Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 24

“Sampaikan permintaan maafku juga, aku tahu aku akan segera pergi.” kata Kakek lagi sembari menoleh.
Mata Nenek berkaca-kaca, “Kamu gak boleh ngomong kaya gitu, biar bagaimanapun kamu harus melihat Bagus saat pakai seragam.” Nenek mencoba menyemangati.
Kakek tersenyum, “Kamu harus hidup.” kata Nenek lagi.

Makam Wati berdekatan dengan makam Wibowo, pagi itu prosesi pemakaman dihadiri banyak polisi dan beberapa warga perkampungan sekitar pembuangan sampah. Nenek pun ada di sana, ia memegang tangan Bagus erat yang menangis tak berhenti.

“Kamu harus tabah, Gus.” ucap Nenek, entah sudah keberapa kali ia mengatakan kata yang sama itu.

Bayangan Wati menari-nari di depan Bagus yang tengah melamun; ia melihat Wati tersenyum, tertawa bahkan mangomeli dirinya. Kadang Bagus tersenyum, kadang pula Bagus terlihat murung.
Aksa dan Hakim sudah kehabisan cara untuk menghibur Bagus dan mengajaknya pergi ke kantor, tanpa temannya yang satu itu mereka tentu saja kewalahan menangani kasus-kasus yang menumpuk.

Aksa mendekati Bagus, “Aku mau minta maaf untuk malam itu, Gus. Aku benar-benar gak maksud apa-apa.” kata Aksa jujur.
Giliran Hakim yang mencoba berbicara, “Ini dari Wati,” Bagus langsung menoleh, “sebelum ia masuk ruang operasi, ia memberikan kertas ini padaku.” kata Hakim.

Bagus meraih kertas lusuh itu, dibukalah lipatannya dan ia menemukan sebuah nomor telepon di sana. Bagus bangkit, ia menerka nomor siapakah yang ada di kertas lusuh itu.

Intusisinya mengatakan untuk menghubungi nomor tersebut, diraihnyalah ponsel di meja lantas ia memasukkan satu-persatu nomor yang tertera. “Halo!” terdengar suara seseorang menyapa.
Bagus sangat mengenal suara itu, suara yang tak pernah asing di telinganya. “Mbak.” ia membatin.
“Apa maksudnya ini?” tanya Bagus dalam hati.

Bagus segera teringat tentang buku harian mbak yang ada di rumah lamanya, buku yang membuatnya antusias untuk menghabiskan semua isinya.
Dengan diantar oleh Aksa dan Hakim, Bagus menuju rumah lamanya itu. Ia berlari begitu telah sampai di gerbang rumah. Ia ingat, ia meletakkan buku diary itu di atas meja.

Bagus berjalan lalu berhenti di sebuah kursi yang tertutup kain putih, ia duduk di sana dan mulai membaca lembar demi lembar.

21-02-1994

“Maaf, aku mencintainya. Aku tak bisa melihatmu bersamanya.”

22-02-1994

“Kamu tenang saja di alam sana, aku akan membesarkan anakmu seperti anakku sendiri karena ia adalah anak dari orang yang sangat aku sayangi.”

16-04-1994

“Aku bersyukur ia hanya mencintaimu, karena dengan begitu ia tak pernah mencintai orang lain. Dan aku, aku bisa leluasa mencintainya sekarang.”

08-08-2002

“Aku akan mengungkapkan perasaanku.”

09-08-2002

“Ia tidak mencintaiku.”

17-11-2002

Bagus mengingat tanggal itu, itu adalah hari di mana mbak memutuskan untuk cuti selama beberapa hari namun sejak saat itu pula mbak tidak pernah kembali ke rumah.

“Aku pulang. Aku akan mengirimnya untukmu. Dan kamu, aku kecewa denganmu.”

18-11-2002

“Aku adalah malaikat kejahatan sekaligus malaikat kebaikan. Di satu keadaan aku mematikan dan menghidupkan seseorang.”

Itulah tulisan terakhir dari buku diary yang dipegang Bagus, ia mulai menemukan gambaran bagaimana gilanya asisten rumah tangganya dulu.

“Apa yang kamu temukan, Gus?” tanya Hakim.
Bagus geleng-geleng, “Gila, saya gak nyangka orang yang jatuh cinta bisa sebodoh ini. Kalian tahu, dalang di balik kematian ayah saya juga tentang pak Wibowo adalah asisten rumah tangga saya dulu. Dia sangat mencintai ayah saya, hanya saja ayah saya menolak cintanya dan ia memutuskan untuk membunuh ayah saya lewat pak Wibowo yang saat itu sedang membutuhkan banyak uang.” jelas Bagus.
Aksa menepuk pundak Bagus, “Kamu yang sabar, Gus.” katanya.
“Kita harus segera menangkap wanita jahat ini, ia sudah terlalu lama bersembunyi dan hidup tenang.” kata Hakim.

Hari itu juga, ketiga orang teman itu menuju ke alamat yang tertera di sebuah alat pelacak nomor telepon. Mereka menuju ke rumah mbak.

Sementara itu…

Nenek menjatuhkan popcornnya melihat suaminya sudah tergeletak di lantai. Panik, ia pun berteriak. Beberapa orang kemudian datang dan dokter segera memeriksa keadaan Kakek.

Nenek berusaha menghubungi Bagus meski sejak sedari tadi selalu gagal, “Ayolah, Gus. Nenek tahu kamu selalu sibuk. Tapi kali ini saja, nenek mohon.” kata Nenek sembari berjalan kesana-kemari saking resahnya.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s