Diposkan pada Cerpen

#3 Rumah Nomor Satu

Rumah nomor satu itu kini terbengkalai, tak terawat karena ditinggalkan pemiliknya. Konon, rumah tersebut tak bisa ditinggli sekalipun dibangun dengan arsitektur nan mewah dan berada di lingkungan agamis karena letaknya yang berada di ujung jalan. Bagi orang di desa ini, rumah itu akan membawa malapetaka bila saja tetap nekat ditinggali.

Beberapa tahun sebelumnya…

Kehidupan di rumah yang letaknya hanya bersekat jarak lima meter dari rumahku ini dipenuhi akan kebahagiaan, meskipun mereka hidup secara sederhana.
Namanya Rian, hidup teman baikku yang usianya hanya terpaut satu tahun dariku ini memang membuat siapa saja akan iri. Bagaimana tidak, pasalnya ia memiliki keluarga yang lengkap; orang tua yang masih utuh, seorang nenek, seorang adik perempuan dan seorang adik laki-laki. Meskipun aku memiliki keluarga yang lengkap pula, akan tetapi tetap saja ada selisih perbedaan yang membedakan sekaligus menerangkan bahwa dia tetaplah unggul atas semuanya.

Pernah suatu ketika aku main ke rumah Rian, ruangan di rumah itu terisi oleh cinta. Terputarlah musik India, lalu aku dan Rian yang gemar menari pun akhirnya menari dengan diringi musik itu.
Setelah puas menari, aku diajak oleh Rian untuk bermain mobil-mobilan. Koleksi mobil-mobilan milik Rian semakin bertambah setiap harinya, hampir setiap hari sang ibu yang bekerja di kota membawakannya mainan baru, khususnya mobil-mobilan ini. Rian bahkan menawarkan beberapa mainannya untukku miliki, sontak saat itu aku mengiyakan. Memangnya siapa yang tidak mau mainan bermerek yang harganya mahal?

“Bawalah ini, aku sudah tidak mau memainkannya lagi,” kata Rian seraya memberikan mobil-mobilan itu.

Sejak Rian memberikan mainannya kepadaku, aku hampir setiap hari bersama-sama dengan dirinya. Meski sebelum-sebelumnya aku tak berani mendekatinya karena ia terkenal galak, pemarah dan juga kejam, namun anehnya semua itu tak berlaku kepadaku. Ketika bersamaku ia seolah menemukan sahabat sejatinya, aku pun sama, hanya saja tak pernah menyadarinya.
Hingga suatu ketika, ibunya Rian sakit parah. Beliau sering muntah-muntah, imbasnya aku jarang bermain bersama dengan Rian lagi karena ia harus merawat ibunya. Saat itu aku mulai merasa kehilangan, aku kehilangan seorang teman yang ada selalu setia menemaniku ke mana saja.

Cobaan dalam hidup Rian terus bertambah, penyakit sang ibu kian parah hingga akhirnya beliau meninggal dunia. Saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat Rian meneteskan air mata, menangisi ibunya yang pergi untuk selama-lamanya.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, ayah Rian menikah lagi dengan seseorang. Dan hal itu menyebabkan Rian dan keluarganya meninggalkan rumah yang dahulu penuh kebahagiaan itu. Hanya saja saat itu sang nenek tidak ikut serta pindah rumah, ia bersikeras untuk tetap tinggal di rumah peninggalan almarhum suaminya meskipun menantu dan beberapa warga telah memperingatkan dirinya untuk meninggalkan rumah itu.
Anaknya yang nomor dua pun meninggal dunia di rumah itu ketika melahirkan anak pertamanya, disusul dengan ibunya Rian. Orang-orang semakin percaya bahwa rumah itu memang tidak beres dan memang harus ditinggalkan.

Beberapa saat setelah kematian ibunya Rian…

Tergopoh-gopohlah aku, ibuku dan nenekku berlari menuju ke rumah mbah Idah(nenek Rian) ketika mendengar kegaduhan. Rupanya mbah Idah dengan anak sulungnya, mbok Inah, tengah menuntaskan kerinduan, karena hal itulah kami semua tahu bahwa kegaduhan tadi berkat mbok Inah yang mengira bahwa tenda di sekitaran rumah mbah Idah adalah tenda milik ibunya. Ia mengira bahwa itu untuk kematian ibunya. Maka dari itu seutas senyuman terbit di wajahnya, namun juga sekaligus air mata membanjir tak terkira hitungannya.

Karena mengira semua baik-baik saja, kami pun pulang ke rumah. Akan tetapi baru beberapa langkah saja kami beranjak, terdengar suara teriakan mbah Idah yang membuat kami kembali ke rumahnya.

Mbah Idah menangis, sementara mbok Inah ada di pangkuannya. “Tulung! Anakke enyong kenopo kie kok anteng ae?” ¹ tanya mbah Idah dengan segala kekhawatirannya.
“Sabar, mbah. Sabar,” kata nenekku mencoba menenangkan.

Seorang tetangga memeriksa keadaan mbok Inah, yang ternyata ia sudah tak lagi bernyawa. Mbah Idah menangis histeris mengetahui satu lagi anaknya meninggak di rumah warisan suaminya ini.

Beberapa hari setelah kejadian itu, mbah Idah pun sakit hingga ia meninggal. Tidak ada yang tersisa lagi dari rumah itu selain kesepian.

Selesai

¹ Tolong! Anak saya kenapa ini kok diam saja?

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “#3 Rumah Nomor Satu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s