Posted in Cerbung

Bhayangkara : Part 12

Di dalam asrama pun Andre menemukan berbagai macam orang, ada yang begitu antusias dan ada pula yang tak mempunyai sedikitpun asa seperti dirinya. Tapi di atas semua itu ia menemukan seorang yang begitu sangat ingin menjadi polisi, hanya saja ia tak lulus. Namanya Fajar, ia harus menerima kenyataan dengan tak dapat melanjutkan ke tahap berikutnya karena tinggi badannya yang tidak memenuhi syarat. Ia begitu kecewa dan terpukul atas kenyataan pahit itu, air matanya bahkan mengalir deras setelah pengumuman dibacakan.
Sementara Andre yang tak berharap untuk terus berlanjut malah justru lulus, karena hal itulah Fajar memberikan sebuah janji kepada Andre karena saat itu ia juga paling dekat dengan Andre.

“Tolong, ku mohon, mulai sekarang kau yang serius. Masih banyak di luaran sana orang sepertiku yang hendak menjelangi jalanmu tetapi tak bisa karena suatu halangan, sepertiku misalnya yang kekurangan tinggi badan.”
“Apakah kau mau berjanji kepadaku?” tanya Fajar seraya menjulurkan tangan.
Andre tersenyum, perlahan semangat di dalam jiwanya tumbuh. “Aku janji, dan aku tidak akan pernah mengingkari. Mulai sekarang, aku akan serius.” kata Andre.

Andre tak menjabat tangan Fajar, tetapi ia medekap Fajar lalu menepuk punggungnya beberapa kali. Sesaat setelah itu Fajar yang tenggelam dalam pelukan Andre semakin menjadi tangisnya teringat akan kegagalan yang baru saja ia dapatkan. Pakaian yang dikenakan Andre pun mulai basah tertetesi tetesab air mata kesedihan Fajar.

Sejak saat itulah Andre benar-benar serius dalam kepolisian, ia bahkan tak pernah lagi merasa terpaksa seperti dulu ketika ayahnya memaksanya. Semua berjalan begitu saja seiring berjalannya waktu, dan Andre menjadi seorang polisi.

✳✳✳

Bagus akhirnya terjaga dari tidur panjangnya pada suatu malam dan ia lihat di sampingnya neneknya tertidur menunggui dirinya. Aroma kimia mengisi seisi ruangan ini, saat itu Bagus tahu ada di mana.

“Nek,” panggil Bagus.
Nenek masih terlelap dalam tidurnya, “Nenek!” panggil Bagus lagi yang mencoba dengan nada yang lebih tinggi.

Akhirnya Bagus menggerakkan tangannya yang masih lemah lalu menyentuh lengan nenek, nenek sedikit terkejut dan terbangun.

Nenek menoleh ke arah Bagus, “Kamu sudah bangun? Kamu mau apa? Makan, minum?” tanya nenek.
Bagus menggeleng, “Saya mau pulang saja nek,” jawab Bagus.
“Gak bisa. Kata dokter, kamu masih harus dirawat di sini,” kata nenek.

Setelahnya Bagus hanya terdiam, kata neneknya yang baru saja diucapkan adalah sebuah pertanda bahwa ia akan bergelut dengan ruangan membosankan berbau aroma kimia ini dalam kurun waktu yang cukup lama.
Kakek yang tertidur lelap di sofa pun terbangun setelah mendengar pembicaraan Bagus dan nenek, ia segera menghampiri mereka ketika tahu bahwa Bagus sudah bagun.

“Kamu sudah bangun, Gus?” tanya kakek.
Air muka Bagus seketika terisi oleh kekesalan, “Nek, saya mau sendiri dulu.” kata Bagus seraya melihat ke arah neneknya.
Nenek melirik ke arah kakek sekejab, “Baiklah,” kata nenek.

Nenek kemudian meraih tangan kakek lalu membawanya pergi dari ruangan itu, sedang Bagus masih dirundung kekesalan lantaran kejadian hari ini yang menimpanya.

“Kamu lihat sendiri, cucumu kini enggan meski hanya menjawab sebuah pertanyaan. Dia kini membencimu, atau, semakin membencimu.” kata nenek.
Kakek menoleh, “A-ku…”

Nenek meninggalkan kakek bahkan sebelum kakek mengucapkan sepatah katapun, sama seperti Bagus, ia juga masih sangat kesal pada suaminya itu.

“Aku minta maaf,” gumam kakek akhirnya sembari menatap punggung nenek yang lesap tertelah ujung lorong rumah sakit ini.

Kakek tak tahu harus berbuat apa lagi, ingin sekali ia mengejar nenek lalu mengucapkan kata yang belum sempat terucapkan, atau masuk ke dalam ruangan lalu mengucapkannya kepada Bagus, tapi Bagus pun tak menginginkan keberadaannya. Akhirnya ia berjalan keluar, bukan untuk mengejar nenek melainkan menuju ke parkiran.
Ia kemudian keluar dari rumah sakit itu lalu berjalan tak menentu ketika tengah malam dan jalanan lengang. Entah kemana tujuan perjalan.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s