Diposkan pada Fanfiction

7 Days : Day 1

Day 1

Tepat hari ini Kwon Jae Hae menculilku, sebuah hari ketika tidak ada suatu momen berkesan dalam hidupku. Ia letakkan aku di ruang persegi dengan wallpaper dan semua perabot berwarna putih. Seperti korban-korban sebelumnya, ia pun memperlakukanku dengan sangat baik. Ia memberikanku makanan paling enak yang belum pernah ku cicipi dalam hidupku, bahkan jika di luar ruangan ini, aku harus menjual rumahku terlebih dahulu hanya demi sepiring makanan yang Kwon Jae Hae hidangkan. Aku mulai bersyukur atas makanan ini.
Hari ini aku masih orang yang sama; aku masihlah seorang atheis, yang bergelut dengan rutinitas tanpa berbatas bagai mesin pekerja tanpa lelah meraja, bertemu orang-orang yang sama di hari sebelumnya, menerbitkan seutas senyum palsu agar terlihat bahagia dan menyaksikan orang-orang pamer kebahagiaan di sosiak media. Karena semua hal itu, aku justru tak butuh waktu enam hari lagi untuk mati, sekarang pun bahkan tak apa. Tetapi aku merasa harus bertanggung jawab atas semua buku-buku di hadapanku yang diberikan kepadaku oleh Kwon Jae Hae, sang pembunuh berantai itu, dan ia pun telah berjanji akan memberikanku sedikit lagi waktu untuk hidup jika aku mampu mengisi semua halaman buku-buku ini meski aku tak pernah memikirkan itu sejak ia mengatakannya.
Tetapi entahlah, aku tak yakin, meskipun menulis adalah kegiatanku sehari-hari. Aku bahkan telah menerbitkan novel perdanaku berjudul Goodbye Tears dan novel keduaku yang sedang naik cetak berjudul Impian Semu Wiro. Semua kata seolah raib, hilang tak meninggalkan jejak. Lembaran buku ini pun masih bersih.

Tetiba terlintasku di benakku akan sahabat yang menjelangi sahabatnya yang jauh di kota seberang, Avhan Setyawan, ia sahabatku satu-satunya kini yang memang tengah terbebas dari benalitas. Entah sejak kapan segala sesuatunya beda, yang pasti jika ia adalah sahabatku yang dulu, ia pasti akan lebih memilih untuk mengunjungiku bila ia tak sedang bekerja dari pada kemana-mana nan jauhnya tak terkira. Sekalipun ia tahu aku tengah bekerja, ia akan menungguiku hingga sore tiba, bahkan malam yang kelam menjelang. Sampai ia akan menemuiku, sekedar untuk menuntaskan rindu atau melihat diriku dalam keadaan baik-baik saja.
Mungkin karena saat itu aku pernah mengecewakannya. Aku masih ingat betul hari itu, ia marah besar terhadapku lantaran aku yang sudah membuat hatinya senang lantaran akan menemaninya menjelangi keagungan Tuhan berupa gunung-gunung yang megah malah membatalkan janji begitu saja. Aku tahu saar itu akulah manusia yang paling dibencinya, sekalipun kita pernah mendapatkan titel sahabat terlekat, aku rasa saat itu segala sesuatunya telah sirna, terlebur bersama kebencian di dalam lubuh hatinya yang aku ciptakan.
Aku mencoba menjelaskan; mengapa aku membatakkan janji, mengapa ponselku mati, mengapa aku tak jadi ke gunung bersamanya, dan semuanya percuma. Ia yang dikuasai amarah bukanlah lagi sahabat yang mendengarkan cerita sedih sahabatnya yang sedang di posisi serba salah. Di satu sisi, aku sakit, aku butuh istirahat. Di sisi lain, aku sudah berjanji, dan sudah menyenangkan hati seseorang meski pada akhirnya semuanya sirna. Pada akhirnya aku tak melakukan keduanya, meski aku terbaring di peraduan, kadang tak sekalipun mata ini dapat terpejam.
Jika Avhan sahabatku membaca tulisan ini, aku hanya ingin mengatakan permintaan maafku atas hari itu. Aku meminta maaf atas kejahatanku menyakiti hatinya, aku meminta maaf karena tubuh lemahku ini, dan aku akan meminta maaf sampai semua kebencian dalam hatinya tak lagi ada.
Dan seandainya aku diberi kesempatan, aku ingin menjelangi keagungan Tuhan dengan dirinya. Tak perlu gunung yang terlalu tinggi, cukup gunung tempat di mana kami belajar berjalan saja, sudah cukup. Agar ia tak marah lagi. Ketika sampai di puncak, aku akan mengatakan betapa tanpanya hidupku sangatlah sepi, seperti beberapa hari belakangan ini sejak ia mendirikan sekat-sekat nan berdiri tegap. Lalu akan ku katakan bahwa aku menyayanginya, sekalipun ia membenciku melebihi apapun. Lalu aku akan mendekapnya erat, tak akan ku lepaskan.

-AN-

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s