Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 19

“Tidak, Aksa. Kamu salah paham, ibu bisa jelaskan semua ini. Kamu…”
“Padahal aku menyayangi ibu.” tukas Aksa.
Air mata mengalir dari mata ibu tiri itu tanpa izin, kali ini tiada dusta di antara haru biru itu. “Nyonya Andini, dengan ini anda saya tangkap.” kata Aksa.

Sementara itu,

Wati tetap bersikeras menunggu meski seharusnya ia sudah terbebas dari tugasnya di hari ini dan diperbolehkan pulang seperti teman-temannya yang lain.

Hingga pada akhirnya orang yang ditungguinya pun datang, Bagus datang dengan dipapah oleh Aksa dan Hakim yang berhenti di hadapan Wati.

“Aku akan naik ke lantai atas lebih dulu,” kata Hakim.
Wati menoleh ke arah Aksa, “Ehm, aku pun akan ke atas.” kata Aksa yang berlari menyusul Hakim.
Wati berjalan mendekati Bagus, ia lalu melihat pada baju Bagus yang ternoda oleh darah. “Kanapa melakukan misi yang berbahaya seperti ini?” tanya Wati.
Bagus menyeringai, “Apa kakek juga menyuruh kamu untuk bertanya seperti itu tiap kali saya melakukan misi?” Bagus justru balik bertanya.
Bagus mendapatkan tamparan keras atas pertanyaan yang baru saja dilontarkannya, “Jaga ucapan loe. Berapa kali gue harus bilang bahwa cinta gue ke loe itu nyata adanya!!!” teriak Wati.

Ada luka yang terungkit di hati Bagus, kini luka itu bertambah karena ia melukai seorang yang sesungguhnya masih disayanginya sekalipun pernah terucapkan kekata perpisahan.

“Sudahlah, sekalipun gue ngomong kaya gini loe gak bakalan pernah percaya.” kata Wati.

Wati mendorong Bagus sampai terjatuh sebelum akhirnya meninggalkan ia sendirian di ruang lengang. Sesaat kemudian Aksa dan Hakim datang dan membantu Bagus berdiri.

“Sepertinya dia benar-benar menyayangi kamu, Gu.,” ucap Hakim.
“Paling juga disuruh kakekku.” kata Bagus.
Aksa menggeleng, “Tidak. Dia memang benar-benar menyayangimu, aku bisa melihat dari sorot matanya begitu melihat kamu datang ke tempat ini. Ia merasakan kesakitan yang kamu rasakan, di saat yang sama ia menjadi manusia paling bahagia mengetahui kamu masih utuh.” terang Aksa.
“Dia itu pemeran yang bagus memang.” Bagus kembali menampik.
“Aku tidak tahu seperti apa yang terjadi di masa lalu kamu, tapi melihat kamu bersama dengannya masa depanmu pasti bersinar terang.” Aksa memulai lagi ke-sok puitisannya itu.

Bagus kembali berjalan masih dipapah oleh Aksa dan Hakim menuju ruang kesehatan untuk mengobati luka Bagus yang sedari tadi teralihkan.

Di tempat berbeda,

From Kakek :

Kakek dengar, kamu melakukan misi yang berbahaya. Apa kamu baik-baik saja?

From Bagus :

Saya hampir kehilangan nyawa saya

From Kakek :

Semua itu terjadi karena kamu mengambil pekerjaan yang bukan bagian kamu. Pokoknya kakek gak mau kamu melakukan misi seperti itu lagi

From Bagus :

Saya kira itu adalah hal yang kakek inginkan, seperti yang terjadi pada ayah dulu

From Kakek :

Jaga ucapan kamu!

Sejurus kemudian sebuah panggilan masuk di ponsel Bagus, buru-buru Bagus mematikan ponselnya agar terbebas dari ceracauan kakeknya.

“Kenapa gak dijawab?” tanya Hakim yang tengah mengobati luka Bagus.
“Iya, malah dimatikan?” Aksa menimpali.
“Gak penting.” tukas Bagus.

Nenek datang ke ruangan tempat kakek dirawat dengan membawa beberapa makanan yang di pesan kakek sebelumnya. Air mukanya terisi kesedihan melihat suaminya mengusap air mata yang berlinangan.

Segera ia meletakkan makanan itu di meja, “Kamu kenapa?” tanya nenek.
“Dia gak menjawab telephoneku barusan, di sangat membenciku, ya?” tanya kakek.
Nenek memegang kedua tangan kakek, “Tidak. Sekalipun ia terlihat membencimu, ia tak pernah benar-benar membencimu.” jawab nenek.
“Sekarang makanlah!” ucap nenek.

Nenek mengambil makanan yang dipesan kakek lalu menyuapinya. Di tengah-tengah nenek menyuapi kakek, nenek menyempatkan waktu menanyakan pertanyaan yang mengganggu benaknya.

“Apa tidak sebaiknya Bagus diberitahu tentang kondisimu saat ini?” tanya nenek.
Kakek menggeleng, “Tidak usah. Itu hanya akan membuatnya kehilangan saat-saat dalam tugasnya.” jawab kakek.
“Katanya kamu mau lihat dia pakai seragam?” tanya Nenek lagi.
“Aku sudah melihatnya di foto, itu sudah cukup. Sama seperti Andre, dia juga tampan sekali memakai seragam polisi.” jawab kakek.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s