Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 23

Wati tengah duduk di depan rumah sembari mendengarkan lagu di ponselnya, namun sesaat kemudian ia dibuat terheran dengan sebuah percakapan telepon yang tiba-tiba terputar setelah lagu Marigold.

“Apa ini?” tanya Wati.

Wati mendengarkan dengan seksama, ia pun menambah volumenya. Terdengar suara ayahnya yang tengah berbicara dengan seorang perempuan.

Air mata Wati semakin mangalir deras mengingat hal itu. Dan dibanding luka tusukan yang saat ini ia pegangi, luka di hatinya lebih menyakitkan lagi.

Kedua orang itu telah sama-sama kehabisan tenaga dan babak belur, namun keduanya tetap ingin saling menghabisi.
Bagus mendapatkan luka sayatan di lengan kirinya yang menyebabkan ia terjatuh, Wibowo yang melihat kesempatan itu pun memanfaatkannya dan segera berlari menuju ke arah Bagus. Bagus yang melihatnya segera menghalangi meski jarak antara pisau dan dadanya hanya sekitar sepuluh senti saja.
Berpuluh-puluh peluh membasahi kening Bagus, tangannya masih mencoba menahan dorongan Wibowo yang semakin kuat.

“Bapak, kenapa bapak melukai Wati juga?” tanya Bagus di tengah-tengah nasib hidupnya yang di ujung tanduk.
Air muka Wibowo seketika berubah, “Aku tidak pernah bermaksud melukai Wati, aku kira dia adalah kamu.” jawab Wibowo.

Bagus berteriak sekencang-kencangnya lantaran pisau itu telah menembus bajunya dan menyentuh kulitnya, ia pun telah serasa kehabisan tenaga dan ia telah siap untuk apapun kemungkinan yang didapatkan.

“Ayah, Bagus akan segera menemui ayah.” Bagus memejamkan matanya, setetes air mata mengalir dari sana.

Terdengar suara tembakan, sesaat Bagus merasa badannya tertindih sesuatu. Bagus membuka mata, ia melihat Wibowo menindih tubuhnya.

“Pak!?” panggil Bagus.
Bagus bangkit, ia membuang pisau yang masih digenggam Wibowo. “Pak, bertahanlah.” kata Bagus.
Wibowo menggeleng beberapa kali, “Tidak. Waktuku tak banyak.” kata Wibowo.
Bagus memandang berkeliling, di sana ada banyak polisi. “Saya minta maaf sama kamu, Gus. Tolong sampaikan permintaan maaf saya pada Wati juga. Dan kamu, berjanjilah untuk membuat Wati bahagia.” kata Wibowo lagi.
Bagus mengangguk, “Wati pasti sangat membenci ayahnya.” katanya lagi sebelum matanya terpejam.

Bagus memegangi dadanya yang berdarah, sesaat kemudian ia merasakan sakitnya luka itu. Para polisi kemudian mendekati Bagus dan Wibowo. Kemudian dengan berlatar belakang bunyi sirine, Bagus menangis seraya memeluk Wibowo yang sudah tak lagi bernyawa. Ia merasakan sakit kehilangan itu lagi, sekalipun orang yang ia tangisi adalah orang yang berniat membunuhnya.

Bagus berlari di koridor rumah sakit dengan baju kotor serta bercak darah di dada berkat luka tusukan tadi, ia ingin segera mengetahui keadaan Wati.

Di sana sudah ada Hakim dan Aksa, mereka pun bangkit berdiri ketika melihat Bagus berlari ke arah mereka. “Bagaimana keadaan, Wati?” tanya Bagus.
Aksa membuang muka, “Untuk apa tanya-tanya kalau kamu gak cinta?” ia justru balik bertanya.
Bagus meraih seragam Aksa, “Gua serius!!!” hardik Bagus.
Aksa dan Hakim sama-sama terkesiap, belum pernah mereka melihat temannya yang satu itu marah sampai sebegitunya, terlebih memakai kata ‘gua’ itu sudah seperti orang asing.
“Sorry, aku gak bermaksud kok buat…”
Seorang dokter keluar dari ruangan, Bagus melepaskan cengkeramannya lantas menghampiri dokter itu. “Bagaimana keadaan Wati, dok?” tanya Bagus.
Dokter itu menggelengkan kepala beberapa kali, “Maaf.” gumamnya pelan.

Bagus membabi buta, ia menyibak teman-teman yang mengelilinginya lantas berlari ke dalam ruangan. Ia mendapati wajah serta kulit Wati pucat pasi, sementara mata Wati terpejam. Bagus menghambur, dalam pelukannya itu ia menyesalkan dirinya yang tak pernah jujur kepada orang yang dicintainya itu. Ia menyesal karena tak mengatakan perasaan hati yang sebenarnya, yang mencinta dengan begitu hebatnya sekalipun pernah disakiti dan terkhianati.

“Aku cinta kamu!!!” teriak Bagus akhirnya, di sela raungan dan tangis air mata.

Hakim dan Aksa yang mendengar dari luar hanya bisa kembali duduk sembari menunduk, mereka pun menyayangkan kepergian Wati.

Di tempat yang lain…

Kakek membeli sebuah pensil berwarna hijau di minimarket, ia lantas menghiasnya dengan pita berwarna merah lantas memberikannya kepada Nenek.

Dahi nenek mengernyit, “Untukku?” tanya Nenek.
Kakek tersenyum, “Bukan. Untuk Bagus.” jawab Kakek.
“Untuk, Bagus?” tanya Nenek yang kembali mengernyitkan dahinya saking terherannya.
Kakek duduk di kursi panjang itu, Nenek pun melakukan hal yang sama. “Aku tahu ia masih membaca komik dan menggambar sampai sekarang,” kakek menghela nafas, “dan ia tak bisa dipisahkan dengan hal itu.” kata Kakek.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s