Diposkan pada Cerpen

#4 Turn On Your Klarkson

Dimas Sutejo, adalah seorang yang selalu setia mengantar serta menjemput kekasihnya, Naima. Meski mereka sama-sama tak muda lagi, namun mereka tetap ingin membangun sebuah ikatan yang menyatukan. Sampai hari ini, semua tujuan-tujuan itu hanyalah angan belaka. Berbagai alasan seperti anak-anak mereka atau keluargalah yang menyekat serta menyebabkan hal itu tak kunjung terjelangi.

Malam itu kesetiaan Tejo diuji, ia harus keluar tengah malam di kala malam jum’at dengan rerintik gerimis nan membekukan untuk menjemput Naima yang bekerja di luar kota.

“Aku akan menunggumu 30 menit, jika kau tetap tak datang aku tak akan pulang. Jangan merasa bersalah, sesungguhnya semua ini salahku sendiri,” kata Naima pada sebuah pesan singkat.

Tejo melewati aral rintangan itu, kekuatan cinta telah membuatnya mengalahkan segalanya. Mata Naima berkaca-kaca melihat Tejo ada di depan matanya, kerinduan itu tertuntaskan ketika tiga puluh menit yang Naima punya mendekati detik-detik terakhir dan ia menyerah.

Malam itu mereka pulang lewat tengah malam, membelah dinginnya kota yang hanya menyisakan mereka berdua. Hingga mereka sampai di jalan menanjak dan berbatu, itulah gerbang menuju ke rumah mereka.
Namun Tejo terlupa membunyikan klaksonnya ketika melewati gerbang desa yang juga gerbang menuju ke pekuburan. Konon, seseorang yang melewati gerbang itu lewat tengah malam harus membunyikan klaksonnya sekedar untuk menghormati atau mengimani bahwa di sekitaran gerbang itu memanglah ada sesosok makhluk penunggu.

Naima teringat akan kata orang itu, ia lalu menepuk pundak Tejo beberapa kali, “Bunyikan klaksonnya!” teriak Naima, yang mulai panik.

Tejo segera membunyikan klaksonnya meskipun hal itu sudahlah tak berlaku lagi. Dan benar saja, sejurus kemudian sebuah tangan yang besar berwarna hitam dan berbulu dengan cengkraman yang kuat memegang kaki Naima serta bemper motor Tejo. Naima berteriak histeris karena ketakutan, sementara Tejo yang tak kalah paniknya terus membunyikan klaksonnya. Hal itu bahkan didengar oleh para warga yang tengah terlelap, beberapa dari mereka kemudian keluar lalu menuju gerbang desa untuk melihat apa yang terjadi.

Mereka mendapati dua insan dengan peluh yang membasahi tubuh, nafas terengah-engah dan air muka terisi kecemasan.

“Apa yang terjadi?” tanya salah seorang warga.

Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka berdua, karena hal itulah para warga itu membawa mereka pulang. Namun terror dari makluk penunggu gerbang belum berakhir, ia kembali menunggu Naima ketika Naima tengah berada di kamar kecil.
Teriakan Naima mengundang semua orang untuk menjelang, ia ditemukan tergeletak tak berdaya di kamar kecil.

“Aku melihatnya lagi,” gumam Naima ketika Tejo membawa dirinya ke peraduan.
“Dia hitam, besar, matanya merah,” kata Naima lagi sebelum ia kembali tak sadarkan diri.

✳✳✳

Orang-orang berlalu lalang menjenguk Naima, sementara Tejo berada di ruang tamu dengan Kila, anak Naima. Mereka saling diam.

“Saya perlu berbicara dengan anda, Pak,” kata Kila, akhirnya.
Tejo mendongak, “Mau bicara apa?” tanya Tejo.
“Mari keluar,” ajak Kila.

Kila pun keluar rumah diikuti oleh Tejo, mereka lalu berhenti di sebuah jalanan lengang jauh dari orang-orang.

“Saya minta bapak tidak usah dekat-dekat lagi dengan ibu saya,” kata Kila.
“Kenapa?” tanya Tejo.
“Bapak lihat sendiri bukan, seperti apa ibu saya saat ini? Dia tidak akan seperti ini kalau saja ia tidak anda jemput,” jawab Kila.
“Maaf,” ucap Tejo sembari tertunduk.
“Ingat kata saya, Pak!” tukas Kila sebelum pergi meninggalkan Tejo sendirian.

Tejo pun pulang dengan bersedih, tidak pernah ia sangka bilamana Kila akan mengatakan hal semacam itu, kata yang menyakiti hatinya.

“Saya mau bicara sama, bapak,” kata Tina, anak sulung Tejo begitu Tejo membuka pintu masuk rumahnya.
“Biar aku tebak, kau pasti menyuruh bapakmu ini untuk menjauhi Naima,” kata Tejo.

Tina termangu mendengar kata-kata dari ayahnya, bagaimana mungkin ayahnya bisa membaca apa yang ada benaknya.

Tejo melewati Tina yang tengah terheran-heran, ia membenamkan tubuhnya di kasur lapuk berharap tertidur lalu bermimpi indah, dan tak masalah jika tak pernah terbangun sekalipun.

Sejak kejadian malam itu, Tejo dan Naima tak pernah lagi bersama-sama dalam cinta.

Selesai

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

9 tanggapan untuk “#4 Turn On Your Klarkson

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s