Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Part 25(The Last)

Bagus terheran-heran melihat di layar ponselnya banyak sekali pesan dan panggilan masuk. Ia pun hendak membukanya, namun Aksa dan Hakim yang kompak menepuk pundak Bagus membuat Bagus terkesiap hingga menjatuhkan ponselnya. Bagus segera mengambil ponsel itu namun ponsel itu tidak dapat hidup lagi.

“Ayo, Gus. Nanti kita telat lho.” celetuk Aksa yang seolah tanpa merasa bersalah telah menjatuhkan ponsel Bagus.

✳✳✳

Dinginnya pagi telah terusir berkat kehadiran sinar matahari, sepasang kekasih itu tidak bermalas-malasan di rumah sekalipun tengah libur. Mereka lebih memilih untuk mengunjungi sawah-sawah milik mereka yang selalunya dititipkan kepada kedua orang tua mereka.

Ratih berjalan menuju ke saung setelah lelah bergelut dengan burung-burung yang mencuri padi di sawahnya. Sekalipun sudah dibuatkan orang-orangan sawah, burung-burung itu tetap saja mendekati sawah milik Ratih dan mencuri padi dari sana.
Ratih meninggalkan suaminya yang masih berdiri di tempat yang sama sembari melayangkan tangan dan sesekali mengendalikan orang-orangan sawah yang telah lebih dulu di pasang sebuah tali satu sama lain.

“Dasar keras kepala, sampai kapan ia bertahan seperti itu?” batin Ratih yang memperhatikan suaminya sambil melengos.

Sementara itu…

Mobil itu mulai memasuki jalan yang menanjak dan berbatu, pertanda mereka akan segera sampai di tempat tujuan. Bagus mencoba menyeka air mata yang mengalir meski air mata itu selalu lahir dan lahir kembali. Ia bahagia bisa mengetahui siapa dalang dari selaksa kekacauan dalam hidupnya, di sisi lain ia sangat menderita karena harus menangkap penjahat itu yang sudah dianggpnya seperti ibunya sendiri. Perasaannya bercampur aduk, selama ini ia memang bersua dengan kasus-kasus yang sulit namun kali ini ia berani bertaruh, inilah yang tersulit yang akan ia hadapi.

“Kamu gak apa-apa, Gus?” tanya Aksa yang khawatir pada temannya yang sejak tadi menangis.
Bagus menggeleng pelan, “Ingat ya, Gus. Apapun yang terjadi, kamu masih punya kita.” Hakim mencoba menghibur sembari tersenyum.
Bagus merangkul pundak kedua temannya, memandangnya bergantian lantas tersenyum. “Terima kasih.” ucapnya.

Perempuan bernama Ratih itu tengah beristirahat di saung di dekat sawahnya ketika ketiga orang polisi menghampirinya. Jantungnya berdegup kencang, dalam pikirannya terungkit kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukannya.

“Ibu.” gumam Bagus.
Mata Ratih langsung berkaca-kaca, “Apakah itu kamu,” Ratih segera bangkit, “Bagus?” tanyanya.
Bagus mengangguk, sementara Ratih menghambur. “Aku sangat merindukan kamu.” katanya.
“Saya juga.” aku Bagus jujur.

Aksa dan Hakim pergi setelah diminta oleh Bagus, sedangkan Bagus dan Ratih saling bertatap-tatapan.

“Kamu benar. Aku memang orang jahat. Aku pantas dihukum.” kata Ratih.
Kali ini mata Bagus yang berkaca-kaca, “Pekejaan ini ternyata benar-benar sangat sulit.” katanya sembari menyeka air mata yang jatuh dan mengalihkan pandangan pada hamparan sawah hijau nan luas.
“Maaf.” ucap Ratih sembari menunduk.
Bagus mendongak, ia memegang pundak Ratih. “Saya juga minta maaf.” katanya.
“Bolehkah aku memelukmu sebelum aku dibawa?” tanya Ratih.

Bagus mengangguk. Setelah diijinkan, Ratih memeluk Bagus dengan begitu eratnya. Ia tahu, luka dan dendam di hati Bagus itu masih ada.

“Ini dari kakek.” kata Nenek seraya menyerahkan sebuah pensil.
Dahi Bagus sontak mengernyit, “Kakek ngasih saya ini?” tanyanya sembari menghapus berpuluh-puluh air mata di wajahnya.
Nenek mengangguk, “Sebelum meninggal, Kakek menyuruh Nenek untuk mengantarkan ia ke minimarket. Dan Nenek terkejut, dia ternyata membeli sebuah pensil.” Nenek menjelaskan.
Air mata Bagus kembali mengalir, “Ternyata kakek gak pernah benar-benar membenci impian kamu, Gus. Cuma dia gak pernah mau menunjukan itu.” kata Nenek lagi.
“Saya janji, Kek. Saya janji akan menjalani impian Kakek ini dengan sepenuh hati.” kata Bagus dalam hati.
“Dan…” Bagus melihat pensil warna hijau itu, “terima kasih untuk pensilnya.” kali ini Bagus tersenyum.

Nenek memeluk Bagus, senja menampakkan keindahannya di ujung cakrawala. Menandakan bahwa Nenek dan Bagus sudah terlalu lama berdiri di depan makam Kakek. Bagus merasa terlahir kembali sekalipun ia berkali-kali kehilangan. Ini bukanlah akhirnya, justru dari sini segala sesuatu akan bermula.

Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s