Diposkan pada Fanfiction

7 Days : Day 4

Day 4

Tak terasa ini sudah hari ke empat, setiap hari aku menuliskan cerita-cerita indah sekaligus tersedihku. Hari ini pun sama, aku ingin menulis dan menuliskannya lagi.

Satu-satunya orang yang ingin ku temui sebelum mati ialah Ibu. Dialah orang yang hari ini dan sampai nanti aku cintai, sekalipun kadang ia tak pernah mengerti apa yang aku rasakan. Namun yang pasti ia selalu ada untukku, kapan pun itu.
Semasa hidup, aku selalu ingin membahagiakannya. Kadang aku menyisihkan uang untuk nanti ku belanjakan keperluan rumah tangga, akan tetapi hal itu pun jarang ku lakukan. Seringnya ia yang menagih hal-hal itu. Sementara aku masih asyik dengan duniaku sendiri, dunia yang tak pernah aku sendiri tahui.
Jika aku bisa bertemu dengannya sekali lagi, aku ingin mengajaknya berbelanja; sayuran, buah-buahan dan juga pakaian untuk dirinya. Di hari terindah itu aku ingin ia hanya merasa bahagia tanpa merasakan lagi rasa yang lainnya. Lalu aku akan memeluknya lama, kan ku katakan bahwa, “Aku mencintainya, aku menyanyanginya melebihi apapun yang ada di dunia.”
Atau aku akan meminta maaf atas segala kesalahanku; untuk aku yang belum pernah sekalipun membanggakannya, untuk aku yang dilahirkan malah hidup berbalutkan dosa-dosa, untuk aku yang berbohong setiap malam setiap kali ia bertanya, “Apakah engkau sudah sholat isya’, anakku?” aku selalu mengangguk, mengiyakan. Meski kadang aku terlupa atau memang sengaja meninggalkan kewajibanku yang satu itu. Sementara ia pasti kecewa mengatahui kebenaran tentang anaknya yang selalu terlihat biasa saja.

Tak banyak masa indah yang bisa ku ingat dengan ibuku, hanya ada beberapa yang terlintas sekejab dan semoga aku bisa menuliskannya.

Moment-moment yang ku ingat ialah seperti, ketika aku diajak olehnya ke pasar. Di sana aku terlalu asik melihat ke sekitar, kepada orang yang berjualan. Sampai suatu ketika ibuku berpesan kepadaku untuk menunggu di suatu tempat di pasar itu, aku pun mengangguk. Setelahnya aku tersadar, bahwa aku telah ditinggal oleh dirinya. Saat itu aku sangat binggung, tempat yang beberapa menit yang lalu aku puji karena banyak macam orang yang tak membosankan, kini menjadi sangatlah asing.
Akhirnya aku menangis, sampai raunganku menarik perhatian orang-orang yang ada di sana. Beberapa dari mereka pun mendekat, “Kenapa kamu menangis?” tanya seseorang, “Kenapa kamu menangis?” masih pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda.
“Aku terpisah dari ibuku,” jawabku. Ada beberapa orang yang setia menemani sembari menenangkanku selama aku menanti kembali kedatangan ibuku. Hingga ibuku kembali, ia terkejut melihatku sudah berlinangan air mata dan terisak. “Kanapa kamu menangis?” tanyannya, “Karena Ibu meninggalkanku,” jawabku.
Ibuku tersenyum, “Tadi kan Ibu sudah bilang sama kamu, kamu juga setuju kok, makanya ibu mantap meninggalkan kamu di sini.” katanya.
Setelahnya Ibu membelikanku mie yang di atasnya ada ayam goreng lalu disiram sambal kacang dan dibungkus dengan daun pisang. Itu adalah makanan favouritku.

Ada lagi, ketika aku bemain dengan adikku. Ketika itu aku tidak sengaja menjatuhkan adikku hingga ia mengeluarkan darah dari hidungnya dan menangis. Tergopoh-gopoh ibuku menghampiri kami, ia lalu menggerutu sebelum akhirnya memukulku karena kesalahanku itu. Aku yang saat itu sakit hati hanya bisa menerima sambil terisak.
Sungguh aku ingin meninta maaf untuk hal itu jika saat ini Ibu ada di depanku.
Ada juga ketika aku pergi memancing dengan temanku Nanang dan kawan-kawannya. Di jalanan di bukit menuju desa, Ibu sudah berkacak pinggang sembari melihat ke arahku. Spontan aku dan teman-temanku berlari menuruni ladang-ladang milik warga di bukit itu, tanpa peduli nanti kami akan sampai ke mana. Yang pasti saat itu kami ingin pergi dari terkaman ibuku yang tengah dirundung amarah.
Saking asyiknya berlari, kami semua bahkan tak sadar jika kantong plastik yang di dalamnya ada ikan hasil memancing hari ini sudah tidak di genggaman tangan kami lagi.

Aku menangis mengingat semua kenangan-kenangan itu, masih banyak lagi sebenarnya yang ingin aku tulis, namun air mataku ini seolah mengalirkan ingatan-ingatanku itu, membawanya pergi entah ke mana.

-AN-

#7DaysChallenge #AGirlWhoSeesSmell

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s