Posted in Cerbung

Bhayangkara : Part 13

Malam itu, kakek akhirnya ke makam Andre. Berhentilah ia di sebuah tanah lapang setelah melewati rerimbunan pohon.
Ia kemudian berjalan menyusuri jalan setapak menuju makam anaknya itu, bersiap untuk mengadu setelah tak tahu kepada siapa lagi ia akan bercerita.

Ia duduk di dekat makam Andre, “Ayah di sini, Ndre,” kata kakek.

Kakek kemudian mengusap nisan bertuliskan nama anaknya itu yang basah karena embun. Sekejab, air matanya tumpah ruah, meluapkan kesedihan yang dirasa.

“Apa ayah salah, Ndre? Memaksa kamu dan anakmu,”
“Tapi, sesungguhnya ayah cuma tak mau kamu dan Bagus gagal seperti ayah,” kata kakek.

Isak tangis kakek mengisi malam yang sunyi setelah ia tak bisa berkata-kata lagi di depan makam anaknya.

———–

Terlihat Andre tengah berbicara dengan seseorang di telepon, sedang Bagus berada di sebelahnya. Air muka mereka tampak serius, di tangan kanan Andre dan Bagus terpegang sebuah pistol. Setelah panggilan telepon itu diakhiri, Andre dan Bagus kemudian masuk ke mobil, mobil itu pun dihidupkan lalu melaju kencang menyibak kemacetan kota dengan sirine khas mobil patroli. Setelah keluar dari perkotaan, mobil itu lalu melaju lagi menyusuri jalan di pegunungan. Hingga sampailahdi sebuah tanah lapang di mana mereka memarkirkan mobilnya.
Andre dan Bagus keluar dari mobil itu, masih dengan sama-sama menenteng senjata api di tangan kanannya. Baju yang dikenakan mereka tak pernah terlihat kotor maupun usang, baju itu selalu terlihat baru.
Mereka kemudian berjalan menuju sebuah gudang, kini pistol itu disembunyikan di balik punggung mereka. Sedang di dalam gudang itu telah ada seorang dengan penampilan selayaknya preman lengkap dengan tato dan anting-anting serta rambut yang tak beraturan membuatnya terlihat seram.
Ayah dab anak itu berjalan menuju ke orang itu, lalu berhenti di depannya.

“Selamat datang, Bripda Andre, dan kau polisi kecil.” kata orang tersebut sembari melambaikan tangan.
“Sudahlah, Bob. Tidak usah banyak basa-basi. Mari kita lakukan!” perintah Andre.
Orang itu kemudian membuka jaketnya hingga nampaklah dada bidang penuh luka sayatan serta perutnya yang kotak-kotak. “Sabar, pak polisi. Aku bahkan belum menjamuimu,” kata Bob sembari bangkit berdiri.

Terlihat seorang di lantai dua gedung itu melambai-lambaikan tangan, memberi isyarat kepada Bob atas sesuatu.

“Bajingan kau polisi!!!” teriak Bob.

Bob kemudian bertepuk tangan beberapa kali hingga terdengarlah suara tembakan yang tembakan itu mengenai perut Andre. Andre jatuh tersungkur, sedangkan seseorang di balik singgasana Bob keluar dengan senjata apinya.
Bagus yang melihat hal itu langsung mendekati ayahnya, panik, ia malah tak dapat berbuat apa-apa dan hanya terdiam. Tubuhnya pun bergetar hebat, ia ketakuatan. Karena sejurus kemudian orang-orang yang datangnya entah dari mana bermunculan yang masing-masing dari mereka membawa senjata.

“Ayah, bagaimana ini? Ayah tidak apa-apa kan?” tanya Bagus.
Bagus mengeluarkan pistolnya, “Jangan!” teriak Andre.
Bob yang melihatnya kemudian menyeringai, “Buang senjatamu, polisi kecil!” perintah Bob.

Bagus menuruti perintah Bob dan meletakkan senjatanya. Kemudian seorang dari arah belakang menyergap Bagus hingga ia terjatuh. Tak puas, orang itu kembali menyerang Bagus, kali ini dengan sebuah balok kayu yang diraihnya. Bagus mencoba melawan, tetapi dilihat dari manapun Bagus tetap akab kalah. Bagaimana tinggi dan besarnya tangan kanan Bob itu.
Bagus mendapatkan sebuah pukulan keras tepat di kepalanya. Mengalirlah darah mengucur dari kepalanya, ia tak lagi bergerak tetapi masih tersadar dan merasakan kesakitan-kesakitan yang ada.

“Bagus!!!” teriak Andre.

Andre merangkak menuju ke arah Bagus, ia kemudian hendak menyentuh Bagus, tetapi Bob berlari ke arah Andre dan meraihnya lalu melempar Andre hingga terbentur tembok. Andre merintih kesakitan sembari memegangi perutnya, sedang Bob tertawa, girang melihat Andre tersiksa.

“Mari kita mulai,” ajak Bob.

Sekuat tenaga Andre berusaha berdiri, meski tungkai-tungkainya bergetar, meski darah semakin mengucur dari luka tembakan di perutnya.

Tangan Andre mengepal, Bob yang melihatnya lalu mendekatkan pipinya ke arah Andre. “Pukul aku,” perintah Bob.
Andre pun memukul Bob, akan tetapi Bob malah tertawa. “Pukul lagi,” perintah Bob lagi.
Andre memukulnya lagi, namun lagi-lagi Bob tak bergeming dan hanya terus tertawa.

“Harusnya kau pukul aku seperti ini,” kata Bob seraya melayangkan pukulan di pipi Andre hingga wajah Andre biru lebam.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s