Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 15

Sepanjang perjalanan hati Wati terus saja gelisah, ia tak dapat berhenti memikirkan keadaan Bagus di sana. “Kamu tenang saja, Bagus baik-baik saja kok.” kata Kakek.
Mendengar kabar itu, sedikit demi sedikit pemikiran tentang kekhawatirannya terhadap Bagus pun berkurang.
“Memangnya Bagus sakit apa kek?” tanya Wati.
Kakek tak menjawab, hanya berdiam.
“Bagus sakit apa kek?” tanya Wati yang berpikir kakek tak mendengar pertanyaannya yang pertama.
Tapi kakek masih saja diam, bahkan untuk menoleh ke arah Wati saja ia tak mau.

✳✳✳

“Rasanya aku mau segera pulang saja, nek,” kata Bagus.
Nenek tersenyum, “Sabar, ini masih terlalu pagi,” kata nenek.
“Iya, lebih baik kamu biar dirawat dulu di sini, Gus,” kata Wati dari sebalik pintu.
Nenek dan Bagus menoleh, “Wati? Kok kamu tahu aku di sini?” tanya Bagus.
“Kakek yang memberi tahu,” jawab Wati seraya berjalan mendekati Bagus.
“Sekarang, kakek ada di mana?” tanya nenek.
“Katanya kakek mau nyari sarapan dulu, nek.” jawab Wati.

Wati melihat pada wajah pucat pasi Bagus yang masih lebam terkena bekas pukulan.

“Siapa yang melakukan ini?” tanya Wati.
Bagus menengok ke arah neneknya, yang sesaat kemudian Wati pun melakukan hal yang sama.
“Biar gue pukulin tuh orang ampe babak belur, bahkan bisa lebih parah dari loe,” kata Wati kesal.
Bagus berdeham, lalu berkedip mengarah ke neneknya. Setelahnya Wati tersenyum, “Memangnya siapa sih, Gus, yang mukulin kamu?” tanya Wati lagi dengan nada yang lebih halus.
“Yang melakukannya adalah…” kata nenek, terputus.
“Aku,” kata kakek dari balik pintu.

Semua orang menoleh, tak terkecuali Bagus sendiri, dan atmosfer di ruangan itu terisi oleh senyap semenjak kedatangan kakek.

“Kakek? Tapi, kenapa?” tanya Wati penasaran, tangannya pun mengepal.
“Dia tidak menuruti kakek, Wat. Dia masih saja bekencan dengan koleksi komiknya, bahkan bersekongkol dengan neneknya untuk menyembunyikan komik-komik itu.” jawab kakek.
“Tapi kan, tetap saja kakek ini…”
“Aku melakukan suatu kebenaran.” tukas kakek.
“Ah, nenek mulai panas berada di ruangan ini, nenek mau pergi saja, mau cari angin segar.” kata nenek seraya mengibas-ngibaskan satu tangannya yang sesaat kemudian berlenggang pergi meninggalkan mereka bertiga.
Kakek menatap Wati tanpa kedip, saat itu Wati teringat akan janji kakek yang akan menyekolahkan ia di sekolah kepolisian asal Wati bisa membujuk Bagus pula.
Kemarahan Wati pun mereda, dipaksa mereda. “Kakek benar,” kata Wati, Bagus melongo tak percaya.

Ia tak akan pernah menyangka bila kekasihnya itu akan lebih membela kakek ketimbang dirinya.

“Loe udah besar, Gus. Harusnya loe udah gak perlu lagi baca-baca komik kaya gitu, gak penting.” kata Wati.
Batin Bagus memekik, “Dan loe harusnya menuruti mau kakek, kakek ini melakukan semuanya untuk kamu juga.” kata Wati.
“Tinggalkan saya sendiri,” kata Bagus seraya memalingkan muka, menatap pada tirai jendela yang terbuka di mana sinar mentari masuk melaluinya.

Kakek menjadi yang pertama meninggalkan ruangan itu, yang kemudian disusul oleh Wati.

“Semoga lekas sembuh, Gus,” kata Wati sebelum ia meninggalkan ruangan itu sambil menyeka air matanya.

Bagus tak mengindahkan, tampaknya ia masih sedikit kesal dengan kata dari kekasihnya itu. Ia bahkan tak tahu bahwa Wati kini menangis karena harus berbohong kepadanya, juga dirinya sendiri hanya untuk sebuah tawaran tentang mimpi yang kan jadi kenyataan.

“Kerja bagus, Wati,” kata kakek seraya menepuk pundak Wati.

Kakek pergi dari sana, sementara itu air mata Wati tumpah ketika sudah tidak ada sesiapa lagi. Ingin ia menjelangi Bagus dan berkata yang sesungguhnya agar Bagus tahu apa yang dialami olehnya.

“Kamu kenapa nangis?” tanya nenek yang tiba-tiba saja sudah ada di sebelah Wati.
Wati spontan menoleh, “Nenek?” tanya Wati.
“Saya sedih karena Bagus sakit, nek,” jawab Wati beralibi.
“Tidak apa-apa Wati, besok juga paling dia sudah boleh pulang kok.” kata nenek.
“Ya sudah nek, saya pulang dulu,” pamit Wati seraya mencium tangan nenek.
Nenek tersenyum, “Hati-hati di jalan,” kata nenek.

Wati pun membalas senyuman nenek, dan sesaat kemudian punggungnya lesap tertelan ujung lorong koridor rumah sakit ini.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s