Diposkan pada Fanfiction

7 Days : Day 5

Day 5

Avhan benar, semua orang benar, apa yang aku kejar memang tak akan pernah terkejar meski sekuat tenaga aku mengejarnya. Ini tentang aku yang selalu mengikuti lomba karaoke bahasa Jepang, ini tentang aku yang selalu menulis; puisi, cerpen, dan apapun yang aku tulis demi belajar dan nantinya bisa menghasilkan uang dari sana. Semuanya, percuma; sia-sia.

Aku memang sering mengikuti lomba karaoke dengan harap bisa menang dan mereka melirikku lalu akan merekrutku lagi menjadi seorang vokal. Namun, ini sudah tahun ke tiga, dan sampai saat ini aku belum pernah sekalipun menjuarainya. Bahkan terakhir kali aku ada di posisi 27 dari 31 peserta. Aku memang payah, atau suaraku memang tak bagus seperti kata Furon yang selalu mengomentari apapun, terlebih jika itu merupakan sesuatu yang buruk. Kini aku merasa ia benar.

Aku masih mengingatnya, ketika pertama kali aku mengikuti lomba karaoke di kota Magelang. Saat itu aku bahkan belum hafal semua liriknya, tapi aku berangkat, aku hadapi.
Di sana banyak orang menertawakan karena aku yany teramat gugup begitu kentara, aku tahu itu. “Itu masnya nyanyi atau ngapain sih?” tanya seseorang dari ujung kafe. Aku tak berani menoleh, melihat kepada orang yang bertanya itu. Jangankan menoleh, untuk membuka kata saja aku sudah tidak bisa. Panggung impian yang ku pijaki menjelma menjadi temoat terkutuk yang menelanku dalam kelam, ia menyekat leherku, bahkan nafasku. Ia juga melahirkan berjuta-juta peluh membasahi tubuh, juga rasa yang tak bisa ku jelaskan seperti apa.
Di akhir lagu sebelum tepuk tangan penonton, ada seorang berceletuk, “Masnya suaranya bagus, ya,” katanya. Sementara aku tersenyum, aku merasa masih punya harapan.
Turun dari panggung aku langsung disambut oleh Firman, temanku yang selalu setia. Dia tersenyum, meski dalam ekpresi wajahnya terselubung seribu makna yang tak ku tahu apa. Yang pasti ia menuji penampilanku, ia menenangkanku. Meskipun pada akhirnya aku tak lolos ke tahap berikutnya.

Aku belum menyerah, pembuktian tentang kualitas itu harus tetap aku lanjutkan. Aku menghafalkan lagu-lagu Jepang lagi, dan akhirnya mengikuti lomba karaoke yang kedua. Tempatnya amatlah jauh, yakni kota Purwokerto.
Perjalanan ke sana aku tempuh dengan menaiki bis, sendirian, lantaran Firman yang kekurangan dana tak dapat menemaniku mengikuti perlombaan. Pada mulanya aku takut, ini adalah perjalanan terjauh pertamaku yang ku tempuh sendiri.
Sesampainya di terminal Purwokerto, aku langsung disambut oleh beberapa tukang ojek yang menawarkan jasanya.
Aku memilih seorang yang tersenyum kepadaku. Aku beruntung, sebab ia tak hanya menawarkan jasanya, melainkan pula penginapan murah untukku tinggali.
Aku pun dibawa olehnya menuju penginapan itu, dan dengan membayar 35.000 saja, aku sudah dapatkan perjalanan menyusuri kota Purwokerto sekaligus menemukan penginapan.
Setelah berdiskusi dengan pemilik penginapan, akhirnya rumah itu pun ku singgahi selama dua hari dengan biaya yang menurut pemilik rumah cukup terjangkau meski bagiku masih terlalu mahal lantaran memakan seperempat sisa uangku.
Esok harinya aku ke UNSOED, tempat dilaksanakannya perlombaan ditemani Mas Fauzan, teman satu kosku yang sangat baik hati. Buktinya ia mau mengantarku mencari tempat perlombaan, meski ia pun tengah sibuk dengan urusan kuliahnya.

Sore harinya…

Mas Fauzan datang tepat ketika hujan mengguyur daerah ini, ia membawa payung untukku pula. “Sebentar ya, Mas. Nunggu pengumuman dulu,” kataku. Mas Fauzan mengangguk, ia dengan setia menungguiku.
Sampai pengumuman pemenang itu diumumkan, namun sial, pengumuman untuk lomba karaoke ternyata diumumkan di ujung acara. Sementara Mas Fauzan masih tersenyum ketika aku menoleh ke arahnya.
Hingga tibalah pengumuman itu, aku bangkit begitu juara dua diumumkan dan bukan aku pemenangnya. Tapi Mas Fauzan menggenggam tanganku erat, menyekat langkahku. “Tunggu dulu,” katanya.
Aku pun mengikuti perintahnya dengan menunggu pengumuman juara satu yang ku tahu pasti bukanlah diriku. Dan benar saja, memang bukan diriku. Di jalan pulang itu akhirnya Mas Fauzan menyemangatiku agar tak mudah menyerah, agar aku tak berhenti di situ saja. Lalu sebagai gantinya karena Mas Fauzan telah menemaniku hari ini, aku menraktirnya mie ayam Purwokerto yang tengah kondang di kotaku di kota ini, Purwokerto. Dan Mas Fauzan nyaris tak percaya ketika aku mengatakan makanan yang kami makan malam itu sedang kondang di kotaku.

Esok harinya aku pulang, aku pamit kepada Mas Fauzan juga Ibu kos. Namun ternyata Mas Fauzan masih memiliki hati baik untuk mencarikanku angkot menuju terminal, saat itu aku sungguh tak ingin rasanya meninggalkan kota Purwokerto, kota yang tak pernah asing meski itu adalah kali pertama aku di sana.
Juga Mas Fauzan, yang menjadi sahabat terbaik. Melebihi semua sahabat yang pernah atau tengah menjadi sahabatku.

Aku masih mempunyai kenangan tentang lomba karaoke, tapi Kwon Jae Hae membuka tirai penyekat antara aku dan dirinya. Meskipun ia menyuruhku tetap menulis, aku tetap tak bisa. Dan buku ini pun ku tulis.
Aku kemudia melihat pisau yang diasah oleh Kwon Jae Hae yang nantinya akan ia gunakan untuk mengukir kode batang di lengaku. Sama seperti yang sebelum-sebelumnya. Sungguh pemandangan yang mengerikan.

-AN-

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “7 Days : Day 5

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s