Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 18

“Maksud kamu apa?” tanya Hakim.
Aksa berjalan menuju bangku di depan kamar tempat di mana Bagus dirawat, “Dari dahulu, ibu tiriku tidak suka terhadapku. Dia berkali-kali ingin membunuhku meski berkali-kali pula ia gagal. Ia melakukan semua itu karena ingin menguasai harta milik ayah yang akan diberikan kepadaku nantinya.” jawab Aksa.
“Itulah kenapa kamu jadi polisi?” tanya Hakim lagi.
Aksa mengangguk, “Agar aku bisa melindungi orang lain dan diri sendiri. Ya, setidaknya, jika nanti aku benar-benar bisa mati, hidupku sedikit bermanfaat.” kata Aksa, sigap tangannya menyeka air mata yang hampir mengalir.
“Aku gak nyangka kalau teman-temanku tak pernah benar-benar ingin menjadi seperti sekarang ini.” kata Hakim seraya geleng-geleng kepala.

Sementara Aksa menyelam dalam kenangan masa lalu yang suram, Hakim mulai berpikir bagaimana untuk menangkap pelaku penabrakan terhadap Bagus.

“Kalau kamu sudah tahu pelakunya adalah ibu tiri kamu, kanapa kamu tidak menangkapnya?” tanya Hakim lagi.
Aksa tersenyum, “Tidak semudah itu. Dia orang yang pintar yang jarang sekali melakukan kesalahan seperti meninggalkan bukti sekecil apapun itu, terlebih aku…”
“Kamu sayang ibumu?” tanya Hakim.
Aksa mengangguk, “Aku mengakui itu, tapi hukum harus tetap ditegakkan.” kata Aksa.
“Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu kamu?” pertanyaan itu terlontar dari seorang yang tak asing lagi.

Bagus ada di depan pintu, tangan kanannya memegangi kepala yang penuh perban sedang tangan kirinya memegangi infus yang menusuk nadinya.

Sontak, Hakim dan Aksa bangkit berdiri dan mendekati Bagus. “Kamu gak apa-apa, Gus?” tanya Hakim.
Bagus tersenyum, “Ini urusanku, kamu tidak perlu ikut campur.” kata Aksa.
“Maaf,” guman Aksa.
Aksa kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan Bagus serta Hakim, “Ini urusan kita.” kata Bagus.
Aksa menghentikan langkahnya, sementara Bagus dengan kepayahan berjalan mendekatinya. “Ayahku mati ditusuk seseorang tak dikenal ketika hendak mengantarku pergi ke sekolah, aku berpikir jika aku menjadi polisi pula aku akan mati dengan cara seperti itu bahkan lebih parah lagi.” kata Bagus.
“Lagipula, kamu punya tujuan. Sementara aku, sejak ayahku meninggal, aku tidak punya tujuan hidup sama sekali.” kata Bagus lagi.
Aksa menoleh, “Tapi…”
“Aku akan lakukan apapun.” tukas Bagus.

Beberapa setelah Bagus pulih dari semua luka yang mendera…

Bagus berjalan di tengah guyuran hujan, memegangi payung hitam berjalan di jalanan lengang di dekat rumah Aksa. Ia pun memakai kemeja kotak-kotak seperti yang selalu dikenakan Aksa agar menyempurnakan kepura-puraannya menjadi Aksa.
Sesaat kemudian sebuah mobil nampak mendekati Bagus dan beberapa orang keluar lalu menangkap Bagus dan memasukannya ke dalam mobil. Sementara itu, Aska, Hakim dan beberapa polisi lainnya mengikuti mobil itu dari belakang.
Berhentilah mobil itu di sebuah gedung yang terbengkalai, dibawalah Bagus masuk ke dalam lalu dikaitkanlah tangan dan kaki dengan sebuah tali yang menyekat pergerakannya. Bahkan kepalanya ditutup dengan kain hitam.

“Lepaskan!!!” teriak Bagus.
Seorang lelaki bertubuh besar mengambil sebuah balok lalu melayangkannya ke arah kepala Bagus yang tertutup, “Diam kamu!” teriaknya.

Bagus tak bergerak dan bersuara lagi setelahnya, sementara dari sebalik kegelapan muncullah seorang perempuan yang berjalan mendekati Bagus.

“Seharusnya kamu mati bersama ibu kamu saat kecelakaan mobil yang aku buat, namun kamu malah terus hidup bahkan ketika aku berkali-kali mencoba membunuhmu. Yah, seperti inilah akhir hidupmu, Aksa anakku.” kata perempuan itu.
Setelahnya ia mengelurkan sebilah pisau, “Aku akan menghabisimu sekarang,” katanya lagi.

Ia lalu membuka penutup kepala Bagus, dan ia terkesiap bukan main melihat orang di hadapannya bukanlah orang yang ia maksudkan. Bagus tersenyum melihat reaksi perempuan di hadapannya, sekalipun dunia berputar-putar yang disebabkan hal-hal seperti sakit di kepala karena darah terus mengucur sedari tadi berkat pukulan balok kayu dari seorang lelaki bertubuh besar itu.

“Angkat tangan kalian!!!” teriak Hakim dari arah belakang sembari menodongkan pistol bersama rekan-rekannya.
“Polisi?” tanya perempuan yang masih memegangi pisau itu.
“Aku gak nyangka benar-benar ibu yang melakukan semua ini,” kata Aksa dari arah yang berbeda sembari memegangi alat perekam.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s