Diposkan pada Fanfiction

7 Days : Day 7

Day 7

Hari ini; beberapa jam lagi aku akan mati. Aku tak pernah berani bertanya kepada Kwon Jae Hae, bukan karena aku takut ia mengurangi jam kehidupanku atau menambahnya jika aku berhasil menjawab pula pertanyaannya. Aku hanya ingin seperti ini, tujuh hari ini sudah cukup bagiku. Semuanya tepat waktu.
Karena hari ini aku akan mati, maka aku pun akan menuliskan kenangan tentang orang-orang yang telah meninggal dunia; mati pula.

Aku mempunyai seorang teman, namanya Uli. Dulu, dia sangat baik dan cantik. Sampai suatu ketika ia belajar di sebuah pondok pesantren lalu ketika pulang ia seperti tak mau lagi mendekatiku atau ketika aku mendekatinya pun. Aku berpikir positif, mungkin ia mempertahankan batasan-batasan yang diajarkan di pesantrennya tentang hubungan lawan jenis.
Karena hal itulah aku dan dia hanya sesekali bertatap mata lalu kemudian tersenyum, itu pun terjadi dengan begitu singkat.

Semasa kecil, aku pernah diajak Uli untuk bermain sebuah permainan di mana aku akan menjadi penyanyi sementara Uli akan menjadi jurinya. Hari itu kami tidak berdua saja, kami ditemani seorang teman. Namanya Safiq, sifat dan perilakunya hampir mirip dengan Sihul, hanya saja dulu ia suka menghina teman-temannya, termasuk dirikulah yang paling sering ia hina lantaran aku dan dirinya satu kelas.
Saat itu aku menyanyikan lagu yang ku sukai berjudul, “Ok” dari penyanyi duo bernama T2 yang tengah naik daun. Sementara Safiq yang kadang bergaul dengan emak-emak berimbas kepada lagu yang ia sukai, ia menyanyikan sebuah lagu dangdut di usianya yang masih belia.
Uli menilai suarakulah yang paling bagus dan pantas mendapatkan piala yang kami buat dari sterofoam sisa acara pengajian lampau hari. Ia yang melihat piala buatan Safiq lebih bagus lalu memintanya dan hendak memberikannya kepadaku, akan tetapi Safiq tak memberikannya, ia tetap menganggap bahwa dirinyalah yang terbaik.

Berita itu tersiar di pagi hari, obituari Uli sahabatku. Orang yang percaya bahwa aku bisa bernyanyi, bahwa aku layak mendapatkan panggung-panggung yang besar bila saja aku tak takut dan grogi. Perlahan, ku rasakan hangat air mataku mengaliri pipiku.
Ia memang sudah sakit sejak satu bulan yang lalu, tapi ku pikir fia akan sembuh, karena aku yang sakit lebih dari dua bulan saja pada akhirnya bisa sembuh seperti sedia kala. Tetapi ternyata tidak, Tuhan memanggilnya dan ia pun pergi.

✳✳✳

Temanku yang lainnya namanya Mukhamad Miftakhufin, namun lebih sering dipanggil Dracula. Miftah dipanggil Dracula lantaran dua gigi gingsulnya yang bukannya membuat dirinya tampak manis, malah amat seram.
Aku dan Dracula hampir selalu satu kelas ketika SMP, dari mulai kelas 1 dan 2. Kelas 3 kami berpisah, karena saat itu siswa yang pintar dengan yang kurang pintar dipisah. Ah, tak perlulah ku ceritakan siapa dari kami yang lebih pintar.

Waktu itu aku dan Dracula masih berada di dalam kelas meskipun bel istirahat sudah berbunyi. Dracula yang memintaku menyanyinkan sebuah lagu yang ia sukai membuatku tertahan di dalam ruang persegi meski aku rasa dahaga dan perutku menyuarakan panggilan alam.
Adalah sebuah lagu dari Ada Band yang berjudul, “Nyawa Hidupku” yang membuatku terpenjara di dalam kelas dan harus menyanyikannya lantaran telah diminta.
Karena aku memang suka menyanyi, aku pun menyanyikannya. Sedang Dracula mengubah meja di depan kami menjadi sebuah drum pribadinya, kadang juga ia mengiringi aku bernyanyi dengan suara dua.
Ada sebuah lirik di lagu itu yang membuatku berhenti menyanyi untuk sementara, “Tuhan ku tanya cinta, ke mana arah dan tujuannya? Bila memeng berpisah, mengapa maut yang pisahkan?” Dracula menoleh ke arahku, “Kenapa?” tanyanya.
“Ah, tidak apa-apa.” jawabku seraya mengibaskan satu tanganku.
Kami pun kemudian melanjutkan menyanyi lagu itu, hingga bel masuk berbunyi dan aku tak jajan di waktu istirahat yang berharga hanya demi untuk tampil hanya disaksikan seorang teman.

Waktu berlalu dengan begitu cepat, tak ku sangka inilah saatnya bagi diriku juga semua teman-teman sekelasku untuk mengambil ijazah kami. Di suatu pagi ketika aku tengah sibuk bermain sembari memikirkan jalan mana yang akan ku lewati nanti sementara ayah dan ibuku tengah sibuk berkencan dengan aneka pekerjaan dengan bambunya karena saat itu tengah musim tembakau dan petani membutuhkan banyak keranjang sebagai wadah tembakaunya. Dracula datang ke rumahku, ini adalah kali pertama seorang teman sekolah menjengai diriku. Biasanya orang-orang akan memilih untuk mengunjungi rumah Ipan, temanku yang dipuji banyak siswa dan siswi lanyaran tampan dan pandai bermain sepak bola. Tentu saja hal kedatangan Dracula ini menjadi suatu pemandangan yang aneh bagiku.
Ia mengajakku untuk mengambil ijazah di sekolah. Setelah aku mandi dan memakai seragam osis, aku pun pergi dengan dirinya ke sekolah dengan berjalan kaki.
Sesampainya di sana, sekolah sangatlah sepi. Sembari menunggu ijazah yang disiapkan guru kami, aku dan Dracula memilih untuk mengunjungi tempat-tempat di sekolah; koridor, lapangan, sampai ruang kelas, semua tempat yang mengingatkan kami akan kebahagiaan dalam kebersamaan yang esok akan kami tinggalkan.

Setelah menerima ijazah, kami pun pulang. Di jalan pulang aku berjalan dengan tergesa lantaran hujan yang mulai berdatangan. Sementara itu setelahnya Dracula memegang pundaku lalu menyandarkan lengannya di sana, merangkulku.
“Kanapa kau terburu-buru? Santai sajalah, Ris,” tanya Dracula.
“Memangnya kau tidak lihat, di atas sana awan begitu kelam, hujan pun mulai berdatangan.” tukasku ketus.
Dracula hanya terdiam, sejurus kemudian ia tersenyum kepadaku.
Di sebuah persimpangan jalan, aku dan Dracula harus berpisah. Ia melambaikan tangan kepadaku ketika aku menoleh, ia lalu kembali berjalan ke depan, namun aku merasakan apa yang akan ia jelang, itu bukan lagi rumah melainkan tempat yang lebih jauh lagi. Saat itu aku ingin berteriak, aku ingin memanggil namanya berharap ia akan menoleh, namun aku selalu tidak bisa, entah mengapa.
Aku ingin memeluknya sekali lagi, seperti ia memelukku lalu mendoakanku sukses untuk apapun hal yang nantinya ku pilih seperti tadi. Bedanya aku tak ingin melepaskannya, tak akan pernah mau melepasnya.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku mendengar kabar tentang kematian Dracula. Aku terdiam, terpaku tak mau percaya. Aku mulai teringat akan kenangan bersamanya, lagu dari Ada Band yang kami nyanyikan, tentang mengapa ia menyuruhku agar tak buru-buru di persimpangan jalan, semua itu adalah salam perpisahan dari dirinya sebelum ia meninggalknku dan dunia untuk selama-lamanya.
Perlahan aku menyesalkan kebodohan diriku saat itu yang tak menyadari tanda-tanda keganjilan demi keganjilan.

✳✳✳

Aku pernah merapalkan suatu permintaan, di kala bulan bersinar dan kemintang bertebaran di angkasa raya. Aku pernah meminta Tuhan untuk menghidupkan kembali Uli dan Dracula untuk diberikan sisa hidupku, lalu sebagai gantinya Ia bisa mengambilku untuk direngkih bersamaNya. Selama-lamanya; tak apa. Sebab semasa hidup aku pun hanya melahirkan dosa-dosa, yang hingga hari ini belum pernah ada seorang pun yang mengetahuinya.

Kwon Jae Hae telah membuka sekat yang memisahkan kami, terliht ia tengah mengasah pisau-pisaunya untuk nanti ia gunakan mengukir kode batang di kenganku seperti semua korban sebelumnya.

“Waktumu satu menit lagi,” kata Kwon Jae Hae.

Ia telah bersiap memencet tombol kematian yang mengekuarkan racun dari celah-celah ruangan ini, itulah cara Kwon Jae Hae membunuh, ia hanya melukai ketika melukis kode batangnya saja.
Asap mulai keluar, mengisi seisi ruangan. Aku menahan nafas, sampai kapan aku bisa? Pada akhirnya aku pun menghirup gas itu. Aku merasakan kepalaku berat dan pening, tubuhku ringan bagai terangkat ke udara namun yang terjadi malah aku jatuh tersungkur ke lantai.
Hal terakhir yang ku lihat ialah, senyuman Kwon Jae Hae ketika melihat aku tak lagi mempunyai daya. Dan aku, mati.

Selesai

-AN-

#7DaysChallenge #AGirlWhoSeesSmell

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Satu tanggapan untuk “7 Days : Day 7

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s