Diposkan pada Cerpen

#7 Giant Snake

Toro berlari dengan tergesa menuju rumahnya, peluhnya membasahi tubuh dan jantungnya berdegup kencang. Apa yang baru dilihat membuat tekadnya berubah, menyadarkan ia bahwa sesungguhnya apa yang dikata ibunya selalu benar. Perlahan ia menyesal karena telah melukiskan deraian air mata di pipi sang ibu.

Tergopoh Toro berjalan menuju pawon, dapur khas pedesaan dengan kayu sebagai bahan bakarnya, juga tempat di mana Una, sang ibu berada kini.

“Ibu!” panggil Toro, sepersatu air mata mulai mengaliri wajahnya.
Una pun menoleh, “Toro?” tanyanya, heran.

Ia tak percaya bahwa anak semata wayang yang keras kepala itu akan pulang kembali, sebab biasanya jika Toro sudah memiliki keinginan, ia akan kukuh mempertahankan keinginan tersebut.

Toro berjalan ke arah Una lalu saat itu memeluknya, “Maafkan Toro, bu,” gumam Toro.
“Toro telah membuat ibu bersedih,” tambahnya.
“Iya, nak. Tidak apa-apa,” kata Una seraya menepuk pundak Toro.
“Toro melihah makhluk itu, bu. Ia menghadang Toro di Tok Bugel ¹ ,” kata Toro seraya melepaskan pelukan.
Una terkesiap melihatnya, “Maka dari itu ibu melarangmu ke sana, apalagi kamu tengah marah.” kata Una seraya mengalihkan pandangan.
Senyap sempat menyelinap di antara atmosfer sebelum akhirnya Una kembali berkata-kata, “Jadi, kamu pulang untuk sholat jum’at kan?” tanya Una.
Toro mengangguk, “Ya sudah, sana cepat mandi. Sepuluh menit lagi sudah jam dua belas, lho…” perintah Una.

Toro kembali memeluk ibunya sebelum bergegas mandi dan hendak menuju masjid untuk sholat jum’at, kali ini dengan senyum nan ranum.

Beberapa saat sebelum kejadian itu…

“Toro!!!” teriak Una.
“Toro ibu mohon, kali ini dengarkan kata ibumu ini,”
“Sholat jum’at itu wajib hukumnya bagi kamu, seorang lelaki.” kata Una seraya menyeka air mata yang sepersatu mengaliri wajahnya.
Toro terpegan, “Kalau ayahmu melihatmu seperti ini, pasti dia sangat kecewa,” ucap Una lagi.

Mendengar kata tentang ayahnya, emosi dalam diri toro malah kian berkobar. Kali ini rasanya bahkan tak dapat lagi tertahankan. Maka dari itu ia melangkahkan kakinya menuju tempat yang ia mau.

“Toro!!!”
“Kalau kamu tetap nekat ingin pergi, kamu akan bertemu dengan makhluk itu!” teriak Una.

Konon, di Tok Bugel ada seekor ular raksasa yang kemunculannya untuk suatu keburukan. Meski para warga desa percaya, nyatanya belum pernah ada yang melihat ular raksasa itu menampakkan dirinya.

Toro menelan ludah, selangkah saja ia sudah bisa keluar dari rumahnya. Namun perkataan ibunya itu membuatnya ragu; jantungnya berdebar dan nafasnya memburu. Meski begitu ia tetap pergi.
Tempat yang ia tuju adalah sebuah bukit yang letaknya tepat di atas Tok Bugel, dari sanalah Toro biasanya menemukan cara untuk berdamai dengan dunia dan segala problema yang ada. Di mana ibunya terlalu mengekangnya untuk ini itu ba-bi-bu. Di mana sang ayah yang bertugas di ketentaraannya tak kunjung pulang melahirkan kerinduan yang mendalam. Dan berbagai masalah lainnya yang membuatnya merasa tak ada lagi yang bisa mengertinya.

Toro berlari di jalanan berbatu yang menanjak dan menurun dengan perpaduan sedikit belokan. Sesampainya di Tok Bugel, ia disambut dawai serunai dari kesiur bambu nan merdu, dipadu lagi dengan kicauan burung-burung yang menenangkan juga aliran air yang mengalir dari hulu menuju desa-desa.
Semua keindahan alam itu membuat matanya memejam, ia menghirup udara yang dibauinya tanpa noda berkat polusi seperti di kota-kota. Sampai suatu ketika sebuah pawana menerpa dengan daya yang membuatnya bergeser dari tempat berdirinya.
Toro takut membuka mata. Jantingnya berdegub dengan kencangnya diiringi nafasnya yang tak beraturan. Pelan, ia membuka matanya. Ular besar dengan mulut menganga itu tepat ada di depan matanya, mulutnya yang besar bahkan mungkin bisa menelan saung di sebelahnya.

“Jangan bunuh aku!” teriak Toro.

Ia mundur beberapa langkah dan hampir jatuh ke jurang. Sementara ular raksasa itu mendekati Toro, matanya yang sedari tadi terpejam kini memancarkab sinar berwarna merah menyala. Secepat kilat darah mengalir dari ujung kaki menuju ujung kepala Toro, saat itu ia merasa seperti telah terpisah jiwa dari raganya.
Toro kembali memejamkan matanya, saat itulah Toro mendapatkan lagi perpaduan kesiur bambu, kicauan burung dan aliran air.
Ia membuka mata, sang ular raksasa tak lagi di depannya. Sontak ia berlari menjauhi tempat yang selama ini menjadi tempat istimewa baginya.

Selesai

¹ Tok berarti sumber(mata) air, sedang Bugel adalah nama daerah

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s