Diposkan pada Cerpen

#10 Perjalanan Dua Alam

#10 Perjalanan Dua Alam

Di sebuah desa terdapat sebuah bukit bernama Kali Banteng yang di bukit itu ada sebuah makam tempat para sesepuh desa bersemayam. Bukit itu jarang dilewati orang-orang lantaran jalanannya yang masih berbatu dan terkenal akan aura magisnya. Konon, makhluk-makhluk tak kasat mata sering menampakan diri terlebih tatkala malam menjelang.

Sore itu gadis bernama Yanti itu terpaksa melewati bukit itu lantaran gelap sudah mulai turun, sedang perjalanan melewati jalan raya membutuhkan waktu sekitar setengah jam, berbeda bilamana memilih jalan di bukit Kali Banteng yang bisa ditempuhnya dalam waktu yang lebih singkat.
Yanti mengunjungi keluarganya yang ada di seberang desa. Dalam kunjungannya itu memang acap kali ia sampai lupa waktu, akan tetapi hari itu adalah hari terparahnya. Di mana ia melupa pada segala sesuatunya dan hanya bersama dengan keluarga juga teman-teman masa kecilnya.

Jantung Yanti berdebar-debar melewati jalanan di bukit Kali Banteng yang sepi tanpa lalu lalang orang-orang. Keriut bambu di sepanjang jalan membuat suasana di ambang senja kian mencekam.
Sampai suatu ketika Yanti merasakan kepalanya teramat sakit dan rasanya tak dapat lagi ‘kan tertahankan. Maka dari itu ia memutuskan untuk berhenti sejenak di seberang jalan, ia memegangi kepalanya yang ketika ia berhenti sudah tak lagi terasa.

“Aneh, perasaan tadi sakit banget,” gumam Yanti.

Yanti pun melanjutkan perjalanan pulangnya, namun tak sadar bila ia berhenti tepat di gerbang menuju pekuburan. Tempat yang paling angker di bukit Kali Banteng.

Sesampainya di rumah…

Yanti kembali merasakan kepalanya berdenyut-denyut, ia pun tiduran di sofa bahkan terlupa akan makanan yang telah disiapkan oleh ibunya. Khawatir akan keadaan Yanti, akhirnya ia mencoba membangunkan anak gadisnya itu akan tetapi Yanti tak kunjung bangun. Malah badannya kaku dan ada suara eraman dan cecikikan setelah selesai sang ibu mencoba membangunkan Yanti.
Karena panik, sang ibu akhirnya berteriak hingga orang-orang yang pulang dari masjid berbelok ke rumahnya untuk melihat keadaannya. Salah satu dari orang-orang itu adalah Khusnul, seorang ustazah yang baru beberapi menginjakan kaki di desa terpencil ini.

“Tolong anak saya, saya mohon,” ucap ibunya Yanti dengan kepanikan yang terus saja berlanjut.
“Saya minta air putih,” perintah Khusnul.

Tak lama, ibunya Yanti kemudian mengambilkan air putih itu lalu memberikannya kepada Khusnul yang sedang mencoba berkomunikasi dengan Yanti yang meraung-raung serta menangis.

“Mbak Yanti, apakah mbak bisa mendengar saya?” tanya Khusnul.

Hanya tangisan Yanti yang terdengarkan, tidak ada jawaban iya atau tidak atau kekata yang menjelaskan bagaimana yang tengah dan apa yang dirasakan Yanti. Sampai suatu ketika Khusnul lalu secara perlahan meminumkan air putih itu ke mulut Yanti, akan tetapi Yanti menolak dan memuntahkannya entah apa sebabnya. Setelahnya tangan Yanti mengepal, sementara ia masih saja menangis namun kali ini ia mampu berteriak meneriakkan kata seperti “Aku ingin pulang,” dan “Tolong aku.” yang diucapkannya berulang-ulang seolah sudah tak tahan berjalan di alam yang berbeda.

“Mbak Yanti, mbak harus melawannya, jangan mau kalah darinya.”
“Dan mbak harus memberitahukan kepada saya, kepada ibu mbak yang tengah menangis melihat mbak seperti ini. Jadi tolong, katakan di mana mbak berada,” ucap Khusnul.

Yanti menujuk ke arah bukit Kali Banteng sementara setelahnya Khusnul lalu pamit pergi untuk memanggil tetua desa dan juga kiai, dan bersama mereka ia akhirnya membawa Yanti ke tempat di mana Yanti bisa kesurupan seperti sekarang ini menggunakan sebuah mobil.
Di gerbang menuju pekuburan, Khusnyul dan seorang kiai itu nampak tengah bercakap-cakap dengan seorang namun entah siapa. Sesaat setelah Khusnul dan kiai kembali, Yanti membuka matanya meski setelahnya kembali terpejam karena kelelahan. Namun semua berbahagia menyadari Yanti sudah dalam keadaan semula yang baik-baik saja.

Sejak hari itu Khusnul, kiai dan tetua desa melarang siapapun melewati jalan di sekitar bukit Kali Banteng dan jalan itu pun sepi dan terbengkalai.

Selesai

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s