Diposkan pada Cerbung

Bhayangkara : Epilog

“Itu kan masa lalu, Nek. Toh, sekarang dengan menjadi seorang polisi saya juga masih bisa menggambar kok.” jawab Bagus sembari melirik ke pensil hijaunya.
“Lalu, apakah nanti jika kau punya anak akan kamu wajibkan untuk menjadi polisi pula?” tanya Nenek.
Bagus menggeleng beberapa kali, “Tidak, Nek. Dia pasti punya mimpi sendiri dan biarlah dia mengejar mimpinya itu.” jawab Bagus.

Nenek tersenyum, di dalam hatinya ia merasa begitu lega.

“Karena dipaksa meraih mimpi yang bukan mimpi kita itu rasanya sakit.” kata Bagus.
Nenek terkekeh, “Ya sudah. Sekarang berangkatlah sana, sudah jam berapa ini? Nanti telat lagi,” kata nenek.
“Ya sudah, saya berangkat dulu.”
“Assalamualaikum?” ucap Bagus seraya mencium tangan neneknya.
“Waalaikumsalam.” jawab sang Nenek.
“Hati-hati di jalan!” teriak Nenek begitu melihat Bagus berlari menuruni tangga.
“Iya!” sahut Bagus.

Sebuah senyuman kembali terbit di wajah Nenek, meski kali ini dipadukan dengan air mata haru. Namun sesungguhnya dalam hatunya ia bersukacita.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s