Diposkan pada Cerpen

#8 Daru Siwur

Berbelanja adalah hal yang menyenangkan bagi keluarga Ari, terlebih bagi Ari sendiri sebab saat itulah ia bisa jajan jajanan kesukaannya sepuasnya.
Malam itu Ari berangkat bersama kedua orang tuanya dan Asti, adik kecilnya yang baru berusia lima tahun. Konon, anak kecil lebih peka terhadap kehadiran makhluk halus, maka dari itu Ari benci jika adiknya itu selalu ikut dengan dirinya. Namun malan itu sang nenek tidak ada di rumah, jadilah tidak mungkin jika Asti ditinggal di rumah sendirian.
Ari yang saat itu masih berusia sebelas tahun memegang oncor dan berjalan di depan, sedang oncor yang kedua dipegang oleh ayahnya. Maklum, masa itu belum ada listrik. Jadilah oncor sebagai sumber cahaya yang utama.

“Ibu, nanti aku mau jajan yang banyak ya!” celoteh Ari.
“Iya, iya,” sang ibu enggan mengindahkan, sebab Ari telah mengatakannya berulang kali, berawal ketika ia tahu bahwa malam ini ia dan keluarganya akan pergi berbelanja ke warung.

Warung yang mereka tuju adalah warung yang letaknya ada di tengah desa, yang kebetulan adalah warung dari saudara ibu Ari. Karena hal itu tak jarang Ari sering mendapatkan bonus jajan dengan jumlah yang begitu banyak.

“Suwo!” teriak Ari seraya menggedor-gedor jendela.
“Suwon!!!” teriak Ari lagi dengan nada yang kian meninggi.
“Hush, gak usah teriak-teriak kenapa sih?” tanya ayah Ari setengah mengeram.

Ari terpegan, kata-kata ayahnya selalu bisa membuatnya diam terpaku.

Sesaat kemudian, seseorang yang Ari panggil dengan suwo itu pun keluar dan membuja jendela, “Oh, Ari. Mau masuk apa di luar saja?” tanya suwo.
“Masuk aja ya!” kata suwo lagi sebelum Ari menjawab pertanyaan yang baru dilontarkan.

Mereka berempat pun masuk, kedatangan Ari disambut hangat oleh seorang lelaki tua yang Ari sebut dengan wo Mudi. Ari mencium tangannya, sementara itu wo Mudi malah menciumi wajah Ari dan berhasil membuat Ari menggeliat kegelian berkat kumisnya. Ari lalu berlari menuju ke warung, mengambil jajan yang sudah diincarnya sedari pagi.
Sementara ayah dan ibu Ari mengobrol di ruang tamu dengan wo Muji dan suwo, Ari bermain dengan adiknya dengan sebuah hadiah dari jajanan yang baru didapatinya. Sampai pada akhirnya Asti mengantuk dan terlelap di pangkuan ibunya dan Ari bermain sendiri. Bosan, akhirnya Ari merenggek kepada ibunya untuk pulang ke rumah dengan dalih ia ingin mengerjakan pr.
Kepulangan Ari tak luput dari perhatian suwo Muji, ia kembali menciumi wajah Ari sampai Ari rasanya tak mau lagi datang ke tempat itu.

Di jalan pulang, semua masih di posisi yang sama. Ari berjalan di bagian terdepan, disusul oleh ayah dan ibunya di belakang membawa oncor.
Entah kenapa di tengah jalan Asti menengis, padahal selama di tempat suwo ia terus terlelap. Hal itu membuat ibu Ari menghentikan langkahnya untuk menenangkan Asti. Saat itulah Ari melihat benda melayang-layang di udara. Benda itu seperti gayung namun terisi oleh api.

“Ayah, itu apa?” tanya Ari.
Sang ayah yang ditanyai lalu mendongak ke atas, ia terkesiap melihat cahaya menyala itu melayang tepat di atasnya, “Astagfirullah!” ucapnya.
“Kenapa yah?” tanya Ari lagi.
“Gak apa-apa,” jawab ayah sembari memegang erat tangan Ari.
“Ibu! Ibu! Sini bu!” teriak ayah.
Ibu Ari yang dipanggil pun mendekat, sementara Asti masih saja menangis, “Ada apa, yah?” tanya ibu.
“Coba kamu lihat ke atas,” kata ayah.
Ibu pun mendongak, “Astagfirullah!” ucapnya yang sama terkejutnya dengan ayah.
“Ayo yah, kita pulang saja,” ucap ibu.
“Memang itu apa sih?” tanya Ari.
“Bintang!” jawab ibu dan ayah Ari nyaris bersamaan.

Sesampainya di rumah, Ari langsung masuk ke kamarnya. Sementara ayah dan ibu Ari secara bersama-sama menaburkan garam di sekitaran rumah. Setelehnya mereka mengunci pintu dan menutup semua jendela lalu duduk di ruang tamu.

“Astagfirullah, yah. Ibu gak nyangka di jaman seperti sekarang ini masih ada makhluk seperti itu,” ucap ibu.
“Ayah juga gak nyangka, bu. Hantu itu muncul tepat di atas kita,” kata ayah.

Sementara tungkai Ari mulai gementar mengetahui kenyataan bahwa apa yang beberapa saat yang lalu dilihatnya bukanlah bintang seperti yang dikatakan ayah ibunya, melainkan hantu.
Ari memang sudah curiga sejak awal, bintang tidak akan seterang dan sedekat itu kepada manusia. Malam itu, ia tak dapat tidur karena memikirkan hantu itu.

Selesai

❓ Siwur : Gayung
❓ Suwo : Uwak : Kakak dari ayah atau ibu

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

3 tanggapan untuk “#8 Daru Siwur

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s