Diposkan pada Cerpen

#9 Peri Penjaga

Sedorenan adalah sebuah kawasan perbukitan di mana ada mata air yang mengaliri desa Maguwo. Konon, mata air itu dijaga oleh sesosok peri yang selalu meminta sesuatu bilamana warga desa menginginkan air dari sendang di tempat itu terus mengalir.
Maka dari itu sebuah perkumpulan bocah petualang yang diketuai oleh Irfan, yang juga warga asli desa Maguwo berniat menyelidikinya. Pagi itu mereka berangkat sebelum orang-orang desa pergi untuk menjalankan aktifitasnya berkebun.

“Baiklah kawan-kawan, mari kita mulai misi kita hari ini!” ucap Irfan penuh semangat.
“Apa kalian yakin akan melakukan ini?” tanya Ari, anggota bocah petualang yang penakut.
“Iya, tenang saja.” kata Irfan meyakinkan.

Akhirnya pagi itu Irfan, Irul, Wahyu dan Ari berangkat menuju sedorenan di pagi sebelum mentari menyinari bumi dengan hangat pendarnya.
Langkah mereka terhenti ketika telah sampai di kawasan Sedorenan lantaran melihat seseorang tengah berbicara di dekat sendang. Itulah pak Adim, kepala desa yang menyayangi penduduk desanya melebihi dirinya sendiri.
Pak Adim tengah berbicara entah dengan siapa, yang pasti sejak Irfan dkk menginjakan kaki di Sedorenan, pembicaraannya belum berhenti. Sementara itu Ifran dkk bersembunyi di balim semak-semak di dekat sendang.

“Ini persyaratan yang anda minta,” ucap pak Adim seraya menyodorkan bibit tanaman pohon beringin.
Irfan yang penasaran akhirnya mendekati sendang itu, “Kau mau ke mana, ketua?” tanya Irul.
“Aku akan melihat lebih dekat, kalian tunggulah saja di sini,” gumam Irfan.

Setelah berpamitan, Irfan pun berjalan mendekati sendang itu. Namun kemudian ia terkesiap mendapati pak Adim sudah tidak ada lagi di sendang itu.

“Ke mana pak Adim?” tanya Irfan penasaran.
“Sedang apa kami di sini?” tanya pak Adim seraya menepuk pundak Irfan.
Irfan terkesiap, ia terlonjak dari tempatnya berdiri, “Bagaimana bisa pak Adim sudah ada di sini?” tanya Irfan.
“Itu tidak penting. Yang penting sekarang untuk apa kamu di sini?” tanya Pak Adim lagi.
“Itu, sebenarnya,”
“Lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum peri penjaga itu marah dan membuat bencana di desa kita!” hardik pak Adim.
“Tapi, pak. Saya…”
“Pergi!!!” teriak pak Adim seraya menunjuk ke jalan menuju desa.
“Teman-teman, lari!!!” teriak Irfan.

Ari, Irul dan Wahyu pun keluar dari tempat persembunyian dan berlari menyusul Irfan yang telah terbirit-birit meninggalkan mereka di depan.

“Tunggu!” teriak Ari yang dengan badan gempalnya membuat ia paling lambat dalam berlari.
Sementara itu pak Adim kembali ke sendang dengan air muka terisi kekesalan, “Dasar anak-anak itu, mereka tak tahu apa yang mereka lakukan.” ucap pak Adim.
“Penduduk desa sangat cepat dalam menyebarkan berita, sekarang bahkan telah sampai di telinga anak kecil. Dasar!” ucapnya lagi.

Tepat ketika pak Adim selesai menceracau, sesosok cahaya muncuk dari dasar kolam. Setelahnya cahaya putih menyala itu berubah menjadi sesosok perempuan cantik dengan sayap yang indah hanya saja amat kecil.

“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, peri,” ucap pak Adim sembari menyembah.
“Memangnya aku pernah marah?” tanya sang peri.
“Tidak, peri. Mohon maaf, saya hanya menakuti anak-anak nakal itu.” jawab pak Adim.
“Kamu seharusnya tak berkata begitu, sekarang mereka pasti menganggapku seorang monster yang menakutkan. Sebagai hukumannya, aku meminta satu lagi pohon beringin kau tanamkan di dekat rumahku ini.” ucap sang peri.
“Tapi…”
“Kenapa? Kamu tak bisa mengabulkan permintaanku?” tanya peri.
“Bisa, peri. Saya akan segera mencarikan pohon tersebut untuk anda.” tutur pak Adim sebelum pergi meninggalkan sendang itu.

Pak Adim pergi meninggalkan sendang dengan perasaan jengkel, ia kesal lantaran bibit pohon beringin itu sangat susah dicari lantaran langka. Pohon yang tadi pagi ia persembahkan kepada peri saja ia dapat di kuar kota, sekarang ia harus menjelajahi lagi kota-kota untuk mencari pohon beringin itu.

“Sialan! Ini gara-gara anak-anak nakal itu, aku akan memberikan mereka hukuman.” maki pak Adim.

Malam hari ketika Irfan pulang mengaji, ia mendapati pak Adim tengah duduk di teras rumahnya maka dari itu ia tak langsung masuk. Pak Adim duduk bersama ayah dan ibunda Irfan, entah apa yang membicarakan. Intusisi Irfan menuntunnya untuk mengorek informasi sedalam-dalamnya dengan menguping.

“Apa yang mereka bicarakan?” tanya Irfan pada dirinya sendiri.

Irfan memilih pohon jambu sebagai tempat pengupingannya kali ini, sementara itu pak Adim mulai menjelaskan maksud kedatangannya ke rumah Irfan.

“Jadi, kedatangan saya kemari adalah memberitahukan kepada kalian berdua tentang kelancangan Irfan.” tutur pak Adim.
“Kelancangan? Maksud bapak?” tanya ibunda Irfan.
“Irfan dan teman-temannya telah sembrono mengintip saya yang tengah berbicara dengan peri penjaga Sedorenan, bu.” jelas pak Adim.
“Lalu?” tanya ayah Irfan.
“Saya minta agar Irfan dihukum, setidaknya sampai saya selesai melakukan pertemuan saya dengan peri penjaga itu.” jawab pak Adim.
“Baiklah,” kata ayah Irfan.
Ibunda Irfan menoleh, Irfan sendiri terkejut akan keputusan ayahnya itu. “Tapi, yah…”
“Kami akan menghukum Irfan.” kata ayah Irfan.
“Kalau begitu, saya permisi,” ucap pak Adim.

Ayah Irfan mengindahkannya dengan senyuman yang juga sebentuk salam perpisahan.

“Apa ayah akan benar-benar menghukum Irfan?” tanya ibunda.
“Ya, nggaklah bu. Pak Adim itu orangnya keras kepala dan gak mau ngalah, jadi bapak terpaksa bohong sama dia.” jawab ayah.
“Dia itu sudah tersesat, bu. Kita gak akan bisa menang dari orang keras kepala dan tersesat sepertinya, maka dari itu kita harus mengalah,” kata ayah Irfan.
“Assalamualaikum?” ucap Irfan.
“Waalaikumsalam,” jawab ayah dan ibu Irfan hampir bersamaan.
“Irfan cuma penasaran aja kok sebenarnya sama sendang itu, kata orang-orang sendang itu ada perinya, jadi Irfan pergi ke sana.” jelas Irfan.
“Jadi kamu dengar percakapan ayah dengan pak Adim?” tanya ayah.
Irfan mengangguk, “Maafkan ayah,” ucap sang ayah seraya memeluk anak semata wayangnya itu.
“Ayah percaya kamu gak berniat buruk dengan tempat itu,” kata ayah.

Ke esokan harinya, Irfan dan teman-teman seperjuangannya tak dapat bermain lantaran dikurung di dalam rumah oleh kedua orang tua mereka masing-masing.

“Maafkan ayah Irfan, ini semua karena kemauan pak Adim itu harus diikuti. Tapi sebentar lagi semuanya akan selesai, pak Adim akan dicopot dari jabatannya karena dianggap musrik dan kita tidak perlu lagi menuruti keinginan-keinginannya.” ucap ayah Irfan.

Irfan mengindahkan permintaan maaf ayahnya dengan seutas senyum teranum, dan meski sekarang perkumpulan bocah petualang mendapatkan hukuman, mereka tetap senang, terlebih lagi Irfan. Karena hukuman ini membuat ayah ibunya cuti dari pekerjaan dan menghabiskan waktu seharian bersama dengannya.
Sementara itu pak Adim belum juga menemukan pohon beringin yang diminta sang peri meski telah ia jelajahi banyak kota.
Sedangkan sang peri tengah menyiapkan lagi hukuman untuk pak Adim yang menghukum Irfan dan teman-temannya yang dihukum. Sang peri melakukannya karena pak Adim lebih percaya kepada dirinya dibandingkan Tuhan.

Selesai

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s