Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 20

Semakin hari kondisi kakek semakin memburuk, nenek ingin sekali memberitahu tentang kondisi suaminya kepada Bagus bilamana diizinkan. Namun kakek tak pernah mau mengizinkannya, terlebih di dalam benaknya terbayang bayangan seperti apabila kenyataan lebih menyakitkan serupa Bagus yang tidak mempedulikan dirinya.

Sementara Bagus yang memecahkan kasus sebelumnya yakni tentang percobaan pembunuhan terhadap Aksa, diminta lagi untuk menangani kasus serupa. Ditemani Aksa dan Hakim, ia menyelidiki kasus yang semakin hari kian pelik.

“Aku kira kita akan lebih sering berurusan dengan kasus semacam ini ketimbang menilang pengendara di jalanan.” ucap Aksa.
“Aku juga berpikir serupa.” Hakim menambahkan.
“Ini kesempatan untuk membuktikan siapa kita, kawan. Sekalipun…”
“Sekalipun?” tanya Aksa dan Hakim hampir berbarengan.
“Sudahlah. Lupakan.” tutur Bagus.

Di koridor kantor tatkala mereka berjalan menuju lapangan, Wati menghadang dengan berkacak pinggang. Aksa dan Hakim yang melihatnya lalu pergi lebih dahulu melewati jalan yang berbeda dengan jalan yang dilewati Bagus.

“Ada apa?” Bagus memberanikan diri bertanya.
Wati mengacungkan kepalan tangan, “Kalau loe berani maju selangkah, gue pukul!” hardik Wati.
“Kejam.” gumam Bagus.
“Apa!!!” teriak Wati.
“Kalau begitu saya akan lewat jalan belakang kantor biar gak maju.”
“Itu pun gak boleh, dasar bodoh!” Wati menggerutu.
Tetiba tatapan mata Bagus menjadi begitu serius, bahkan Wati tak sempat memukul Bagus meski ia telah berjalan beberapa langkah ke arahnya. “Jika sesuatu terjadi kepada saya, itu bukan sesuatu yang buruk. Saya sudah tidak lagi hidup sejak ayah saya meninggal.” kata Bagus.
“Permisi.” Bagus lantas melewati Wati yang terpegan.
“Tapi gue gak bisa hidup tanpa loe, Gus,” Wati memohon.

Langkah Bagus terhenti, namun ia kembali melanjutkan langkahnya dan berjalan menuju Aksa dan Hakim yang sejak sedari tadi menanti.

“Kenapa kalian gak jadian aja, sih?” tanya Hakim.
“Gak cinta.” jawab Bagus, ketus.
“Pembohong.” ucap Aksa.
“Maksud kamu apa?” Bagus langsung menoleh.
“Setiap kamu bertemu dengannya, dunia kamu berubah menjadi indah. Awan hitam yang bergelayut memaut itu turut hanyut dalam aliran yang mengantarkan pada cinta.” jawab Aksa.
“Saya bener-bener gak paham.” kata Bagus.
“Sudah sudah, lebih baik kita berangkat saja.” Hakim yang melihat perdebatan keduanya mencoba mengalihkan.

Sementara itu…

Wibowo yang berjanji bertemu dengan Bagus dengan setia menunggu di depan kos-kosan. Intuisinya mengatakan ada yang tak beres dengan hubungan anaknya dan Bagus, maka ia bersikeras datang ke tempat itu meski harus lama menunggu.

Wibowo melihat pada pintu yang sedikit terbuka, “Anak ini ceroboh sekali, ia terlupa mengunci pintu.” gumam Wibowo sembari geleng-geleng.

Ketika Wibowo hendak menutup pintu, ia melihat sesuatu yang mencuri perhatiannya. Sebuah frame foto, maka ia pun masuk.
Ia mengambil frame itu dari tempat persingahannya, foto itu menampilkan gambar seorang polisi yang sedang tersenyum bersama seorang anak yang memakai seragam merah putih.
Entah kenapa Wibowo merasa tak asing dengan foto polisi dan anak itu, dalam benaknya berkejaran memori menuju ke belasan tahun yang telah berlalu.

“Itu foto saya sama ayah saya.” celetuk Bagus dari arah belakang.
Wibowo yang terkesiap sontak menoleh, “A-ayah kamu di mana sekarang?” tanyanya terbata.
Seketika air muka Bagus berubah, “Ayah saya sudah meninggal.” jawabnya.
“Kenapa?” tanya Wibowo lagi.
Bagus mendongak, “Ayah saya dibunuh oleh seseorang. Ayah saya ditusuk hingga kehabisan darah dan tewas.” kali ini mata Bagus berkaca-kaca.
Wibowo menjatuhkan frame yang digenggamnya, sejurus kemudian ia terkaget sendiri. “Bapak tidak apa-apa?” tanya Bagus segera.
Wibowo menggelengkan kepala beberapa kali, “Maaf.” katanya, ia lantas pergi(berlari) meninggalkan Bagus yang keheranan.

Bagus membereskan frame yang berserakan, setelah itu ia memasang foto yang usang itu di sebuah frame yang baru. Sedang Wibowo merasa ia telah dekat dengan akhir, entah itu akhirnya ia akan mendekam di penjara atau tempat yang lebih parah pagi. Ia tahu waktu itu akan segera tiba.

“Padahal dia sendiri yang bilang akan mengatakan sesuatu, kenapa malah pergi sebelum mengatakan hal itu.” gumam Bagus yang masih saja keheranan.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s