted in Cerbung

Bhayangkara : Part 8

Satu tahun kemudian…

Wati ikut menjemput Bagus di gerbang sekolah Bagus di hari perpisahan dengan teman-temannya, ditemani sang kakek dan nenek Bagus, bahkan bapaknya sendiri pun kali ini ikut.

“Ingat sama janji kamu, Wati,” bisik kakek.
Bapak menoleh, sementara Wati mengangguk seraya menelan ludahnya. Sesungguhnya ia masih binggung apakah yang dilakukannya ini benar? Di sisi lain ia akan meraih cita-citanya, di sisi lainnya ia tak ingin menyakiti hati orang yang benar-benar dicintai.
Nenek mencolek lengan kakek, “Kakek ini ngapain? Kok bisik-bisik gitu?” tanya nenek.
Kakek tersenyum, “Ah, nggak apa-apa kok.” katanya berdalih.

Meski nenek sudah tahu perihal hubungan percintaan antara cucunya dan Wati, namun ia belum pernah melihat suaminya itu berbicara dengan kekasih cucunya itu dengab cara seperti itu. Ia menerka ada suatu yang disembunyikan antara suaminya dan Wati. Hanya saja ia tak tahu itu apa.
Tak berselang lama setelah nenek memikirkan keganjilan itu, Bagus keluar dengan masih memakai toga dan berlari ke arah gerbang, ke arah kakek, neneknya dan Wati berada.

“Kamu kenapa nangis, Gus?” tanya nenek heran.
Bagus hanya terdiam dan masih terisak, sejurus kemudian ia memeluk neneknya, “Bagus gak nyangka, akhirnya bisa lulus juga,” kata Bagus.
“Kamu memang cucuku yang pintar,” kata nenek seraya mengecup pipi Bagus.

Bagus kemudian melepaskan pelukan itu lalu memeluk kakeknya, dan ini adalah kali pertama Bagus berada sedekat ini dengan kakeknya, bahkan tak bersekat sama sekali. Bersatu dalam haru.

“Terima kasih,” gumam Bagus.

Kakek nampak terkejut, ia juga pertama kali cucu semata wayangnya itu mampu mengucap terima kasih terhadapnya yang mungkin menjadi orang paling dibenci oleh cucunya sendiri karena memaksakan kehendak perihal mimpi: cita-cita.

“Sama-sama, Gus.” kata kakek.

Setelah itu pak Wibowo menjabat tangan Bagus sekedar mengucapkan selamat. Lalu, Wati kemudian memeluk Bagus, akan tetapi tak berlangsung lama lantaran baik kakek, nenek dan juga pak Wibowo, kompak berdeham ketika melihat hal itu.
Dan dengan terpaksa mereka mengakhiri apa yang sebenarnya telah dinanti lama.

Kebersamaan itu diakhiri dengan berlabuhnya mereka di sebuah restoran bergaya pedesaan yang namun letaknya di kota, para orang tua asyik mengobrol, sementara Bagus dan Wati saling berpandangan seraya melempar senyum karena kali ini tak dapat leluasa seperti biasanya.

Pagi harinya…

Bagus yang diantarkan oleh kakeknya mengunjungi makam Andre, ayahnya, pagi-pagi sekali.
Bagus menyusuri jalan setapak menuju ke pekuburan ayahnya, sementara sang kakek menunggunya di mobil. Jalan di pemakaman licin dan basah akibat hujan tadi malam yang mengguyur melukuhlantakkan air mata langit. Jadilah Bagus harus ekstra hati-hati bila tak ingin terjatuh.

Bagus duduk di sebelah makam ayahnya, wajahnya nampak memerah terpapar sinar mentari di pagi menjelang siang.
Tak terasa hangat air matanya berlinang melewati pipi.

“Yah, aku di sini. Aku pulang,” kata Bagus seraya tersenyum.
“Aku baru saja lulus sekolah, yah,”
“Aku harap ayah senang mendengarnya.” kata Bagus lagi.

Bagus menyeka air matanya, sesaat ia kemudian mengatur nafas guna menghilangkan isak tangisnya.

“Aku ke sini juga bawa kabar gembira,” kata Bagus.
“Atau justru kabar duka sebutannya.” gumam Bagus.
Bagus menoleh ke arah mobil kakeknya, “Aku mau jadi polisi, yah. Sama seperti ayah,”
“Terkecuali kakek, ada seorang perempuan yang membuatku ingin ke dunia yang sama dengan ayah. Aku sangat mencintainya, yah. Mungkin itu pula yang membuatku melangkah sampai sejauh ini.” kata Bagus lagi.

Berikutnya, Bagus tak berkata apa-apa lagi, kecuali mengusap-usap nisan ayahnya yang memang sudah usang. Lalu kembali terdiam sebelum akhirnya bunyi klakson menyadarkan Bagus bahwa ia sudah terlalu lama berada di makam ayahnya.

Bagus pun menoleh, ia lihat kakeknya tengah melambai-lambai ke arahnya.

“Yah, aku pulang dulu. Nanti aku pasti ke sini lagi kok,” kata Bagus sambil tersenyum.

Bagus berlenggang pergi, kemeja berwarna hijau muda yang ia kenakan seolah menggambarkan mendiang ayahnya di masa muda yang sangat menyukai warna tersebut.

Sesampainya di parkiran, Bagus yang terlihat lesu sayu langsung masuk ke mobil tanpa ba-bi-bu meski kakek menyambutnya.
Sementara sang kakek melihat ke arah makam anaknya sebelum akhirnya ikit pula masuk ke mobil. Dalam perjalanannya, kakek terlihat mengusap pelupuk mata dengan tangannya sigap. Tak dapat lagi terbendung kerinduan pada anak semata wayang yang kini bersemayam di sisi Tuhan.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s