Diposkan pada Cerpen

#5 Ondar Andir

Suasana desa saat itu sangat sunyi senyap lantaran listrik mati, tidak ada satu cahaya pun kecuali sinaran berkat dian yang terpajang di ruang tamu para warga. Irkham, Nadhir dan Burhan berjalan di jalan pulang setelah selesai mengaji.
Hari ini mereka bertiga girang sekali, karena listrik yang mati itulah yang pada akhirnya membuat kegiatan mengaji terpaksa dihentikan, sedang para murid dipersilakan untuk pulang. TPA tempat mereka mengaji memang tergolong yang kurang mampu, bahkan dindingnya saja terbuat dari blabak, sejenis kayu yang dijejerkan bersebelahan lalu dipaku namun masih menyisakan sedikit celah. Orang-orang desa menyebutnya, AC alami.
AC alami ini sangat berguna di kala musim kemarau. Di saat matahari tengah terik-teriknya angin akan berhembus dari sana memberikan kesejukan. Sedang di musim penghujan, ia akan dijauhi karena melahirkan dingin tak tertahankan. Jika sudah begitu AC alami ini akan ditutup menggunakan koran bekas untuk mencegah hawa dingin itu masuk.

Mereka bertiga terdiam ketika melihat seorang di kejauhan, mereka dibuat bingung karena biasanya orang-orang akan lebih memilih terdiam di rumah menunggu sampai listrik kembali menyala atau pun memilih tidur, akan tetapi orang ini malah keluar rumah.

“Itu siapa ya?” tanya Irkham.
“Iya, siapa sih itu?” Nadhir ikut bertanya.

Sementara Burhan menghentikan langkahnya yang hal itu tak diketahui oleh Irkham dan Nadhir. Ia memang merasa ada yang aneh dengan seseorang di depan sana.

Entah ke mana perginya seseorang di balik gelap yang hendak Irham dan Nadhir jelangi, karena sampai mereka merasa benar-benar berada di tempat orang itu berada, malah tak mereka temui siapapun.
Hingga langkah mereka terhenti, karena melihat sesuatu yang teramat besar di depan mereka. Benda itu seperti jari-jari kaki, hanya saja ukurannya tak lazim. Sejurus kemudian benda itu bergerak, jantung Irkham dan Nadhir berdegub kencang. Mereka kemudian saling berpandangan, setelahnya kompak saling mendongak. Mereka mendapati dua tungkai hitam dan berbulu dengan tinggi yang sama tak lazimnya dengan besarnya.

“Lari!!!” teriak Nadhir.

Saat itu Burhan yang diam di belakang segera berlari tak tentu arah, sampai ia masuk ke rumah salah satu warga disusul oleh Nadhir dan Irkham dengan nafas terengah-engah.

“Ada apa?” tanya pemilik rumah bernama Siti itu.
Mereka bertiga masih mengatur nafas, juga menghapus peluh yang meluruh; runtuh. “Ada setan,” jawab Burhan.
“Sikak de, ninggal nyong karo Irkham! Ra omong nek ono setan sisan!” ¹ maki Nadhir kepada Burhan.
Burhan mendongak, “Ha, omong piye wong gek nyong ae koyo patung; meneng, anteng.” ² kata Burhan.
Siti geleng-geleng kepala menyaksikan perdebatan sepasang teman itu, ia pun kemudian kembali bertanya. “Lha, emange setan opo to?” ³ tanyanya.
“Ondar Andir,” jawab Nadhir, Irkham dan Burhan hampir berbarengan.
“Yo wis, sedek mbegogok nang kene disek wae.” ⁴ kata Siti.

Mereka bertiga kemudian duduk di kursi tamu, sementara Siti meninggalkan mereka, ia berjalan ke belakang. Sesaat kemudian Siti datang dengan membawa minuman serta beberapa kudapan yang langsung disambut oleh mereka bertiga.

“Nanti kalau sudah selesai makannya, saya antar pulang,” kata Siti.
“Terima kasih,” ucap mereka bertiga, bergantian.

Setelah puas menghabiskan kudapan, mereka pun bangkit berdiri. Siti keluar rumah terlebih dahulu disusul dengan tiga orang teman yang tengah ketakutan itu.
Siti mengantar mereka bertiga menuju rumah mereka masing-masing, berawal dari rumah Nadhir, Irkham lalu rumah Burhan. Ia ingin memastikan bahwa mereka bertiga sampai di rumah tanpa merasakan lagi ketakutan. Pada hari itu ia menjadi pahlawan penyelamat dari ketakutan berkat pertemuan dengan hantu bernama Ondar Andir itu.

Lalu ketika di jalan pulang, ia berhenti sejenak di jalan di mana Ondar Andir itu menampakkan diri. “Anak-anak itu, ternyata tidak berbohong,” gumam Siti.

Selesai

¹ Sialan kamu, meninggalkan aku dan Irkham! Tidak bilang kalau ada setan juga!
² Ha, bilang bagaimana orang saya saja seperti patung; diam, tidak bergerak.
³ Lha, memangnya setan apa sih?
⁴ Ya sudah, kalian duduk di sini saja dulu,

? Ondar Andir : Hantu Galah : Hantu yang tingginya tak terkira

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

4 tanggapan untuk “#5 Ondar Andir

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s