Diposkan pada Fanfiction

7 Days : Bonus

7 Days : Bonus

Entah apa yang telah merasuki pikiranku hingga aku berani menanyakan beberapa pertanyaan kepada Kwon Jae Hae dengan harap akan mendapatkan imbalan berupa sisa hidup yang lebih lama lagi dan mendapat pengurangan jika ia menjawab dengan benar.
Beruntunglah aku, sebab semua pertanyaan yang ku berian di jawab salah oleh Kwon Jae Hae yang selalu tepat dalam menjawab. Aku pun memiliki waktu untuk hidup; sekali lagi.

Putri, hari di mana pertama kali kita bertemu adalah di ruang lengang dengan banyak orang-orang itu. Kau selalu tersenyum kepada sesiapa, aku yang melihatmu pun melakukan hal serupa meski hanya sekejab saja.
Kau asyik dengan duniamu, memeluk sewujud kehangatan yang saat itu ku harap akulah kehangatan itu, yang kau peluk tanpa rasa apapun. Itu lebih baik dari pada renjana nan mengala bersatunya seorang dengan seorang lainnya yang tak pernah seorang pun tahu akhirnya.
Sampai pada suatu masa seorang yang menyebut dirinya ‘kakak’ menjemputmu dan mengakhiri keindahan yang tengah aku nikmati. Dia tak berkata kasar sema sekali, hanya saja nadanya kian meninggi. Entah kenapa hatiku sakit mendengar perktaannya. Sejenak ku bayangkan bagaimana rasanya menjadi dirimu yang setiap hari akan bertemu dengan dirinya.
Belakangan ku tahu dari dirimu bahwa ia bukanlah kakakmu, melainkan seorang teman yang pada akhirnya membawa kabur uangmu tanpa tahu malu. Lelaki macam apa itu, memanfaatkan kebaikan seseorang.
“Itu bukan sebuah masalah bagiku,” katamu waktu itu.
Tetap saja, ini bukan perihal berapa jumlah yang ia ambil, namun ia yang kau sebut teman itu telah mengkhianati kepercayaan dalam sebuah pertemanan. Lagi pula pada mulanya pasti sudah ada pengorbanan yang kau lakukan untuk mendapatkan seorang teman.

Putri, kau akan datang bukan? Aku menunggumu di ruangan putih ini dengan bernas asa senantiasa. Aku percaya padamu, Putri. Jangan lupa bawakan masakan yang ku sukai, aku sudah dua hari tak makan lantaran kematian yang akan terjelang ini membuatku kehilangan segala sesuatunya termasuk nafsu makan.

Putri, jika kau benar-benar datang, bawalah abang dan ayahmu yang seorang polisi itu. Kali aku tak akan takut lagi, aku percaya bahwa mereka tak akan membunuhku dan justru menyelamatkanku. Meski di depan mereka yang berseragam abu itu, tungkaiku akan gementar yang setelahnya tak dapat merasa apa-apa meski aku ingin lari. Lari setelah peluh membasahi tubuh dan debaran jantung tak beraturan.

Putri, aku ingin kali ini kau ada di depanku, kan ku ungkapan perasaan yang telah lama tersimpan. Di mana aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Kata di dalam puisi-puisi yang ku buat nan sering kau jawab ialah sebenar-benarnya rasa tanpa ayal khayal sedikit pun. Meski kau selalu mengacuhkannya dan menganggap itu hanya permainan kata.
Kau tahu, di dalam aplikasi pesan itu aku menunggu keberadaanmu. Meski akhir-akhir ini kita dijajah benalitas dan saling sibuk masing-masing. Bahkan untuk saling berbalas puisi saja kita tak lagi bisa.
Putri, aku sedih. Ketika kau memutuskan untuk meninggakkan dunia maya, tempat di mana aku hidup dan bertemu dengan dirimu yang aku nanti dalam hidupku. Semakin bertambahlah sekat-sekat yang sejak awal saja sudah berdiri tegap, kini ku tak tahu bagaimana supaya bisa menghancurkannya.

Putri, kadang aku lewat depan rumahmu. Berhenti sejenak untuk melihat keindahan yang menutupi kesedihanmu atas ilham netra yang luar biasa melebihi sesiapa. Kau yang dapat melihat apa yang tak terlihat pastilah tak pernah sepenuhnya bahagia, meski tak sekali pun senyuman itu hilang.
Maaf untuk pertemuan yang ku batalkan dengan alasan hujan waktu itu. Aku bodoh, teranat bodoh. Aku yang menyukai hujan malah beralasan membenci hujan dengan alasan ini itu ba-bi-bu dan pastinya mengecewakanmu. Kini, aku menyesali semua itu.
Dan Putri, lihatlah takdir manusia yang selalu dapat kau lihat. Lihatlah aku, apakah aku akan mati di ruangan putih ini atau kau akab datang menjemputku lalu membebaskanku? Tak usah kau jawab bila jawaban yang benar adalah yang pertama, aku akan terlalu sedih untuk mengetahuinya.

Datanglah, sekalipun nanti aku mati. Aku ingin kau ada di sini, bersamaku. Atau bersama daksa yang telah terpisah daru atmanya.

-AN-

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “7 Days : Bonus

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s