Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 10

Part 10

Sesampainya di rumah…

Nenek berlari ke arah Bagus begitu mendengar suara vespanya Bagus, berlari sekencang yang ia bisa.

“Kamu lihat itu, Gus!” kata nenek seraya menujuk ke arah samping rumah.
“Memang ada apa, nek?” tanya Bagus.
“Ayo ikut nenek!” kata nenek seraya menggandeng tangan Bagus.

Berjalanlah mereka ke arah samping rumah di mana terdapat kakeknya tengah sibuk memasukkan beberapa komik lalu menyiraminya dengan bensin. Di sekitaran tempat sampah itu juga terdapat lebih banyak lagi, sekitar ratusan.

“Astaga, nek. Bagaimana kakek bisa tahu?” tanya Bagus.
Nenek menoleh, menatap ke arah Bagus dengan tatapan mata nan sayu. “I-itu, sebenarnya…” kata nenek terbata.

Nenek pun teringat akan kejadian tadi siang ketika kakek masuk ke gudang karena pintunya dibiarkan terbuka begitu saja. Saat itulah kakek melihat sebuah lemari nampak begitu bersih, bahkan seperti memang sengaja dibersihkan. Kakek kemudian berjalan mendekati lemari itu yang kebetulan nenek melihatnya. Lalu ketika kakek menemukan di dalam lemari terdapat banyak sekali komik, ekpresi wajahnya sungguh bernas terisi oleh kemarahan. Membuat nenek menjadi tak berani bahkan untuk menghamiri suaminya.
Kakek kemudian mengambil semua komik-komik itu lalu diambilnyalah pula bensin.
Nenek yang melihat hal itu kemudian mencoba mencegahnya, namun ia malah terkena cerarau kejam dari sang suami. Akhirnya ia berserah, membiarkan barang kesayangan cucunya musnah terlalap bara api.

“Ini salah kamu, Gus. Karena kelupaan menutup pintu gudang,” kata nenek.
“Tapi nenek juga minta maaf karena tak dapat mencegah kakekmu,” kata nenek.
“Bagus! Sini kamu!!!” teriak kakek dengan kencangnya dan tetiba hingga mengagetkan nenek dan Bagus sendiri.

Dengan ragu, akhirnya Bagus menuruti perintah kakeknya dan berjalan ke arah kakeknya.

“Kenapa kamu masih menyimpan barang-barang ini?!!!” tanya kakek dengan nada yang amat tinggi.
Bagus hanya terdiam, ia menunduk pasrah.
“Kenapa diam? Jawab kakek!!!” hardik sang kakek.

Bagus masih diam, ia tak tahu lagi harus berkata apa sedang perasaan hatinya bercampur aduk antara rasa kesal dan sedih melihat barang kesayangan lenyap begitu saja.
Akhirnya karena kesal, kakek melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah Bagus hingga membuat Bagus jatuh tersungkur dan hal itu mampu membuat bibir Bagus sampai berdarah.
Nenek yang melihat dari kejauhab secara spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan, sungguh ia ingin berlari ke arah cucunya lalu melindunginya, namun bila sudah kalut marut seperti ini pasti nanti masalahnya akan semakin bertambah parah.

“Kalau ayah masih hidup, ia pasti tak akan sampai hati melakukan semua ini.” gumam Bagus.
“Apa!!!” teriak kakek.
Bagus menoleh ke arah kakeknya seraya menatap tajam, “Jika ayah masih hidup, saya pasti akan bahagia. Karena ayah tidak akan mungkin sampai hati melakukan apa yang saat ini anda lakukan.” jawab Bagus.
“Kurang ajar!!!”

Kakek kemudian berlari ke arah Bagus lalu memukuli Bagus berkali-kali. Bagus hanya terdiam meski tubuhnya yang dua kali lebih besar dari kakeknya sebenarnya bisa dengan mudah mengalagkan kakeknya.

“Aku lelah, yah,”
“Aku merindukanmu,”
“Aku ingin bersanamu.” batin Bagus.

Sementara nenek yang melihatnya kini memberanikan diri berlari menuju ke tempat berlaga suami dan cucunya itu. Ia kemudian mendorong suaminya hingga terjatuh.

“Kamu ini apa-apaan? Cucu sendiri kok dipukuli,” kata nenek kesal.
Nenek kemudian memegangi kepala Bagus, “Astaga,” ucap nenek sembari geleng-geleng kepala.

Sementara itu kesadaran Bagus kian memudar, langit biru yang beberapa detik yang lalu dilihatnya kini berwarna gelap pekat. Sejurus kemudian hanya suara neneknya yang terdengar terus menerus memanggil namanya, sampai di ambang antara sadar dan lelap, teriakan sang neneklah yang mengiringi. Masih memanggil namanya.

“Bagus, bagun!” teriak nenek.
“Jangan diam saja kamu, cepat bawa cucu kita ke mobil, kita ke rumah sakit sekarang.” perintah nenek.
“Yusup!!!” teriak nenek karena kesal lantaran suaminya itu hanya terdiam, ini juga adalah kali pertama ia memanggil suaminya dengan sebutan nama.

Kakek kemudian mendekati Bagus, dalam hatinya ia menyesal karena telah membuat cucunya babak belur berdarah sampai tak sadarkan diri seperti itu. Sekuat tenaga ia kemudian menggendong Bagus lalu membawanya ke mobil.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Bhayangkara : Part 10

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s