Diposkan pada Cerpen

#2 Bolang Bontel

Bolang bontel Kabol ilang kecegur katel…

(Bolang bontel Kabol hilang tercebur katel…)

Gadis kecil bernama Bunga itu berputar-putar di sekitaran rumah Kabol, entah siapa yang telah menyihir bocah autis itu sehingga hari ini ia berubah 180 derajat dan menyebabkannya berekpresi bahkan bernyanyi. Sementara Kabol, anak kecil seumuran Bunga yang tengah dijadikan bahan nyanyian itu hanya melihatnya dari tirai jendela yang sedikit terkuak.
Lalu Marni, ibu Kabol, tersedih melihat anaknya dijadikan bahan nyanyian seperti itu. Iya pun sebenarnya telah mencoba mengusir Bunga dari pekarangan rumahnya akan tetapi Bunga selalu kembali dan kembali bernyanyi.

“Ora usah dirungokake, Bunga ke pancen cah edan,” ¹ kata Marni.
Kabol menoleh, ia lalu tersenyum. “Ibu akan pergi sebentar ke hutan mencari kayu bakar, apakah kamu akan ikut?” tanya Marni.
Kabol menggeleng, “Ya sudah, ibu tinggal dulu ya…” kata Marni sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Kabol di ruang lengang itu.
“Oh iya, jangan dengarkan bocah edan itu ya!” perintah Marni.

Sementara punggung Marni tertelan ujung jalan, Kabol memberanikan diri untuk keluar rumah mendekati Bunga. Bunga yang melihat Kabol sempat menghentikan nyanyiannya, ia memandangi Kabol lekat-lekat seperti dipertemukan dengan kesedihan.
Bunga kembali melanjutkan nyanyiannya, sementara air muka Kabol terisi akan kegembiraan melihat ayahnya pulang dari tugasnya di ketentaraan.

“Bapak!” teriak Kabol.
Kabol berlari memeluk ayah dengan seragam hijau itu, ia memeluknya dengan begitu erat. “Aku kangen banget sama bapak,” katanya.

Ditatapnyalah sang ayah yang sejak kepulangannya sudah membawa keanehan, tak pernah sekalipun seutas senyuman terbit di wajahnya.

“Ayo kita masuk, Pak!” perintah Kabol.

Masih dengan tangan kanan memegang tas besar, sedang tangan kiri memegangi Kabol yang ada di pelukan, sang ayah lalu membawa Kabol masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Bunga malah menangis melihat Kabol ada dalam dekapan ayahnya, ia tak lagi bernyanyi. Air muka kesedihan itu kembali mengiasi wajahnya.

Di dalam rumah…

“Cepat kamu buka katel itu!” perintah sang ayah.

Kabol menelan ludah, ia ingat akan suatu pesan orang di depannya sendiri yang bersumpah akan menghukum dirinya jika berani mendekati bahkan membuka wadah untuk memasak itu yang kali ini ayahnya itu malah menyuruh dirinya untuk membukanya.

“Tapi, Pak. Bapak kan…”
“Cepat buka katel itu!!!” tukas sang ayah dengan nada yang kian meninggi sebelum Kabol sempat berkata-kata.

Kabol mulai merasa ada yang aneh dengan ayahnya itu, sang ayah yang selalu bersikap hangat terhadapnya hari ini menjelma menjadi seorang yang amat asing; tak lagi ia kenal. Ia pun kembali mengingat, kali ini tentang ibunya. Marni, sang ibu, pernah berkata bahwa katel di hadapannya ini bukanlah sebuah katel sembarangan melainkan katel ajaib yang bisa mengabulkan permintaan orang yang membutuhkan apapun yang dibutuhkan asal diisi oleh seseorang.
Kabol kini mengerti bahwa orang di depannya bukanlah sang ayah, sekalipun wajah mereka teramat mirip. Meski begitu ia tak dapat mengelak apalagi menolak perintanya, tangan sang ayah yang besar itu mencengkeram lengan mungilnya, cukup untuk membuatnya merintih kesakitan hingga meneteskan air mata dan menuruti perintah. Dan ia pun tengah bersiap membuka katel itu.

Sementara di tempat lain…

Marni tengah berjalan menuju ke rumahnya sembari membawa kayu bakar hasil pencariannya sore ini, langkahnya sempat terhenti melihat seorang yang tak asing bagi dirinya ada di seberang jalan dengan langkah-langkah yang mantap berjalan.
Di desa tempatnya tinggal, hanya orang itulah yang bisa memakai baju hijau; tentara.

“Mas Pur!” panggil Marni.

Pur menoleh, seutas senyuman terbit di wajah legamnya akibat berpapasan dengan matahari setiap hari dalam latihan. Meski begitu tetap tak mampu menyembunyikan ketampanannya, terlebih ketika baju hijau itu melekat di badannya.

Marni meletakkan sejenak kayu bakarnya, “Sudah pulang?” tanya Marni seraya mencium tangan suaminya.
“Iya, aku sudah sangat Rindu dengan kamu dan Kabol,” jawab Pur.
“Ya sudah, mari kita pulang!” ajak Marni.

Di jalan pulang mereka bergantian; Marni menggantikan Pur membawa tas kerjanya, sedang Pur membawakan kayu bakar yang didapat oleh istrinya itu.

✳✳✳

Marni menggeleng-gelengkan kepala melihat Bunga masih bernyanyi sembari menari di pekarangan rumahnya, namun ia tak menghiraukan dan berjalan menuju ke rumahnya. Sementara Pur melihatnya karena begitu penasaran, ia pun mendekati Bunga.

“Kenapa kamu bernyanyi seperti itu?” tanya Pur.
“Ka-bol i-lang ke-ce-gur ka-tel,” Bunga mengatakannya dengan mengeja.

Jantung Pur berdebar dengan begitu cepatnya, napasnya pun memburu setelah sadar maksud ucapan bocah yang sudah dianggap tidak waras oleh orang-orang bernama Bunga ini. Ia pun mendongak, melihat ke arah rumahnya lalu berlari sekencang yang ia bisa.

“Kabol di mana, Buk?” tanya Pur dengan tergesa.
Marni terkesiap mendengar langkah terburu dan pertanyaan suaminya itu, “Tidak ada di sini, paling juga di kamarnya,” jawab Marni.
“Cepat cari dia!” perintah Pur.
“Baik, Mas..” kata Marni.

Alhasil Marni yang hendak beristirahat di kursi pun harus terganggu lantaran sang suami yang menyuhnya mencari anak semata wayangnya itu.
Semua sudut di rumah ini sudah ditelusuri oleh dirinya, namun ia tak jua menemukan Kabol. Dan seperti suaminya, kali ini pun ia turut serta panik.

“Bagaimana ini, Mas?” tanya Marni.
Pur mengacak-acak rambunya karena tak tahu harus menjawab dengan apa pertanyaan istrinya itu, “Katelnya,” gumam Pur.

Pur segera berlari menuju dapur diikuti oleh Marni, ia terkejut bukan main mendapati katel yang selalu setia berada di atas perapian sudah raib. Marni menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya, perlahan bayang-bayang akan kejadian yang tak diinginkan terlintas di benaknya. Dalam hatinya timbul sebuah penyesalan; tentang ia yang tak mengajak Kabol bersamanya, tentang Kabol yang dengan tega ia tinggalkan sendirian, tentang Bunga yang memberinya pertanda namun tak pernah ia sadari. Bahwa katel miliknya telah dicuri, bersama Kabol sebagai tumbal atas terkabulnya permintaan sang pencuri katel tersebut.

Dalam pelukan Pur, Marni terus menangis tersedu menyadari anak semata wayangnya telah menghilang dari dunia untuk selama-lamanya.

Selesai

¹ Tidak usah didengarkan, Bunga itu memang gila

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s