Diposkan pada Fanfiction

7 Days : Day 3

Day 3

Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidupku, itulah malamku. Semua orang berwajah tegang, bahkan ada dari mereka yang saking tegngnya sampai begitu kentara. Aku pun sama, tetapi itulah saatnya bagiku untuk membuktikan bahwa aku bisa.
Malam itu adalah malam pemilihan vokal rebana, semua orang berhak mencoba menampilkan penampilan terbaiknya di depan kelas untuk kemudian dinilai oleh Pak Khasan, guru kami. Ada beberapa yang langsung berani maju, tetapi tak sedikit pula yang sudah menyerah bahkan sebelum mencoba. Mereka takut melakukannya, di situlah aku mengerti bahwa orang-orang sekelasku kebanyakan memang penakut. Penakut yang sebenar-benarnya.
Sampai akhirnya tibalah giliranku, aku pun maju ke depan, memejamkan mata, menghirup nafas dalam-dalam lalu mulai menampilkan apa yang dituliskan di papan.

“Assalamualaik, zainal anbiak
Assalamualaik, atqol atqiak….” dst.

Semua orang termangu, ada juga yang melongo tak percaya. Lalu sejurus kemudian suara tepuk tangan seseorang memecah suasana aneh itu, yang setelahnya diikuti oleh yang lainnya termasuk guruku Pak Khasan.

“Wah, gak nyangka, ternyata suara Aris bagus.” celetuk seseorang dari arah belakang.
Pak Khasan menyeringai, “Huh, makanya jangan suka memandang seseorang dari luarnya saja.” katanya.
Aku tersenyum mendengar kata itu, “Jadi sudah diputukan, Arislah yang akan mengisi bagian vokal di rebana kita.” kata Pak Khasan lagi.

Kepulanganku ke meja belajar disambut oleh senyuman hangat serta sekali lagi tepuk tangan yang lebih meriah.

Grup vocal rebana ini terbentuk sejak ada Pak Khasan di kelas kami, ia yang seorang lulusan pondok pesantren ingin mengasah bakat kami lebih mendalam dan memajukan TPA tempat kami belajar mengaji itu.
Untuk mendirikannya kami harus berusaha sendiri, bukan asal memakai uang milik TPA. Maka dari itu kami semua bekerja ketika hari libur, kami bekerja apapun asal bisa mendapatkan uang. Waktu itu, kami bekerja di salah satu alumnus TPA kami, yang dampaknya sangat poatitif bagi kami semua lantaran alumnus itu memberikan bonus yang lumayan, cukup untuk membeli alat-alat rebana.
Sampai suatu ketika aku dilanda dilema yang begitu besar nan membingungkan, di mana aku harus memilih anrara mempertahankan jabatanku atau pergi ke luar kota untuk menerima tawaran pekerjaan yang ditawarkan oleh seorang teman. Pada akhirnya aku memilih yang kedua, aku pun ingin tumbuh dewasa dan mandiri saat itu.
Empat bulan aku di bumi perantauan, kembali lagi aku dilanda dilema. Masih sama seperti sebelumnya, aku bingung antara tetap bekerja di tempatku bekerja ataukah pulang dan mengejar mimpi lagi. Aku bahkan baru pertama kali ditampilkan di depan publik, itu pun cuma membawakan dua buah lagu saja. Meski begitu aku tetap bersyukur.
Akhirnya setelah ku pikir-pikir lagi, aku memutuskan untuk berhenti dari semua benalitas dan pulang. Ditambah lagi tempatku bekerja yang angker membuatku semakin yakin untuk meninggalkan pekerjaan. Tapi ketika aku pulang semuanya sudah tak sama lagi, orang-orang yang seharusnya di bagian alat musik malah menjadi vokal, begitu pula sebaliknya. Aku menyesalkan sema itu, tapi kala itu aku menjadi orang baru yang tak bisa berbuat apa-apa.

Tibalah giliranku untuk menerima dengan lapang dada dan melupakan semua cita di masa itu, sekalipun sulit namun aku telah melampauinya. Aku pun menjauh dari semua hal-hal itu, menjauh atas semua. Aku kembali sendiri. Parahnya tak pernah ada yang tahu mengapa aku tak pernah datang ke TPA atau mengapa aku menghilang, atau mungkin mereka memang tidak peduli.
Sampai suatu hari grup rebana itu menjadi berkembang, mereka tampil ke sana ke mari, pun mengikuti banyak perlombaan. Aku bahagia mengetahuinya, sangat bahagia.
Aku pun sama, aku tetap bernyanyi meski kini sendiri. Hanya saja lagu yang ku nyanyikan bukan lagi berbahasa Arab, melainkan bahasa Jepang. Meski tak pernah sekalipun menang, namun aku bahagia setiap kali bisa tampil di atas panggung. Walaupun kadang rasanya atma dan daksaku terpisah karena rasa grogi, ada mata-mata yang memandangku sinis, juga para juri menyeringai tanda tak suka.

Tidak seperti dua hari sebelumnya ketika aku sedih karena menceritakan dua sahabatku, hari ini aku sangat bahagia menceritakan mimpiku. Sekalipun hanya sekejab saja aku meraihnya.

-AN-

#7DaysChallenge #AGirlWhoSeesSmell

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “7 Days : Day 3

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s