Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 14

Bob kemudian meraih Andre, memaksa Andre yang lemah untuk berdiri lalu Bob memukulinya bertubi-tubi: tanpa ampun tepat di perutnya yang tertembak tadi.
Darah bermuncratan dari mulut Andre sampai Andre terbatuk-batuk, tetapi Bob masih saja memukulinya. Akhirnya Bob berhenti dan kembali Andre terjatuh, Bob lalu mengambil sebuah pistol dan mengarahkan tepat di kepala Andre.

“Jangan,” kata Bagus lirih.

Tetapi Bob menarik pelatuk senjata api itu lalu meluncurlah timah panas menuju kepala Andre, di saat yang sama bunyi tembakan itu terdengar nyaring menusuk telinga sesiapa saja yang ada di sana.
Tubuh Andre menggelepar-gelepar sebelum akhirnya terdiam kaku; mati. Satu, dua, air mata mengalir dari mata Bagus.

“Ayah,” kata Bagus seraya merangkak ke arah ayahnya.

Bob yang melihatnya kemudian menembaki Bagus beberapa kali di punggungnya hingga penuhlah luka bekas tembakan juga darah dan Bagus pun mati.

———-

Keringat bercucuran mengaliri kening kakek, nafasnya memburu dan jantungnya berdegub kencang ketika ia terjaga. Cahaya mentari masuk melalui kaca mobil yang sedikit terkuak, hangat sinarnya menyadarkan bahwa kakek tertidur di parkiran pemakaman ini.

“Cuma mimpi,” kata kakek seraya menyeka peluh yang memenuhi wajahnya.

Kakek lalu menghidukan mesin mobilnya lalu keluar dari komplek pemakaman itu, dalam pikirnya ia ingin segera menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Bagus.

Sepanjang perjalanan, kakek terus memikirkan tentang mimpinya itu. Bagaimana penyiksaan dan kesakitan yang dialami Bagus dan Andre terasa begitu nyata yang memang hal itu terjadi dengan Andre.
Kakek selalu berkata pada dirinya tentang kematian Andre, “Itu adalah resikonya menjadi seorang patriot,” meski batinnya memekik dan kadang pula ia menyalahkan dirinya sendiri.

Kakek tiba di rumah sakit itu tepat ketika Bagus dan nenek tengah menikmati sarapan, kakek pun ikut duduk di sebelah Bagus. Bagus masih saja dengan ekpresi wajah yang tidak suka.

“Kakek ini kemana saja, kok nomornya gak aktif?” tanya nenek.

Sebab meski nenek tengah mengambek, tetapi tetap saja suaminya itu butuh diperhatikan.

“Mari ikut makan,” kata nenek.

Kakek pun sebenarnya ingin ikut makan bersama dengan mereka, menuruti panggilan alam yang mendera perutnya sepanjang perjalanan ke rumah sakit ini, tetapi begitu melihat ekpresi wajah Bagus yang masih kesal, ia pun mengurungkan niatnya. Ia pun ke sini hanya untuk memastikan keadaan Bagus.

“Kakek makannya nanti saja,” kata kakek.

Kakek pun lalu pergi dari sana, dan baru berselang beberapa menit saja setelah kepergian kakek, Bagus dan neneknya kembali tersenyum dan tertawa yang kebetulan kakek melihatnya.
Melihat Bagus bisa tersenyum, hati kakek merasa bahagia. Tetapi di sini lain ia juga sedih lantaran mereka berbahagia tanpa dirinya.

Kakek lalu kembali ke parkiran, menghidupkan mesin mobilnya lalu melaju lagi. Kali ini rumah Wati yang hendak ia tuju.

Sementara itu…

“Apa dia lupa kalau tadi malam itu adalah malam minggu?” tanya Wati.
“Atau dia sibuk? Tapi gak mungkinlah, dia kan sudah lulus sekolah,”
“Kenapa dia gak datang ya?” tanya Wati lagi.
“Jangan-jangan…”

Dan pertanyaan demi pertanyaan itu terus timbul di benak Wati, menjadikan perasaab hati Wati resah gelisah.

“Memangnya hari ini kamu mau libur? Kok masih di rumah aja?” tanya pak Wibowo dari arah belakang hingga mengagetkan Wati.
Wati menoleh, “Nggak, pak. Ini Wati juga lagi mau berangkat kok,” jawab Wati dengan tersenyum.

Lalu setelah Wati mencium tangan bapaknya, ia pun meraih keranjang di depannya dan pergi menyongsong mentari pagi dengan binar nan jamal.

“Anak itu, pasti memikirkan kekasihnya,” kata pak Wibowo pada dirinya sendiri.

Hanya berselang beberapa meter saja setelah Wati melangkahkan kaki, ia menjumpai kakek tengah berjalan ke arahnya.

Wati pun terdiam heran, “Bukankah harusnya Bagus yang datang ke sini, ini kenapa malah kakek yang datang?” tanya Wati dalam hati.

Wati tersenyum, “Selamat pagi, kek,” sapa Wati.
“Kakek tumben datang ke sini sepagi ini,” kata Wati.

Kakek tak membalas sapaan Wati bahkan sebuah senyuman pun tak mampu terbit di wajah keriputnya, ekpresinya masih sama; datar.

“Kamu ikut saya ke rumah sakit sekarang.” kata kakek.
“Rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit, kek?” tanya Wati.
“Bagus.” jawab kakek.

Jantung Wati berdegub kencang, ia akhirnya menemukan jawaban mengapa malam minggu yang harusnya mencipta temu malah berlalu tanpa lagu.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s