Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 22

Dilepaskannya kemeja putih yang melekat di badannya, Bagus lantas memeluk erat wanita cantik itu. Sesaat kemudian Bagus meraih tangan wanita itu lantas memborgol tangannya.

Dahi wanita itu berkerut, “Jadi, kamu beneran polisi?” tanya wanita itu seraya mendongak.
Bagus tersenyum, “Maaf, Maria sayang.” ucapnya seraya menyentuh rambut Maria yang lurus dan lembut.
Maria terkekeh, “Bodoh. Padahal aku yakin kamu bukanlah polisi. Kamu gak terlihat sama sekali seperti seorang polisi. Bahkan ketika kita membicarakan hal itu, air muka kamu langsung berubah dan terisi kekesalan.” kata Maria.
Bagus takjub, “Maria si pelacur VIP, seorang yang cantik dan… seorang pembunuh berantai.” komentar Bagus.
Kali ini gantian Maria yang takjub, “Bahkan kamu tahu aku pembunuh berantai? Kamu memang bukan orang sembarangan, ada banyak rahasia di balik wajah tampan kamu itu.” tanya Maria.

Bagus memandang berkeliling, pandangannya berhenti di luar jendela. Di sana ada meja lengkap dengan dua kursi yang saling berhadapan.

Bagus menuntun Maria menuju ke sana, “Masih ada banyak waktu tersisa sebelum teman-temanku datang menjemput kamu, saya ingin benar-benar kencan dengan kamu.” kata Bagus seraya mendudukan Maria di kursi.
Maria kembali terkekeh, “Terserah kamu, dasar polisi sialan!” katanya.
Bagus tersenyum, “Kenapa kamu membunuh?” tanya Bagus meski sudah tahu jawabannya, ia hanya ingin memastikan.
“Kamu pasti sudah tahu.” jawab Maria singkat sembari menyeringai.
Bagus bangkit dan meninggalkan Maria, sesaat kemudian ia kembali membawa kue kecil beserta lilin. “Maaf, ini semua mendadak. Jika benar ini alasan kamu, maka ijinkan aku mengucapkan selamat ulang tahun kepada kamu.” kata Bagus sembari meletakkan kue itu di depan Maria.
Maria berkaca-kaca, “Selamat ulang tahun!” seru Bagus.
Dan air mata itu tumpah, “Aku bersumpah akan bertaubat. Dan jika aku tidak dihukum mati, aku bersumpah lagi akan menikahi kamu.” kata Maria jujur.
Bagus tersenyum, “Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kamu dan saya akan menunggu kamu.” ucap Bagus.

Maria menutup mata, ia kemudian membuka mata lantas meniup lilin di atas kue itu.

✳✳✳

Ragu, Wati membuka pintu kos Bagus yang sedikit terbuka. Ia masih memakai baju polisi lengkap dengan sebuah pistol yang ia sembunyikan.
Bagus datang tepat ketika Wati memasuki kos Bagus, ia sedikit terheran melihat Wati masuk dengan cara seperti itu. Sesaat kemudian terdengarlah suara teriakan, Bagus berlari menuju kosannya dan tepat ketika ia sampai di depan pintu, seorang yang memakai hoodie keluar dari sana dan bertabrakan dengan Bagus. Orang itu segera berlari sementara Bagus merintih kesakitan karena lengannya berdarah.

Dalam berlari, Bagus berusaha mencari kontak di ponselnya. Siapapun itu, ia sungguh ingin bicara dengannya.
Terdengar suara seorang menyapa, Bagus segera memberitahukan tentang Wati yang entah seperti apa keadaannya di kamar kosnya dan menyuruh orang itu untuk mengunjunginya segera.
Bagus menutup sambungan telepon itu, ia kembali berlari. Seorang yang memakai hoodie itu berhenti di sebuah tanah lapang, ia lantas membuka hoodie itu dan berbalik.

Bagus terkesiap, “Bapak,” ucapnya, “kenapa?” tanyanya ragu.
Wibowo menyeringai, “Kamu pasti ingat ayah kamu dibunuh oleh seseorang. Kamu tahu, orang itu adalah aku.” katanya.
Bagus semakin terkesiap, sementara tanggannya mengepal yang sesaat di lepaskannya. “Bapak, kita bisa bicarakan ini baik-baik.” kata Bagus pelan.
“Tidak Bagus, ini adalah akhirnya. Aku atau kamu, salah satu dari kita harus mati.” kata Wibowo penuh penekanan.

Wibowo berlari sembari menyodorkan pisau digenggamannya yang ternoda darah, dan dengan membabi buta ia menyerang Bagus. Bagus hanya mengelak tanpa berusaha melawan, meski dendam dalam hatinya terungkitkan.

“Kamu pasti mati kalau cuma menghindar seperti itu.” kata Wibowo.

Sebuah kenangan pahit melesat melewati benak Bagus, entah kenapa ia merasa butuh untuk menghilangkannya. Bagus melayangkan pukulan dan pukulan itu tepat mengenai wajah Wibowo. Terpentallah Wibowo hingga terjatuh dan terguling, ia bangkit seraya menyeka darah di bibirnya yang mengalir.

Sementara itu, Wati menangis di ruang persegi itu. Ia tak pernah menyangka ayahnya adalah seorang pembunuh. Bahkan, kali ini ayahnya itu berusaha membunuh dirinya.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s