Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 11

Sepanjang perjalanan, sepasang suami istri itu hanya terdiam. Sembari menyetir, kakek sesekali menoleh ke arah Bagus yang tak jua terbangun meski berkali-kali sang nenek memanggil namanya: mencoba membangunkan.
Sementara itu air mata sang nenek kian mengalir deras karena dirundung kesedihan juga takut jika terjadi suatu hal yang tak diinginkan pada cucunya itu.

Sesampainya di rumah sakit, Bagus langsung dibawa ke ruangan khusus untuk segera ditangani. Sedangkan nenek dan kakek menunggu di luar sembari berharap cemas dan mondar-mandir ke sana ke mari tak menentu sepanjang pemeriksaan yang dijalani Bagus.
Sampai akhirnya seseorang keluar dari ruangan itu dan membuat kakek serta nenek ingin segera menghampirinya. Tetapi orang berbaju putih yang diketahui adalah seorang perawat itu langsung berlari bahkan sebelum kakek dan nenek melontarkan sebuah pertanyaan.
Setelah perawat itu kembali pun baik kakek maupun nenek hanya terdiam karena perawat itu bergerak dengan begitu gesit meski mereka berdua teramat ingin menanyakan barang sebuah pertanyaan saja kepada perawat itu.
Mereka kemudian kembali menunggu, kembali mondar-mandir lagi dan atmosfer hanya terisi oleh senyap atau lalu lalang orang-orang melewati lorong tempat mereka berdiri saat ini.
Sampai pada akhirnya setelah menunggu sekian lama, perawat yang tadi dilihat oleh kakek dan nenek itu keluar, yang kali ini dengan seorang dokter wanita muda.

“Bagaimana keadaan cucu saya, dok?” tanya nenek.
Dokter itu tersenyum ramah, “Pasien baik-baik saja, hanya perlu istirahat dan mohon maaf untuk saat ini belum bisa dijenguk.” jawab sang dokter.
“Oh… Terima kasih,” kata nenek.

Dokter itu hanya sekali lagi tersenyum sebelum berlenggang pergi dari sana, sementara nenek memandang tajam ke arah kakek, sungguh kali ini ia tak punya sedikitpun dan tak peduli jika nanti ia mendapat perlakuan seperti yang dilakukan terhadap Bagus.

“Lihat!” hardik nenek.
“Ini semua gara-gara kamu,”
“Masalah komik aja kok sampai kaya gini.” kata nenek, nada bicaranya berangsur meninggi dan bibirnya kian monyong.
Kakek yang menunduk kemudian mendongak, “Ini kan demi cita-cita Bagus juga, nek,” kata kakek pelan.
“Cita-cita Bagus kamu bilang?” tanya nenek.
“Ini adalah cita-cita kamu.”
“Gak cukup apa kamu hancurkan mimpi Andre yang sebenarnya ingin menjadi guru?” tanya nenek lagi.

Lalu mengalirlah air mata mengalir membasahi pipinya yang kering keriput, kakek yang melihatnya merasa sangat bersalah dan dalam hatinya ia pun merasakan kesakitan yang dirasakan istrinya itu. Entah mengapa.

Sedangkan sang nenek malah teringat akan kejadian di mana ia bersama-sama dengan anaknya dulu…

Waktu itu,

“Ibu, lihat ini,” kata Andre seraya memberikan sebuah buku pelajaran.

Nenek terkejut, dan sekejab kemudian ia menyunggingkan seutas senyum, sebuah senyum kebanggaan karena anaknya itu telah meraih nilai yang begitu bagus.

“Kamu memang pandai, Andre,” kata nenek seraya mengusap-usap lembut rambut Andre kecil.
“Andre memang pandai, bu. Andre harus pandai karena suatu saat nanti Andre akan menjadi seorang guru.” kata Andre.
“Oh iya?” tanya nenek.
“Bukan guru, tapi polisi.” tukas kakek yang tetiba sudah ada di antara mereka.
Andre menoleh ke arah ayahnya, “Tapi yah, Andre itu pengen jadi guru, bukan polisi.” protes Andre.
“Tidak. Pokoknya kamu harus tetap jadi polisi.” kata kakek.

Andre tak dapat berkata-kata lagi, sementara nenek yang melihatnya geleng-geleng kepala atas perkataan suaminya itu sebab akan menyabotase impian anaknya sendiri.

Hari itu pun tiba, di mana Andre benar-benar dilema antara mimpi ayahnya dan juga mimpi dirinya sendiri. Di satu sisi ia teramat sangat ingin menjadi seorang guru, di sisi lainnya ia tak ingin pula mengecewakan ayahnya yang sudah susah payah menyekolahkan dirinya hingga sampai sekarang ini. Akhirnya dengan berat hati Andre menuruti perintab ayahnya dan ia pun hendak masuk ke sekolah kepolisian.

“Apa kamu yakin?” tanya nenek.
“Saya yakin, bu. Lagi pula nanti saya masih bisa mengajar, mengajar siapapun dan tak harus di kelas pula.” kata Andre tersenyum.

Senyuman itu, entah kenapa membuat batin nenek memekik. Ia adalah orang yang paling tahu rasa sakit yang dirasakan anak semata wayangnya itu.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s