Diposkan pada Fanfiction

7 Days : Day 6

Day 6

Aku sudah tidak tahu ingin menuliskan apa di hari ke enam ini, meski kemarin cerita-cerita di kepalaku bergejolak seolah tak tertahan dan akan segera meletus. Namun entahlah, melihat pisau-pisau yang diasah Kwon Jae Hae itu seolah melemahkan pikirku. Melumpuhkan kenangan-kenangan dalam benakku.

Seorang yang paling bisa mengerti apa yang aku rasakan, apa yang aku butuh adalah nenekku. Dia orang paling santai dalam menanggapi sikap-sikap anehku, meski ketika ia serius, ia adalah orang yang akan jadi paling serius.
Aku mulai mengkhawatirkannya. Selain karena ia berada di usia senja, penyebabnya utamanya ialah kejadian seperti lampau hari ketika jatuh lalu hidungnya membentur batu dan keluarlah darah dari sana. Aku dan semua orang langsung panik, lalu aku dibantu oleh seorang tetangga akhirnya membawanya ke dokter. Di sana ku tahui bahwa nenekku ini darah tinggi. “Karena keseringan makan gorengan,” kata dokter.
Iya memang menyukai gorengan, namun ia lebih suka jalan-jalan. Tak heran jika ia tak langsung pulang begitu telah selesai beribadah di masjid, ia pastilah pergi jalan-jalan ke rumah-rumah warga untuk sekedar menonton televisi atau ya, jalan-jalan itu tadi.
Dalam perjelajahannya ia kerap kali lupa waktu, biasanya ia akan pulang ketika aku dan semua anggota keluarga tertidur. Lalu ayahku akan menjadi yang pertama memarahinya karena membangunkan orang yang tengah tertidur lelap.
“Lha, wong cuma sebentar kok,” kata nenekku beralibi, ketika ayah menggerutuinya.
Meski telah dimarahi seperti itu, ia tak pernah jera. Esok hari ia akan mengulanginya lagi dan lagi sampai kami tak tahu lagi harus berkata apa kepadanya agar ia menghentikan penjelajahannya itu.

Ia adalah salah satu orang yang selalu melihatku terlebih dahulu ketika ia hendak tidur setelah ibuku. Ia akan memastikan; apakah aku sudah memakai selimut, apakah jendela di kamarku sudah tertutup dan apakah tirainya juga telah aku tutup ataukah belum. Lalu kadang ia akan menciumku meski seringkali aku menolak, “Dulu yang gendong kamu itu, ya mbah kamu ini.” katanya.
Aku menggeleng, lalu ia akan marah karena jasanya tak ku akui.

Ia selalu memintaku untuk membelikannya barang sekantung gorengan, tapi aku selalu sibuk akan duniaku sampai gaji yang ku terima habis entah ke mana. Dan untuk membeli satu kantung gorengan itu menjadi sangatlah susah.
Ia juga suka meminta kepadaku membelikan makanan kesukaannya yang lainnya. Adalah kupat tahu, makanan yang membosankan bagiku tetapi bagidirinya sangatlah enak. Wajar jika ia memintanya, aku memang egois, aku hanya memikirkan diriku sendiri dan membelanjakan uang untuk diriku sendiri. Bahkan seharusnya tanpa diminta aku sudah membelikan nenekku makanan kesukaannya itu.

Ah, andai saja Kwon Jae Hae mebiarkanku bebas hari ini saja, aku hanya ingin membelikan nenekku seporsi kupat tahu lalu aku akan kembali ke sini, ke ruang putih ini. Aku janji.

Nenekku yang satu lagi sifatnya sangat berbeda dengan nenek yang tinggal serumah denganku. Ia sangat galak, pemarah dan cerewet. Entah apa alasanku tidur bersamanya dari sejak tk sampai smp kelas 2.
Aku memanggilnya, Biyung. Biyung ini ketika berbicara kadang menyakiti hati, melawan atau menjawab kata-katanya akan percuma saja. Sebab pada akhirnya ia akan menang pula.

Tak banyak kenanganku dengan Biyung, aku hanya mengingat ketika ia membangunkanku ketika dulu aku masih mengaji di TPA di pagi buta ketika tidak ada sesiapa. Ia akan mentantarku sampai TPA lalu pergi meninggalkanku begitu telah yakin bahwa aku telah benar-benar nyaman di TPA ku itu. Begitulah yang setiap pagi ia lakukan, ia selalu saja setia.

Hal yang ku ingat lainnya ialah ketika aku memarahinya. Saat itu ia tak sengaja menginjak kabel chargerku lalu tersandung karenanya, entah kenapa aku yang biasanya diam malah mengatakan kekata nan kasar. Sontak saat itu ia naik pitam, kami pun beradu. Hanya saja pada akhirnya aku pun kalah darinya yang tak pernah mau mengalah juga kalah dari siapapun. Terlebih ketika ia merasa bahwa dirinya yang lebih benar dari lawannya.

Aku mengingatnya, ia sering membuatkanku Bandos, sebuah makanan yang terbuat dari tepung dan kelapa yang digoreng yang berwarna putih juga keras ketika dimakan. Sungguh, aku merindukan makanan itu.

Biyung dan nenek, aku tidak menyangka bila pada masanya aku yang akan meninggalkan kalian. Selama ini aku selalu takut bahwa kalian akan pergi meninggalkanku, ternyata hari ini segala sesuatunya berkebalikan. Kematian mengintai siapa saja, bukan dilihat dari umur sesiapa.

-AN-

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s