Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 17

Hari-hari terlewati dengan begitu cepatmya, Bagus dengan seragam abu itu turun ke jalanan seperti sebagaimana selayaknya tugas seorang polisi. Ia menjalankan perannya dengan begitu apik sehingga membuat kakeknya begitu bangga terhadapnya sekalipun dalam lubuk hatinya terdapat benci dan dendam yang bergandengan tangan.
Tugas Bagus akhir-akhir ini seperti ikut membantu dalan razia pengendara nakal yang tidak mematuhi peraturan seperti; berhenti di jalan yang dilarang berhenti, menerobos lampu merah, tidak melengkapi surat-surat dan beberapa hal lainnya

“Cukup untuk hari ini, terima kasih dan kalian boleh kembali ke kantor, terima kasih sekali lagi.” seorang yang lebih tua dari Bagus dan rekan-rekannya memberikan pengumuman akan berakhirnya tugas di hari ini.

Ada sambutan tepuk tangan meriah ketika seorang yang lebih tua itu mengakhiri perkataannya di depan juniornya sedang setelahnya semua bubar menuju tempat-tempat seperti warung pinggir jalan untuk mengisi perut yang cemberut atau langsung ke kantor, bergelut akan dokumen-dokumen di meja yang menanti-nanti.

“Kamu mau langsung ke kantor, Gus?” tanya Hakim, seorang polisi yang juga teman seangkatan Bagus.
Bagus menoleh, “Tidak. Saya mau sarapan dulu.” jawab Bagus.
“Bagaimana kalau kita sarapan bareng? Saya yang traktir deh…” Bagus menawarkan.
“Kalau itu sih, gak bakalan aku tolak,” kata Hakim, wajahnya bernas kegembiraan.

Langkah Hakim terhenti, mengingat ada sesuatu yang terluput dari ranselnya. Sejenak ia mengingat apa-apa saja yang terlupa, ia termangu sementara Bagus sudah ada jauh di depan sana.

“Ada apa!” teriak Bagus sembari menoleh.
“Kamu duluan saja, Gus. Ada yang ketinggalan!!!” teriak Hakim pula.

Hakim segera berlari menuju tempat razia untuk mengambil barang yang tertinggal, namun sebuah mobil yang melaju kencang mengalihkan pandangannya. Hakim lalu mengikuti ke mana mobil itu mengarah. Hakim menerka namun masih tak yakin, dalam hati ia berharap tebakannya kali ini salah. Namun memang benar mobil itu berjalan di pinggiran dan siap meluluhlantakkan apa-apa saja yang ada di depan mata. Seperti Bagus yang berjalan di jalanan yang sama.
Ia lalu kembali berlari ke arah Bagus yang masih asyik dalam perjalannya menuju warung makan pinggir jalan.

“Gus! Bagus!!! Minggir!!!” teriak Hakim seraya mengibaskan tangannya.

Tak berhasil mengingatkan Bagus, Hakim mengulang-ulang berteriak memanggil nama Bagus sampai akhirnya Bagus menoleh. Namun terlambat, mobil itu sudah terlampau dekat. Bagus menghindar sebisanya meski tetap terkena sambaran mobil yang secepat kilat. Terpentallah ia beberapa meter sampai membentur pohon di pinggiran jalan hingga kepalanya membentur batu. Sementara mobil itu melaju dengan kecepatan lebih tinggi lagi meninggalkan Bagus yang memekik kesakitan dengan segela luka yang ada.

“Astaga, Bagus!” teriak Hakim.

Ia segera berlari menuju ke tempat di mana Bagus terletak tak berdaya, dipegangnyalah kepala Bagus dengan darah mengucur lalu ia pangku di kakinya.

“Kamu gak apa-apa, Gus? Bentar aku telephone ambulance dulu,” kata Hakim.
“Kenapa dia ingin menabrak saya?” Bagus justru balik bertanya dengan menggumam.
“Gak tahu. Yang pasti tujuan dia hanya kamu. Jika dia membenci polisi, seharusnya dia tidak melewatiku. Tapi kenyataannya dia memang melewatiku, tujuannya hanya kamu seorang.” jawab Hakim sembari tangannya mencari kontak di ponselnya.
“Saya memang seharusnya tidak pernah ada di sini; seperti ini,” gumam Bagus.
“Maksud kamu?” tanya Hakim.

Mata Bagus justru memejam dan tidak sadarkan diri setelahnya, hal itu membuat Hakim semakin panik lagi.

✳✳✳

“Jadi, begitu…” kata seorang senior setelah mendengar penuturan Hakim.
“Kita harus menemukan siapa pelakunya,” kata Hakim.
“Ya, itu pasti.” senior itu menimpali.

Tepat setelah senior itu berlenggang pergi, seorang polisi bernama Aksa dan berperawakan bahkan berwajah hampir mirip seperti Bagus datang menghampiri Hakim yang sedang memandangi Bagus yang tergeletak tiada berdaya.

“Tujuan orang itu bukanlah dia,” kata Aksa.
Hakim menoleh, “Melainkan aku.” kata Aksa lagi.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s