Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 16

“Sepertinya ada yang aneh dengan anak itu,” gumam nenek sembari memegang gagang pintu.
“Tapi apa ya?” tanya nenek.
“Ah, mungkin hanya perasaanku saja.” kata nenek lagi.
“Nenek ngomong sama siapa?” tanya Bagus.
“Ah, nggak. Itu tadi nenek ketemu sama Wati di depan,” jawab nenek.
“Oh iya, Gus. Besok kamu sudah boleh pulang lho…” kata nenek.
Seutas senyuman pun terbit di wajah Bagus, “Yang bener nek?” tanya Bagus.
“Iya,” jawab nenek seraya mengangguk.
“Akhirnya Bagus akan terbebas dari ruangan penyiksaan ini,” kata Bagus.
“Hush, gak boleh ngomong gitu ah,” kata nenek mengibaskan satu tangannya.

✳✳✳

Ada yang berbeda dengan malam minggu kali ini, karena jika biasanya Bagus dan Wati akan bercengkerama hingga terlupa akan masa, sedari tadi mereka malah hanya berdiam saja.

“Kamu benar,” ucap Bagus akhirnya.
“Maksud kamu?” tanya Wati seraya menoleh.
“Tentang kakek, tentang komik, dan tentang mimpi kakek, semua memanglah untuk kebaikan saya.” jawab Bagus.
“Gue senang akhirnya loe bisa mengerti itu,” kata Wati, hatinya bagai tertusuk sejuta duri mengatakan itu.

Beberapa bulan kemudan…

“Akhirnya semua ini akan kita mulai,” kata Wati dengan wajah sumringah.
“Saya senang bisa sama-sama sama kamu terus,” kata Bagus seraya tersenyum.
Wati menoleh, “Meski kita satu akademi, tapi sebentar lagi kita akan terpisah, Bagus… Kita tidak akan bisa bersama-sama seperti hari kemarin lagi.” kata Wati, terdapat penekanan pada kata ‘Bagus’.
Bagus tersenyum, “Tak apa, asal kamu masih setia dan… Cinta pastinya.” kata Bagus.
“Gue pasti setia kok,” kata Wati.
“Ayo kita masuk!” ajak Bagus.

Bagus dan Wati pun melangkah melewati gerbang yang penuh bunga juga spanduk ucapan selamat datang kepada siswa baru di akademi. Jantung Wati berdebar, akhirnya ia benar-benar menjelangi mimpi.

✳✳✳

Waktu berlalu dengan begitu cepat, tak terasa ribuan hari yang mereka jelangi kini telah usai. Tibalah upacara kelulusan yang sekaligus menjadi upacara pelantikan bagi ke semuanya. Tak terkecuali Bagus dan Wati sendiri.
Ketika upacara telah usai, semua orang sibuk mengabadikan momen. Ketika itulah Bagus mencari kakek yang entah pergi ke mana, ia dapati kakek ada di luar ruangan bersama Wati.

“Kenapa mereka berdua di sana?” tanya Bagus seraya tersenyum dan membayangkan apa yang ia pikirkan.
Namun langkah Bagus terhenti ketika ia melihat kakek memberikan sebuah amplop cokelat kepada Wati, Bagus pun kemudian bersembunyi di balik tiang. “Terima kasih, saya gak nyangka Bagus bisa dibodohi dengan cara seperti ini,” kata kakek.

Wati tersenyum, ingin rasanya ia menampar kakek tua di depannya itu dengan uang dalam genggamannya. Sementara tangan Bagus mengepal mendengar kebenaran itu, meski begitu ia menahan amarahnya.
Sekembalinya Bagus ke dalam ruangan, ia bukanlah Bagus beberapa menit yang lalu. Bahkan untuk tersenyum saja ia tidak bisa.

Bagus berjalan mendekati Wati yang tengah bercengkerama dengan rekan-rekannya, “Saya mau ngomong sama kamu,” kata Bagus.
“Ngomong apa?” tanya Wati.
Bagus menggenggam erat tangan Wati lalu memaksanya keluar, Wati merasa ada sesuatu pada cengkeraman tangan yang amat kuat ini. “Loe kenapa sih, Gus?” tanya Wati.
“Harusnya saya yang ngomong kaya gitu,” kata Bagus tanpa menoleh kepada lawan bicaranya.
“Maksudnya?” tanya Wati lagi.
Bagus berbalik, ia kemudian memegang pundak Wati lalu menatapnya, “Kenapa kamu bohongi saya?” Bagus kembali bertanya, matanya berkaca-kaca.
“Maksud loe apa? Gue gak ngerti deh,”
“Kamu dibayar kakek buat pacaran sama saya, lalu nyuruh saya masuk ke akademi ini, supaya saa jadi polisi.” kata Bagus setengah menggeram dan kakinya menendang tempat sampah di depannya hingga melahirkan bunyi yang keras dan Wati terlonjak.
“Kamu ngomong apa sih, Gus?” tanya Wati, sekali lagi.

Bagus tak menjawab, sementara Wati memegang pundak Bagus. Namun Bagus segera mengelak, ia kemudian pergi meninggalkan Wati begitu saja.

“Ok, gue akan jujur!” teriak Wati.
Bagus menghentikan langkahnya, “Gue memang melakukan apa yang kamu lakukan,”
“Tapi gue beneran cinta sama loe, gue gak pernah pura-pura mencintai loe.”
Air mata Wati berlinangan, sementara Bagus kini berjalan mendekati Wati lalu setelahnya menyeka air mata itu. “Kamu sudah selesai, Wati. Kamu tidak perlu berdusta lagi, termasuk air mata ini, sama halnya dengan cinta kita yang usai di hari ini.” kedua mata Wati membelalak.
“Kamu bisa bebas sekarang,” tambah Bagus.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Bhayangkara : Part 16

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s