Diposkan pada Cerpen

#1 Lingsir Wetan

Dua gunung kembar, Sumbing dan Sindoro meletus hampir bersamaan. Orang-orang berlarian di jalanan tanpa tujuan, kalang kabut terpaut bencana maha dahsyat yang menghadang tanpa bisa sesiapa menghindarinya.
Langit di atas sana gelap gulita meski seharunya matahari memancarkan sinar hangatnya di siang hari bagai tak bertepi hingga cakrawala. Dalam hitungan detik, asap tebal mengepul dari mulut kedua gunung elok yang kali ini tak lagi elok. Lalu abu dan material menghujani pemukiman, sawah dan semua yang dilaluinya disertai getaran-getaran yang tak kalah hebatnya.

Sementara genangan air sepanjang mata memandang membanjiri tempat di mana Idham berpijak, sekalipun ia berada di puncak bukit Mangu, tempat tertinggi sekaligus teraman dari semua hal-hal mengerikan yang tengah terjadi.
Di sana hanya ada dirinya, yang saat inipun terancam menyusul orang-orang desa yang hanyut terbawa aliran atau tenggelam dalam-dalam. Desa Maguwo, desa tempat Idham dilahirkan itu telah berubah menjadi sebuah danau dengan luas dan kedalaman tak terkira.
Keadaan kian aneh lagi, bintang-bintang yang bersinar menghujani bumi dengan jumlahnya yang tak terkira. Terlihat di atas sana selanjutnya sang bulan mendekati bumi, bersiap menyandarkan lelah setelah sekian lama ia menerangi bumi ini.

“Ini terlalu aneh untuk sebuah kenyataan,” kata Idham.
“Apakah ini mimpi?” tanyanya dalam hati.

Bulan yang sejak tadi memang menuju bumi itu kini mendekat dan kian dekat, namun entah bagaimana caranya bulan itu malah berbelok arah menuju ke bukit Mangu. Sontak saat itu Idham mencoba menghindar, meski saat ini saja dirinya tengah berjuang sekuat tenaga agar tak terbawa arus nan deras dan hanyut entah ke mana. Akan tetapi semua usaha Idham sia-sia, bulan melesat menuju bukit Mangu, menabrak Idham yang pada akhirnya tak bergerak sama sekali dan juga puncak yang tak lagi nampak.

Idham terbangun dari tidur lelapnya dengan nafas terengah-eng
ah, menyadari sebuah bantal telah mendarat tepat di wajahnya. Ia tahu seorang di dekat pintu masuk kamarnya itulah yang melakukannya.
Bagai tak pernah mengalami mimpi buruk, Idham tetap saja melanjutkan aktifitasnya bermalas-malasan sembari menonton televisi yang pada kali pertama tersesat di dunia mimpi.
Sedang Ponirah, perempuan berwajah senja itu sengaja menyapu dan membersihkan lagi apa yang sebenarnya telah bersih, demi mencoba mengusir kantuk Idham, cucu semata wayangnya yang tetap rerebahan di kasur sembari menonton televisi meski berkali-kali ia melarangnya. Ia melakukan semua itu meski ini adalah kali pertama cucunya bermalas-malasan seperti itu, ia melakukan semua itu meski hari ini adalah hari minggu yang memang bagi sebagian orang adalah hari peristirahatan atas rutinitas.

“Jangan tidur di pagi hari, Lingsir Wetan,” kata Ponirah sembari membuka tirai jendela.
Masih terkantuk-kantuk, Idham bertanya. “Memangnya apa itu Lingsir Wetan, Nek?” tanyanya.
“Lingsir Wetan adalah posisi matahari ketika terbit, posisi di arah barat. Cuma orang pemalas yang amat teramat pemalaslah yang tidur lagi sepagi ini,” jawab Ponirah, terdapat penekanan pada kata ‘pemalas’.

Idham pun akhirnya bangkit berdiri, merelakan peraduan ternyaman direnggut oleh nenek yang menemaninya dari bayi sampai sebesar ini.

“Nek?” panggil Idham.
“Hmmm,” jawab Ponirah.
“Memangnya kalau saya tetap tidur, apa yang akan terjadi?” tanya Idham lagi.

Ponirah menghentikan aktifitasnya, bagi Idham segala sesuatunya pun ikut terhenti. Sejurus kemudian Ponirah berjalan mendekati Idham, yang hal itu memacu degub jantung Idham lima kali lebih cepat dari biasanya. Lalu mata Ponirah melotot ketika ia telah sampai di tujuan langkah-langkah kecilnya, di depan Idham.

“Kamu akan melihat bahkan mengalami hal-hal yang tidak kamu inginkan. Jadi, ikuti perintah nenek dan jangan tiduran lagi.” tukas Ponirah.

Idham menelan ludah, ia lalu mengangguk pelan. Sesaat kemudian Ponirah melanjutkan aktifitasnya, dan ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Idham sendirian. Sementara Idham masih tak percaya bahwa apa yang baru saja dilakukannya ternyata teramat sangat berbahaya, sekalipun itu hanya kegiatan yang terlihat biasa saja. Ia lalu mengingat kejadian di dalam mimpinya, yang hal itu tak nampak sekali seperti sebuah mimpi lantaran amat nyata. Ia kemudian berlari meninggalkan kamarnya, menyusul neneknya. Apapun akan ia lakukan asal tak lagi bergelut dengan ayal khayal yang bisa menjelma nyata bila ia tak mendengarkan petuah Ponirah, neneknya.

Selesai

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

6 tanggapan untuk “#1 Lingsir Wetan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s