Diposkan pada Fanfiction

7 Days : Day 2

Day 2

Hari ini aku bangun amat siang, memikirkan tentang kematian membuat aku terjaga semalam meski aku telah siap akan hal itu. Dan memang, peraduan yang disediakan sangatlah nyaman.
Seperti kemarin, sebuah makanan dengan aroma nan menggugah selera sudah tersaji di atas meja begitu aku kembali ke dunia. Aku akan segera menyantapnya jika saja tak ada lagi seorang yang ku ingat dan ingin aku tulis.

Sahabatku yang lainnya bernama Fasikhul Mukhtas, biasa dipanggil dengan nama kerennya, FM. Pertemuan aku dan FM ini bermula ketika aku mengunjungi rumah seorang teman di kelasku yang ternyata masih saudara dengan diriku. Namanya, Irul. Dia adalah kakak dari FM ini.
Awalnya aku dan FM hanya sering bertemu saja, tanpa pernah berpikir untuk menjadikannya seorang teman apalagi sahabat. Mengingat ia yang berperilaku bahkan berpakaian seperti seorang wanita meski ia seorang lelaki. Sampai suatu ketika aku dan dirinya di satukan dalam ruang, dan menyadarkanku bahwa kami berdua sangat cocok. Sejak hari itulah aku dan dirinya memutuskan untuk menjadi sepasang sahabat.
Hal-hal yang kami lakukan adalah menonton acara televisi favourit kami sehabis beraktifitas, dalam acara tersebut ada sebuah girlband yang kami sukai yang saat itu tengah naik daun. Tak hanya menonton acara yang satu itu, kami bahkan menonton setiap kali girlband tersebut akan tampil di acara yang lainnya. Lalu ketika ada suatu kendala, kami akan pergi ke manapun demi bisa menontonnya, di rumah siapapun itu asalkan bisa menonton penampilan girlband yang kami sukai nan saat itu mampu memberikan kami semangat untuk menjalani hidup.
Jika sedang tidak ada acara girlband favourit kami di televisi, kami biasanya bersantai di rumah FM sembari menikmati sebuah minuman yang dibekukan. Itulah cara kami menikmati ice cream dengan murah-meriah. Bayangkan saja, uang 1000 sudah bisa membuat kami bahagia waktu dulu.

FM adalah orang yang baik, dia mau bersahabat dengan diriku yang kata semua orang aneh, amatlah aneh. Meski kadang ia melupakanku. Wajar, lantaran ia memiliki banyak teman. Tak sepertiku yang hanya mempunyai dirinya.
Aku mengingatnya, ketika pagi-pagi buta kami mengendarai motor berdua menembus dinginnya pagi ketika sesiapa masih terlelap akan tidur panjangnya dan bergelut akan ayal mimpi-mimpi.
FM menyerah ketika kami sampai di sebuah persimpangan jalan, “Ini sudah terlalu dingin, mari kita pulang saja.” katanya.
Aku tertawa kecil seraya mengiyakan ajakannya, aku pun sebenarnya kasihan terhadapnya.
Ada juga saat ketika aku sakit parah dan malah memintanya untuk membawaku ke warung internet, di sana kami bermain sosial media juga menonton banyak sekali video di platform streaming. Sampai beberapa saat kemudian, aku merasakan perutku seperti ditusuk-tusuk hingga rasanya aku sudah tak tahan lagi. Akhirnya FM membawaku pulang. Di depan pintu rumahku, aku langsung muntah-muntah, dan dengan bantuan FM aku akhirnya bisa sampai di peraduanku lagi.
Beberapa hari setelah kejadian itu, FM datang kepadaku. Katanya ia dimarahi oleh ibunya lantaran ia malah mengajakku yang sedang sakit parah pergi jalan-jalan, meski pun ia telah menjelaskan bahwa akulah yang sebenarnya mengajaknya. Itu sia-sia saja, parahnya sampai sekarang aku belum meminta maaf padanya. Kali ini sajalah, “Aku meminta maaf atas hal itu sahabatku, sesungguhnya aku sendiri yang telah mencoba membunuh diriku.”

Masih banyak lagi kenangan-kenangan tentangku dan FM ini, akan tetapi aku akan memilih tempat favouritku saja.
Adalah sebuah bukit yang indah dengan jalan yang masih berbatu, saksi bisu berakhirnya hubunganku dengan orang yang aku cinta. Ia berkata bahwa ia telah mencintai seorang yang selalu ia layani di kedai tempatnya bekerja, bahkan orang itu telah melamarnya. Ku pikir sedikit saja tentang kisah kelam di masa lalu itu.
Tempat itu memang sangat indah, jauh dari hiruk-pikuk, dan hanya beberapa orang saja yang hilir mudik di jalan berbatu yang kami singgahi. Ada ribuan ilalang terbentang, kebun-kebun aneka buah dan sayur, ada juga tempat yang menurutku sangat romantis lantaran ada banyak tanaman bebunga.
Kami datang ke sana untuk sekedar mengabadikan momen, duduk bercerita sembari menikmati angin yang berhembus atau hanya sekedar melewati jalan itu saja.

Perutku sudah menyuarakan panggilan alam, aku akan menutup lembaran hari ini dan menikmati masakan Kwon Jae Hae agar ia tak marah dan mengurangi waktu 6 hariku yang berharga terhitung mulai hari ini.

-AN-

#7DaysChallenge #AGirlWhoSeesSmell

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s