Diposkan pada Cerpen

#6 Wewe : Malam Selasa Kliwon

Ngobor adalah suatu aktifitas mencari ikan di malam hari dengan menggunakan obor dan juga bendo, sejenis pisau besar yang biasa digunakan untuk memotong kayu. Malam itu Nadhir dan kawan-kawannya berangkat ngobor di Tok Bugel, sebuah kali yang terletak di sebelah selatan desa Maguwo, sebuah desa tempat di mana Nadhir dan kawan-kawannya dilahirkan.

Untuk malam ini Nadhir tidak ditemani teman setianya ngobor, pak Uri, yang juga tetangga Nadhir lantaran beliau mengalami suatu kecelakaan. Pada malam sebelumnya pak Uri bersama pak Oim ngobor di Tok Bugel juga. Saat itu jempol pak Uri yang bergerak-gerak di dalam air malah dikira ikan oleh pak Oim, jadilah jempol itu terkena bacokan yang cukup untuk membuat pak Uri berteriak sekencangnya lantaran jempolnya berdarah-darah.
Nadhir tertawa mendengar cerita itu, malam itu pak Uri dan pak Oim pulang dengan tangan kosong. Malah dengan kesakitan lantaran bacokan bendo oleh pak Oim.

“Tapi sekarang ini malam selasa kliwon lho, Nad,” kata seorang teman bernama Irvan yang menyadarkan Nadhir akan pemikiran yang tengah mengulang apa yang diceritakan pak Uri.
Nadhir menghentikan langkahnya, “Jadi, kamu takut nih?” tanya Nadhir.
“Ya, nggak. Maksud aku…”
“Kalau takut, pulang saja!” perintah Nadhir setengah berteriak.

Tempat bernama Tok Bugel itu memang terkenal akan keangkerannya. Pernah suatu hari seseorang melihat ular sebesar beduk di tempat itu. Hal itu dibenarkan oleh para penduduk desa. Konon, ular itu adalah ular yang mengingatkan seseorang untuk segera pulang dan melaksanakan sholat jum’at. Para tetua desa memang suka mengaitkan hal mistis dengan kebaikan, mungkin agar tidak ada lagi yang khawatir atau takut meskipun hal itu tak merubah pandangan siapapun tentang Tok Bugel. Dan hal itu sukses membuat tak sedikit dari orang-orang desa enggan untuk barang mandi atau mencuci di sana. Paling hanya tetua dan segelintir orang seperti Nadhir dan kawannya yang tetap nekat menjelangi tempat itu.

“Bagaimana ini?” tanya Irvan menggumam.
Sementara Nadhir telah jauh di depan sana, “Lanjut saja, kasihan juga kalau Nadhir sendirian,” jawab seorang teman.

Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, menyusul Nadhir yang hampir sampai di tempat tujuan.

“Nadhir!” panggil Irvan.
Nadhir menoleh, melihat pada Irvan juga teman-temannya yang mendatanginya dengan sebuah obor. “Lho, kalian gak jadi pulang?” tanya Nadhir.
“Tidak, aku ikut kamu saja,” jawab Irvan dengan tersenyum meski senyumnya nan ranum tersekat pekat.
“Baiklah, mari kita mulai petualangan kita ini,” kata Nadhir.

Sepersatu dari mereka, tak terkecuali Nadhir pun menceburkan diri ke sungai yang tingginya hampir selutut dengan kaki telanjang.
Lalu mereka kemudian melayangkan bendonya membelah dinginnya air yang mengalir tenang.
Sementara teman-temannya asyik mencari ikan, Nadhir malah diam terpaku menatap sesosok asing yang tengah berdiri di dekat pohon kopi, saat itu ia berharap sosok itu hanyalah sebuah karung yang bergerak karena terhempas angin. Namun kenyataannya sosok itu ialah Wewe, hantu perempuan yang suka mencuri anak terutama yang ditelantarkan oleh orang tuanya.
Sejurus kemudian, bulu kuduk Nadhir pun berdiri. Secepat kilat sebuah perasaan aneh menyelimutinya, berawal dari ujung rambut hingga ujung kaki yang puncaknya ialah di bagian dada. Jantungnya berdegub dengan begitu kencang lebih dari sebelum-sebelumnya. Di tambah lagi ketika sosok itu menatap dirinya, bendo yang di genggamannya bahkan sampai terlepas.

Melihat Nadhir hanya diam terpaku, seorang teman pun mendekati Nadhir. “Ada apa, Nad? Kok diam saja?” tanyanya sembari menepuk pundak Nadhir.
Sementara mata Irvan tertuju kepada apa yang Nadhir lihat, “Setan!!!” teriak Irvan keras melihat sosok itu.
Sontak semua orang lalu mendekati Irvan, “Mana?” tanya mereka hampir berbarengan.
Tangan Irvan bergetar hebat namun ia berusaha menujuk sosok itu, “Lari!!!” teriak Nadhir.

Nadhir, Irvan dan teman-temannya pun keluar dari air, setelahnya mereka berlari sekuat tenaga agar bisa segera keluar dari Tok Bugel.

Nafas mereka terengah-engah ketika mengentikan pelariannya di gerbang desa, “Tuh kan, apa aku bilang!” hardik Irvan.
“Jadi, sekarang kamu menyalahkan aku?” tanya Nadhir, bibirnya termonyong-monyong.
“Ini semua memang salah kamu!” teriak Irvan.
“Kan aku udah bilang tadi, kalian pulang saja kalau memang takut.” kata Nadhir.
“Ah, sudahlah. Kamu memang gak pernah ngerti, gak akan pernah ngerti.” kata Irvan seraya mengibaskan tangannya.

Sesaat kemudian Irvan berjalan meninggalkan Nadhir sendirian di gerbang desa diikuti oleh teman-temannya. Saat itu kata-kata Irvan terngiang di kepalanya, tentang dirinya yang tidak akan pernah bisa mengerti itu.

Selesai

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s